Santri Zaman Now Wajib Tetap Menjaga Akhlak

oleh -
Santri Zaman Now Wajib Tetap Menjaga Akhlak Terpuji

SantriNow | Santri zaman now wajib tetap menjaga budi pekerti yang luhur, sopan kepada siapa pun. Karena akhlak yang mulia merupakan warisan dari para ulama salaf yang bersanad kepada para sahabat dan dari sahabat kepada Rasulullah saw. Jangan sampai santri yang hidup di zaman milenial seperti sekarang ini, melakukan hal-hal yang memalukan baik di dunia nyata maupun dunia maya.

Bukan hanya itu, kepribadian santri yang juga tidak boleh surut sedikitpun adalah kegigihannya dalam melestarikan warisan ulama terdahulu. Warisan tersebut berupa ide-ide fundamental berbagai persoalan umat yang tertuang ke dalam lembaran-lembaran kitab kuning. Santri harus menjadi pelopor dalam melestarikannya lewat gemar membaca karya ulama, mengamalkan ilmu yang didapat darinya, dan melanjutkan ide-ide yang tersirat di dalamnya.

Santri tidak perlu fundamentalis yang akhirnya malah beraliran mainstream, akan tetapi ia tetap harus bersandar pada pemikiran para ulama salaf. Dalam artian tetap melanjutkan tradisi ulama terdahulu yang bernilai baik. Utamanya yang sejalan atau masih relevan dengan kondisi kehidupan sekarang. Sekiranya dianggap kurang cocok dengan peradaban zaman, maka tentunya kita tidak boleh menutup mata pada hal baru yang lebih baik.

Baca juga: Tidak Berakhlak Sama Dengan Belum Mengerti Islam

Santri harus bijak dalam menyikapi perkembangan zaman. Santri tetap istiqomah berpegangan pada kaidah “Almuhafazhatu ‘ala qadim al-shalih wa al-akhzu bi al-jadid al-ashlah” (menjaga budaya lama yang masih relevan sembari menyesuaikan dengan budaya modern yang lebih baik)

“Kesopanan lebih tinggi nilainya daripada kecerdasan”. Kalimat sederhana yang menjadi motto pesantren di Indonesia harus tetap dipertahankan. Quote tersebut memiliki makna yang sangat dalam. Moral harus lebih dikedepankan daripada sekadar intelektual belaka.

Dalam keseharian masyarakat Madura, moral (baca akhlak) dikenal dengan istilah “tengka”. Tengka atau budi pekerti ini menjadi penilaian inti di tengah-tengah masyarakat. Betapapun tingginya kecerdasan yang dimiliki ketika tidak dihiasi dengan akhlakul karimah, maka akan terlihat ada yang kurang di mata masyarakat. Bahkan akan dinilai buruk dan tidak memiliki daya guna.

Santri dianggap alim saat ia memiliki keilmuan yang memadai dan berbudi pekerti baik. Santri dianggap hilm saat ia bisa memposisikan diri dengan baik di tengah-tengah masyarakat. Atribut kesantriannya tetap dibawa walau sudah tidak lagi menjadi santri aktif. Sarungan yang menjadi identitas kaum pesantren tidak mudah digantikan dengan yang lain. Kopiah tetap menjadi mahkota utama walau label santri alumni sudah tersemat padanya. Keilmuan yang dimiliki tidak menjadikannya buas dalam beragama, dalam artian gampang menyalahkan orang lain dan mendaku paling benar.

Baca juga: Ketika Adab Melambungkan Derajat Syaikhona Kholil Bangkalan

Berakhlak bukan hanya saat mondok. Bertata krama tidak hanya semasa menjadi santri. Bersopan santun tidak memiliki batas waktu dan tempat. Akhlakul karimah tetap harus menghiasi kepribadian santri dimanapun ia berada. Di mana saja.

Dengan populernya istilah generasi milenial, yang artinya memasukkan di dalamnya santri, tidak jadi alasan untuk meninggalkan tradisi ulama yang luhur seperti akhlak. Namun, itu justru menjadi motivasi untuk tetap istiqomah  merawatnya. Status santri berpendidikan tinggi bukan menjadi pendorong untuk bersifat amoral, bahkan binal. Lebih-lebih santri nusantara yang sangat menghargai adanya local wisdom (kearifan lokal).

Tidak Terbatas hanya Pada Guru

Akhlakul karimah menjadi titik tekan risalah kenabian Nabi Muhammad Saw. Beliau bersabda: “ Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak”. (HR. Ahmad no. 8952) Ulama’ sebagai pewaris para nabi dan santri sebagai abdi kiai senantiasa meneruskan risalah nabi dalam menyempurnakan akhlak ummat. Tentunya ia harus memulai dari dirinya sendiri terlebih dahulu.

Berperilaku sopan tidak terbatas pada orang tertentu. Bukan hanya orang tua yang wajib dihormati. Bukan pula hanya guru yang harus dihormati. Siapa saja yang menjadi lawan bicaranya harus diperlakukan dengan baik dan santun. Entah itu lebih tua, lebih muda, sejajar, berakal, tidak berakal, bermoral, amoral, dan lain sebagainya. kita menghormat bukan untuk dihormat kembali, akan tetapi sebagai bentuk  penghambaan kepada Allah Swt. yang memerintahkan manusia untuk saling menghormati. Hanya saja ketika manusia berbuat baik pada orang lain secara tidak sadar ia telah berbuat baik pada dirinya sendiri.

Oleh karena itu, santri tetap harus mempertahankan kepribadian santri disandang. Kepribadian yang kental dengan nilai-nilai religious.  Santri senantiasa memperhatikan tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-hari. Lebih-lebih ketika posisi yang dimiliki sangat urgen di tengah-tengah masyarakat. “Lisanul Hal Afshohu Min Lisanul Maqol” (dakwah dengan tindakan lebih efektif daripada dakwah dengan perkataan). Akan tetapi, meski dirinya sudah dianggap oleh banyak, tetap harus rendah hati. Tidak boleh merasa mengklaim yang paling benar dan paling baik dalam segala hal.

Intinya santri tidak mengenal ruang dan waktu untuk berakhlak yang baik. Di manapun saja berada, santri tetap harus menjunjung tinggi nilai-nilai kepesantrenan. (*)

Tulisan ini dinukil dari bincang syariah