Pola Pengajaran dan Pendidikan Syaikh Nawawi Banten

oleh -
Pola Pengajaran dan Pendidikan Syaikh Nawawi Banten
Gambar: NUonlie

SantriNow | Berdasarkan beberapa tulisan karya beliau, KH Nawawi Banten atau yang masyhur dengan sebutan Syaikh Nawawi al-Jawi al-Bantani memiliki pola pengajaran dan penulisan yang dinamis dan mudah dipahami. Hal itu terungkap dalam beberapa karya masyhurnya. Sebagaimana yang diungkap oleh para muridnya.

“Karya-karya Syaikh Nawawi Albanteni dipandang oleh banyak muridnya sebagai sebuah karya pengetahuan yang ringan dan mudah dimengerti, khususnya dalam hal tafsir dan hukum. Ide yang tertuang dalam tafsir karangan Syaikh Nawawi bukan sekedar menjelaskan bagaimana cara menulis dan cara membaca tetapi juga cara mengartikan sebuah teks dengan benar, mudah dimengerti dan sampai saat ini menjadi mata pelajaran di banyak pondok pesantren, madrasah dan perguruan tinggi di benua Timur Tengah, Asia dan Indonesia”

Berikut beberapa contoh pola penafsiran Syaikh Nawawi tentang kata ta’lim dalam Alquran.

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Ya Tuhan Kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-aya t Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab (Alquran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana (Al-Baqarah: 129)

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ

Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. (Al-Baqarah: 151)

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata (Al-Jumuah: 2)

وَيُعَلِّمُهُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ

Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil. (Ali Imran: 48)

Dari keempat aya di atas Syaikh Nawawi menafsirkan bahwa membacakan dalam ayat ini bukan hanya sebatas membacakan saja, melainkan membacakan dengan mengarahkan manusia kepada iman. Sedangkan makna mengajarkan (ta’lim)Al-kitab, Nawawi memberikan makna, yaitu mengajarkan dan memahamkan nilai-nilai dari ajaran tersebut serta bagaimana mengimplementasikan ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Syaikh Nawawi, proses ta’lim dalam Islam mencakup transfer (pemindahan) ilmu, nilai, metode dan trasformasi (hal-hal yang diterima peserta didik itu menjadi miliknya dan dapat merubah serta membentuk pribadinya).

Karena dalam mengajarkan tilawah Alquran dan sunnah tidak terbatas pada bahwa nabi Muhammad SAW menyuruh umatnya untuk sekedar membaca Alquran, akan tetapi juga mengajari mereka kandungannya yakni perintah dan larangan, mengimani kebenarannya dan mengingatkannya dengan menunjukkan berbagai bukti-bukti kebesaran Allah. Cara membaca seperti ini tentu tidak sekedar dapat membaca Alquran dengan tajwid, melainkan membaca dengan perenungan dan berisikan pemahaman, pengertian, tanggung jawab dan penanaman sifat amanah.

Dari sini penulis berapologi bahwa pola atau metode pengajaran yang diterapkan oleh Syaikh Nawawi kepada murid-muridnya sama dengan cara beliau ketika menulis sebuah karya, yaitu mendalam namun tetap mudah dipahami.

Baca juga: Syaikh Nawawi Banten dan Semangat Pendidikan Pesantren

Kaitannya dengan tarbiyah (pendidikan)

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرً

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (Al-Isra’: 24)

قَالَ أَلَمْ نُرَبِّكَ فِينَا وَلِيدًا وَلَبِثْتَ فِينَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِينَ

Fir’aun menjawab: “Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu. (As-Syu’araa’: 18)

Tentang pendidikan, Syaikh Nawawi lebih memilih dua ayat di atas sebagai pintu masuk untuk menjelaskan tentang pola asuh anak kecil dan remaja. Di ayat yang pertama, Syaikh Nawawi ingin menunjukkan pentingnya seorang anak hormat dan mendoakan kedua orang tuanya karena telah memebesarkannya. Ini artinya, kewajiban orang tua kepada anak adalah membesarkan dan mengarahkan sebagaimana ayat yang kedua.

Pada ayat yang kedua mengingatkan tentang kewajiban orang tua untuk mendidik anaknya. Syaikh Nawawi menafsiri bahwa Nabi Musa diasuh oleh Fir’aun sejak kecil oleh keluarga Fir’aun sampai umur 30 tahun, dan ada yang berkata 15 tahun. Ini artinya keluarga Fir’aun berhasil membesarkan Nabi Musa serta mendidiknya walau setelah dewasa mejadi musuh karena perbedaan jalan hidup.

Tentang ta’dib (moral)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا، اي ياايهاالذين امنوا علموا انفسكم ونساءكم واولادكم الخير ادبوهم بان تئمرهم بالخير وتنهون عن الشر تقوهم بذلك النار

Wahai orang-orang yang beriman, ‘allimuu ajarilah dirimu dan istrimu serta anakmu untuk berbuat kebaikan, dan Addibuu (didiklah istrimu serta anakmu dan setiap orang yang masuk dalam tanggunganmu tentang kebagusan akhlaq), dengan cara menyuruh mereka untuk berbuat kebaikan dan melarang mereka untuk berbuat kejahatan, hal itulah yang menyelamatkan kamu dari api neraka.

Dari ketiga pembahasan di atas, Syaikh Nawawi telah menunjukkan pentingnya pola transformasi ilmu (ta’lim) dari seorang guru kepada murid dengan cara yang mudah sehingga membentuk prilaku murid. Serta pentingnya pola asuh yang benar (pendidikan) dari orang tua kepada anak di dalam keluarga serta mengarahkan anak untuk berbuat baik, jujur dan penuh tanggung jawab. (*)

Penulis: Muweil