Mondok, Aku Takut

oleh -
Mondok, Aku Takut
Saya ini tetangga masjid, tapi sholat jarang di masjid. Malah selfie di depan masjid.

Malang – Tahun 2000-an. Ingin ku lompat dari bis itu, bis kecil jurusan Gadang-Dampit. Lalu aku berlari sekencang mungkin untuk kembali ke rumah. Tapi aku tak mau membuat sedih abahku yang sedang duduk di sampingku.

Bis semakin mendekat ke desa Bululawang. Hatiku semakin tak karuan. Andai ada Jin yang tiba-tiba muncul dan memberikan satu permintaan padaku, aku jawab dengan tegas: Aku ingin pulang Jin!

Tapi, aku berada di bis ini atas keinginanku. Dengan percaya diri, aku berkata kepada Abah; Kalau hanya mondok di dalam kota Probolinggo, mending saya tidak usah mondok!

Esoknya, usai mendaftarkan aku di pondok dan madrasah Aliyah, abah pulang. Beliau tak banyak berpesan, hanya satu kalimat yang selalu terngiang: Kalau belum Alim (Pintar Ilmu Agama), jangan pulang! Lalu.

Pulang sekolah di hari pertama, aku kehilangan Abah yang biasa menemaniku belajar. Aku kehilangan Umi yang biasanya menyiapkan makan, minum, pakaian. Aku kehilangan teman-teman sepermainan. TV yang biasa kutonton, dilarang. Stres! Berat! Mau telpon ke abah via wartel, aku takut abah marah. Saat itulah, saya merasakan arti seorang sahabat dan kiai. Ada santri lama yang menemaniku setiap saat. Ia banyak bercerita dan menghibur. Aku semakin kerasan di pondok, saat kiai mengenalku bila berpapasan; ini yang anak Probolinggo ya? Alhamdulillah. Suaranya menyejukkan hati.

Baca juga: Ayo Mondok ke Pesantren Sekarang Juga, Jadi Santri Itu Keren!

Aku dipaksa menjadi pintar ilmu agama, sebab abah memang memiliki Yayasan pendidikan, pesantren dan madrasah. Sebagai anak laki satu-satunya, saya dipaksa untuk bisa menggantikan abah kelak. Walau di kemudian hari, takdir berkata lain.

Maka… Tak ada hari tanpa kitab kuning. Pelajaran sekolah, tak begitu aku perhatikan. Yang penting lulus. Kamus Munawwir sampai lecet (jelek karena sering dibuka). Di luar jam ngaji dengan ustadz, secara otodidak saya belajar kitab yang tak dikaji, lalu saya minta ustadz untuk menyimak. Sorogan, itu istilah pesantrennya. Dan menurut saya, sorogan adalah metode paling ampuh agar santri bisa membaca kitab kuning gundulan.

Apakah semua yang mondok mesti pintar ilmu Agama? Ya belum tentu juga. Tergantung anaknya. Tapi, minimal pesantren itu mengajarkan sebuah tradisi (kesepakatan) yang baik; bahwa mencuri itu dosa, bahwa berpacaran itu dosa, apalagi berzina, bahwa minuman keras itu dosa, apapun namamu, bahwa membentak orang tua itu dosa. Ada banyak kesepakatan yang kemudian menjadi tradisi pesantren dan dipraktekkan oleh semua santri.

Itu tujuan minimal. Tujuan maksimalnya, melestarikan tradisi kealiman ulama dan orang tua kita. Sebab, Islam juga butuh orang-orang Alim.

Saya teringat dawuh Syeikh M. Sa’id Ramdlan Al-Buthi dalam Kitab Syarh Hikamnya:

وقال لي -ولم أكن قد تجاوزت الخامسة عشر بعد-: لو علمت أن الطريق الى الله يكمن في كسح القمامة لجعلت منك زبالا، ولكني نظرت فوجدت ان الطريق الموصل الى الله انما يكون في دراسة دينه وتعلم شرعه، فاسلك اذن هذا الطريق!

Saat belum genap berusia 15 tahun, ayahku berkata padaku: Kalau saja aku tahu bahwa jalan menuju Allah tersimpan di pekerjaan membersihkan sampah, aku pasti menjadikan kamu sebagai petugas pembersih sampah. Tapi -setelah merenung- aku yakin bahwa jalan menuju Allah hanya bisa ditempuh dengan belajar agama dan syari’at-Nya (mondok), maka tempuhlah jalan ini!

(Syarh wa Tahlil Hikam, Juz 1, hal. 49).

Ayah… Ibu…

Yang sedang mengantarkan anaknya mondok, jangan biarkan manja anak-anakmu! Tak perlu kau telpon terus untuk menanyakan kabar mereka! Tak perlu kau sering kunjungi! Biarkan mereka tumbuh dewasa dan tidak manja! Di pesantren, sudah ada pengurus yang mengurusi makan, mandi, tidur, dan belajar mereka.

Semakin sering kalian menelpon, semakin manja mereka. Semakin sering kalian mengunjungi, semakin manja mereka!

Helmi Nawali

Santri Pesantren Annur 2 Malang.