Mari Menjadi Santri Millennial Tangguh

oleh -
Yuk Jadi Santri Millennial di Era Siber!

SantriNow | Jadi santri jangan minder! Dunia ini hanya melihat orang-orang pemberani dan percaya diri. Orang yang meyakini kemampuan dirinya dan berani berperan dalam dunia tanpa batas. Bukan orang yang hanya memilih berselimut di balik nostalgia peradaban lampau. Tak dikenal dan akan tersisih oleh zaman. Ini era generasi millennial di abad digital. Siapa berani  bersikap dan ambil peran, dia lah yang akan menahkodai kemana masa depan manusia hendak berlabuh. Santri adalah insan berbudi dan berpekerti luhur yang harus menjadi bagian generasi millennial dan siap melaksanakan perintah Allah dalam QS. Ali Imran: 104. Jadilah kalian bagian dari umat yang mengkampanyekan kesejahteraan, menyerukan kebajikan, dan mencegah kemungkaran. Karena yang demikian citra para pemenang.

Era siber telah membentuk lahirnya generasi baru di dunia baru. Sejak era 80-an hingga 20-an, anak-anak yang terlahir di kurun waktu itu disebut dengan generasi millennial. Meskipun istilah ini juga masih belum tunggal dalam pengertian. Tapi, apapun sebutannya, esensi yang utama. Millennial berarti suatu yang khas, berbeda dari keumuman. Tunas-tunas pendobrak yang siap merubah dunia. Di kala pesimis menghantui masa depan manusia oleh sebab krisis multidimensional, William Strauss dan Neil Howe memberi angin segar dalam Millennials Rising: The Next Great Generation yang terbit tahun 2000. Meskipun ada banyak kritik terhadap buku itu yang tidak akan diulas di sini. Latar yang digunakan Strauss dan Howe Amerika. Singkatnya, dalam buku itu diungkap adanya harapan baru bagi negara Amerika karena kemunculan generasi yang disebut millennial dengan karakternya yang khusus.

Sebutan millennial menjadi populer dan dibincangkan setelah Strauss dan Howe mengenalkan istilah itu. Kemudian muncul ragam istilah seperti generation y, generation z, generation me, dan generation we. Intinya sama, bahwa era kemajuan teknologi membawa perubahan signifikan pada ragam dimensi generasi yang lahir di dalamnya. Banyak yang berasumsi, teknologi berdampak negatif. Tapi juga ada harapan, teknologi akan menciptakan suatu cakrawala baru dari masa depan manusia. Era dimana hanya yang berani dan optimis akan memegang kendali atasnya. Kecanggihan teknologi bagi kelompok ini adalah peluang sekaligus kemudahan. Bukan sebaliknya. Teknologi justru membelenggu kreativitas dan ide-ide besar. Dunia ibarat dalam genggaman tangan. Demikian yang diyakini generasi millennial. Sikap berani, optimis dan kreatif yang muncul. Bukan malah menjadi generasi yang terjerembab dalam kemanjaan semu teknologi. Memang patut diakui, fakta belum matangnya literasi menjadi penyebab dampak negatif internet, seperti yang tengah terjadi di Indonesia.

Lalu bagaimana dengan santri? Kelompok sarungan yang kadung dicap kolot dan tradisional. Apakah harus bertahan dalam stigma itu? Tentu, tidak. Santri justru memiliki modal besar untuk menjadi generasi millennial. Mandiri, cakap, kritis, inovatif dan terbuka adalah karakter yang sudah dibiasakan pada diri santri. Bagaimana tidak. Kehidupan di pesantren sudah sejak dulu mewariskan suatu edukasi berorientasi karakter yang luhur dan kokoh. Seorang santri sejak tinggal di pesantren harus hidup tanpa kemanjaan dari orang tua. Melakukan apapun harus sendiri. Santri biasa berkerjasama, bersikap terbuka dan kritis. Kurikulum pesantren demikian yang membentuk pribadi yang siap menyongsong kehidupan terbuka dengan integritas yang tak mudah goyah. Bukan hanya intelektualitas santri saja yang ditempa, spiritualitas dan moralitasnya pun dibentuk sepanjang waktu di pesantren. Namun, modalitas yang telah disebut kurang berarti jika daya saing tidak diperhatikan oleh subjek pesantren.

Di zaman antah berantah (baca: siber) ini persaingan menjadi niscaya. Siapa pun saling bersaing secara terbuka. Pemenangnya tentulah siapa yang bisa membaca peluang, memberdayakan segala potensi dan menguasai teknologi. Satu sisi dari teknologi yang penting dari dunia baru ini adalah informasi. Ilmu bagian dari informasi yang juga menciptakan teknologi. Informasi dan ilmu tentu tidak muncul dari ruang hampa, ada produsennya, manusia. Santri bagian dari manusia yang juga harus terlibat dalam memproduksi dan menjadi sumber informasi dan ilmu. Inilah pentingnya berdaya saing. Santri di abad siber punya kewajiban menjadi punggawa zaman yang langgas dan trengginas. Bukan malah gagap dan minder terhadap tantangan yang dihadapi. Dunia ini perlu diwarnai dengan corak yang padu berciri Islam yang progresif, humanis dan terbuka.

Perlu diingat, peristiwa yang mencekam dunia global, terorisme, disebabkan oleh kurangnya alternatif informasi -karena dominasi single story- bagi publik bagaimana sebenarnya memahami agama. Dampaknya, jika informasi tentang agama kurang benar, kemungkinan besar sikap beragama juga akan salah. Pada akhirnya lahirlah terorisme yang berbasis agama. Di sini, media termasuk internet penting dikuasai oleh santri untuk memproduksi informasi sebagai pembanding atau bahkan serangan balik (counterattact) terhadap faham yang melenceng dari benar (heterodoks). Tentu dengan catatan santri harus memiliki daya saing yang handal termasuk to date dalam bidang teknologi informasi. Mengingat persaingan yang kian hari semakin ketat dan selektif, menuntut santri harus juga update perkembangan terkini yang terjadi di seluruh belahan dunia. Dunia tanpa batas (borderless world) kini sedang dialami dan dihadapi oleh santri.

Baca juga: Santri Perempuan Pesantren dan Kenyataan Hidup Milenial Zaman Now