Mari Bicara Tentang Esensi Cinta

oleh -
Mari Bicara Tentang Esensi Cinta

Yaman – Berbicara masalah cinta ini merupakan pembicaraan yang sangat menyenangkan dan tak ada habis-habisnya, apalagi jika berkaitan dengan cinta manusia terhadap sesama. Merupakan sebuah tradisi para penyair dan sastrawan. Cinta adalah sumber ilham bagi para pujangga, pemanis obrolan dan percakapan, serta penyatu hubungan antara filosof dan ilmuwan.

Cinta memiliki peranan penting dalam kehidupan; baik individu maupun masyarakat. Ia memliki kekuatan pemersatu dan pengikat. Sejarah cinta tidak akan pernah usang. Hari-hari percintaan tidak akan pernah terlupakan. Berapa  banyak jiwa yang putus asa dalam hidup kemudian kembali lagi karena cinta dan berapa banyak jiwa yang hidup namun seakan-akan mati juga karena cinta. Cinta seakan sebuah misteri bagi setiap orang yang merasakannya. Hanya mereka orang-orang  yang tau dan paham akan hakikat cinta yang bisa merasakan kenikmatan cinta itu.

Sebelum berbicara lebih jauh, barangkali kita perlu tau apa definisi dari cinta itu sendiri. Mengutip perkataan Dr. Said Ramadhan Al-Buthi dalam kitabnya Al-Hubb fil Qur’an Wa Daurul Hubb fi Hayatil ‘Insaan,Beliau mengatakan “Cinta merupakan kebergantungan hati terhadap sesuatu sehingga menyebabkan kenyamanan di hati saat berada di dekatnya atau perasaan gelisah saat berada jauh darinya”. Definisi ini berlaku dalam konteks cinta manusia kepada sesama. Berbeda halnya persoalan cinta Allah kepada makhluk-Nya. Sebab, tidak ada kata ‘nyaman’ ataupun ‘gelisah’ yang disandingkan kepada-Nya. Allah Maha suci dari semua itu. Lebih jelasnya, Allah mencintai makhluk-Nya tanpa sebab.

Dewasa ini, banyak orang yang masih terjebak dalam memaknai arti cinta. Pemaknaan cinta yang mereka tau, sebatas cinta terhadap sesama manusia. Atau lebih sempitnya lagi, cinta terhadap lawan jenis. Seperti cerita anak muda di zaman sekarang, kisah percintaan dua sejoli antara lelaki dan perempuan yang mengaku saling jatuh cinta, menjalin hubungan dengan cara berpacaran, kemudian berbuat semaunya tanpa menghiraukan ‘sebab-akibat’ yang akan terjadi. Semua perilaku yang jelas melanggar hukum & syariat itu mereka katakan atas nama cinta.

Saya jadi bertanya pada  diri sendiri, apakah dia memang benar melakukannya karena atas nama kesucian cinta, atau hanya  pelampiasan hawa nafsunya? Kesucian cinta menjadi ternodai dengan tingkah para pengagung cinta palsu itu. Kalau dia tau cinta, yang mana itu sebuah anugerah yang Allah titipkan khusus kepada makhluk-Nya yang bernama manusia, tentu ia tidak akan melanggar hukum dan syariat yang jelas dilarang oleh agama. Memilih jalan pernikahan ketimbang berzina. Karena buah dari cinta, sejatinya selalu menggiring pemiliknya pada jalan yang diridhoi Allah Swt. Bukankah pernikahan adalah tujuan akhir dari adanya hubungan saling mencintai?

Saya tidak menyalahkan mereka yang jatuh cinta. Namun alangkah baiknya jika mereka tau terlebih dahulu apa ‘arti cinta’ itu sebenarnya dan bagaimana cara mengimplementasikan perasaan cinta itu dengan benar; tanpa melanggar hukum dan syariat, bahkan bisa berbuah pahala. Mengantarkan kita pada memperoleh Ridlo-Nya, juga kebahagiaan di dunia sampai di akhirat.

Alqur’an ketika berbicara cinta manusia kepada manusia lainnya, hanya bersifat “mewanti-wanti” agar cintanya kepada yang lain tidak menyaingi cintanya kepada Allah Swt. Dan ini yang saya maksud dengan ‘arti cinta’ sesungguhnya pada pembahasan ini. Di dalam alqur’an juga dijelaskan bagaimana menyerukan agar manusia mencintai sesuatu apapun itu semata-mata sebagai bentuk dari cintanya kepada Allah Swt. Coba perhatikan beberapa penjelasan Alqur’an tentang cinta manusia kepada sesama manusia ini:

“Dan diantara manusia ada yang menyembah Tuhan selain Allah sebagai tandingan; yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat dzalim itu melihat, ketika mereka melihat azab (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat berat azab-Nya (niscaya mereka menyesal).” (QS Al-Baqarah [2]:165).

Mengutip penjelasan makna dari Dr.Said Ramadhan Al-Buthi, bahwa tafsir kata Andada pada ayat diatas yang berarti tandingan-tandingan mencakup segala sesuatu yang dijadikan sebagai sekutu Allah, termasuk dalam hal ini adalah hal cinta.

Perhatikan juga firman Allah Swt:

Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (QS Ali-Imaran [3]:14).

Sudah menjadi ketetapan Allah atas setiap manusia berupa takdir ketertarikan jiwanya kepada wanita, anak-anak, anggota keluarga, masyarakat, harta, perniagaan, tempat tinggal, dan lain-lain. Pada ayat lain, Allah juga mengingatkan bahwa cinta manusia itu cenderung berlebihan, menyetarakan cinta kepada makhluk dengan cinta kepada Allah Swt. Dan ini salah satu bentuk lain dari syirik karena menduakan sang pencipta.

Alhasil, kesimpulan dari pemaparan diatas bisa kita simpulkan begini;

Bahwa jatuh cinta itu hal yang wajar. Itu sudah menjadi watak dasar pada diri setiap manusia. Ketika pada akhirnya hati kita merasakan ketertarikan kepada sesuatu atau yang sering kita sebut dengan jatuh cinta; entah itu kepada manusia ataupun dunia, Maka satu hal yang perlu kita ingat, jangan sampai cinta kita kepada selain-Nya jauh lebih besar daripada cinta kita kepada Allah Swt. Karena hanya DIA-lah Dzat yang Maha Hak untuk dicinta. Adanya perasaan cinta kita kepada selain-Nya, itu tak lain juga karena Allah yang telah menganugerahkan rasa cinta itu pada diri kita, sehingga kita merasakan nikmat jatuh cinta.

Wahai para pengagung cinta suci,

Jatuh cintalah, karena itu bukan suatu kesalahan. Namun, jadikan cintamu itu semata-mata sebagai wujud cintamu kepada Allah Azza Wa Jalla. (*)

Tentang Penulis: Fahri Rizal, Santri Alumnus Madrasah Aliyah program Keagamaan PP. Al-hikmah Benda ini lahir di kota Pemalang Jawa Tengah. Saat ini ia tercatat sebagai mahasiswa Indonesia S1  Fakultas Syariah di Imam Shafei College, Kota Mukalla, Provinsi Hadhramaut, Republik Yaman.