[Gus Baha] Jihad Setelah Zaman Rasul Semuanya Itu Rumit

oleh -
[Gus Baha] Perang Setelah Zaman Rasul Semuanya Itu Rumit

SantriNow | Ada seorang santri Madura bertanya kepada Gus Bahauddin Nursalim tentang jihad (perang). Ternyata penjelasan Gus Baha cukup menarik dan bikin para santri paham tentang jihad (perang), kapan yang perlu dilakukan. Pertanyaan ini terjadi pada acara seminar di Pesantren Sidogiri Pasuruan Jawa Timur.  

Santri bertanya: Gus, ini bagaimana kita mau berperang? Kalau kita diam tidak perang, seolah orang Islam kesannya pengecut tidak berani melawan orang kafir. Tapi kalau kita mau berjihad, saya bisa ditangkap sama Pak Jokowi.” Tanyanya, sambil dapat aplos yang meriah dari para santri yang hadir.

Gus Baha menjawabnya: Kang, perang berani mati di zaman modern ini konteksnya apa? Kalau dulu zaman Rasul, perangnya jelas. Yang dilawan Abu Jahal dan Abu Lahab. Mereka jelas-jelas salah dan Rasul benar.

Kalau sekarang ini kan ndak jelas. Potensinya sama. Sama-sama benar dan sama-sama salah. Kamu ini mukminnya abal-abal. Musuhnya juga mukminnya abal-abal. Yang perang takbir. Yang diperangi juga takbir.

Memang dalam Islam itu boleh membunuh kalau nyawa kita terancam. Artinya kalau tidak membunuh, kita akan dibunuh. Lah, ini kita mau perang atas nama apa? Atas nama harga diri?

Di zaman modern ini hendaknya kita tidak boleh terlalu percayadiri apalagi mengambil sikap ekstrim. Kalau di zaman Nabi dulu, sikap yang harus diambil ya ekstrim. Karena yang diperangi jelas-jelas orang yang mau ngajak perang. Jadi jihad zaman Nabi itu jelas. Nabi pasti benar. Dan lawannya pasti salah. Justru kalau tidak mau ikut perang malah menjadi munafik.

Baca juga: Keilmuan Gus Baha’ Santri Mbah Moen Zubair Sarang Diakui Prof. Quraish Shihab

Di zaman akhir ini yang berlaku, ra’yunaas shawab yahtamilul khata’, wara’yuka lkhata’ yahtamilus shawab. “Pendapat kita benar tapi mungkin salah, pendapatmu juga benar tapi mungkin salah.”

Karena samar-samar maka hukumnya juga tidak bisa jelas. Untuk itu dalam kehidupan sehari-hari, kita pakai hukum sosial yang berlaku. Ada orang baik ya dibaiki. Kalau ada yang berbuat buruk ya tak perlu diperangi. Menggerutu seperlunya karena kecewa tidak apa-apa. Tidak perlu perang. Karena zaman Rasul kondisinya berbeda dengan sekarang.

Perang setelah zaman Rasul semuanya itu rumit. Perang antar sahabat mengandung potensi kebenaran di antara keduanya. Misalnya perang antara Sayyidina Ali dan Muawiyah. Itu sekelas sahabat Nabi. Bagaimana dengan sekarang? Apa ada yang sekelas sahabat Nabi sehingga percayadiri mengaku paling benar sehingga mengambil jalan ekstrim seperti perang?

Tulisan ini disadur dari Rizal Mubit di akun halaman facebook. Mari belajar tentang hakikat jihad dengan benar agar tidak salah paham (*)