di , , ,

Dibalik Budaya Santri Membalik Sandal Kiai

Dibalik Budaya Santri Membalik Sandal Kiai

SantriNow | Saat seorang kiai melepas sandal-nya karena hendak memasuki tempat suci, seperti langgar, masjid dan sejenisnya maka santri yang melihatnya langsung bergegas tanpa diperintah untuk sekedar merapikan sandal kiainya dengan cara membalik-nya.

Mungkin bagi orang yang tidak pernah mondok, budaya santri membalik sandal kiai ini dinilai berlebihan, atau malah dianggap tindakan luar biasa yang hanya dimiliki seorang santri pesantren. Entahlah, tapi yang pasti budaya santri membalik sandal gurunya sudah dilakukan sejak zaman Rasulullah hingga hari ini.

Konon, pada zaman Rasulullah Saw, ada bocah berumur belasan tahun selalu datang lebih awal. Sehingga pada saat Nabi datang dan masuk mesjid, bocah tersebut langsung bergegas merapikan dengan cara membalik posisi sandal Rasulullah. Hal itu ia lakukan setiap hari, sehingga Rasulullah saw penasaran dan ingin mengetahui siapa yang melakukannya.

Karenanya, di lain waktu, ketika Rasulullah masuk Mesjid, beliau sengaja bersembunyi demi mengetahui siapa orang yang selalu merapikan dan mengubah letak sandalnya. Saat itulah beliau paham kalau yang merapikan sandalnya adalah Salman. Nabi pun mendoakan bocah tersebut agar kelak jadi orang yang alim fiqh. Dan hal itu benar, Salman kemudian jadi soerang ulama terkenal dalam bidang Fiqh.

Baca juga: Santri Zaman Now Wajib Tetap Menjaga Akhlak

Di masa Kholifah, dua putra raja Harun al-Rasyid beranama al-Amin dan al-Ma’mun, konon juga sering saling rebutan meraih sandal guru al-Kisa’i, agar dapat memakaikan sandal itu pada gurunya. Maka berkatalah sang guru kepada keduanya: “Masing-masing memegang satu”. Imam Kisaiy adalah seorang ulama yang hafal Alquran, guru besar bahasa Arab.

Mungkin itu yang menjadi dasar kenapa pada abad 20-an ada dua ulama Indonesia yang dikenal alim allamah juga doyan rebutan menata sandal gurunya saat masih jadi santri. keudanya adalah KH Hasyim Asy’ari pendiri jam’iyah Nahdlatul Ulama dan KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah. Hal itu dilakukan saat keduanya sama-sama jadi santri Kyai Sholeh Darat Semarang.

Bahkan bagi Syaikhona Kholil Bangkalan beradab tinggi terhadap ilmu dan ulama adalah harga mati, sebab itulah meski ulama itu adalah murid hasil didikan beliau sendiri.

Dikisahkan oleh Kh. Ahmad Ghazali Muhammad dalam kitabnya “Tuhfah Arrawi”. Sebelum wafatnya, Syaikhona pernah berkunjung ke Jombang untuk mengikuti pengajian Hadits yang diasuh oleh santrinya sendiri yaitu Hadratus Syaikh Kh. Hasyim Asyari di Tebuireng. Tak hanya itu, Syaikhona bahkan mengambil lalu membalik sandal Kiai Hasyim sebelum beliau turun dari musholla layaknya seorang santri yang mengharap berkah dari gurunya.

Baca juga: Ketika Adab Melambungkan Derajat Syaikhona Kholil Bangkalan

Intinya, santri harus menciptakan hubungan batin yang kuat antara dirinya dengan kyainya. Karena menuruut ulama, lebih dari separuh ilmu didapat karena kuatnya hubungan emosional antara santri dan gurunya.

قال بعضهم: سبعون فى مائة أنّ العلم ينال بسبب قوة الرابطة بين المريد وشيخه

Bahwa tujuh puluh persen ilmu itu didapat karena kuatnya hubungan batin antara santri dan kiai-nya.

Kemudian, santri memiliki keyakinan kuat bahwa berkah guru itu didapat dengan cara hormat dan patuh kepadanya. Santri menyebutnya sebagai upaya ngalap berkah.

التبرُّكُ بالنَّعلين من الوليِّ أفضلُ منه بغيرهما لأنهما يَحمِلانِ الجُثَّةَ كلَّها . الفوائد المختارة :٥

Ngalap berkah melalui sandal seorang wali lebih utama dari pada dengan selainnya. Karena sandal digunakan untuk membawa jasad seutuhnya.

Dan alhamdulillah tradisi merapikan sandal kiai dengan cara membaliknya masih terus dilakukan para santri kepada gurunya di mana pun berada. Semoga berkah (*)

Penulis: Moh Iksan

Editor: Samsul

BAGAIMANA MENURUT KAMU?