Cangkolang

oleh -
Cangkolang

Situbondo – Detik-detik menunggu tamu pertamanya. Badriah masih sulit menerima kenyataan; mengapa dirinya bisa berada di tempat kotor ini?

Baru setelah menengok ke belakang. Perempuan cantik itu sadar. Kenyataan amat pahit ini bukan terjadi begitu saja. Ini adalah buah kelakuan buruknya di masa lalu.

“Tapi, kenapa harus berujung di sini, ya Allah?” batinnya mengeluh. Matanya mengalirkan tangis penyesalan. Kenangannya terbang ke alam masa lalu. Kehidupannya semasa dulu di pesantren.

Di bagian lain dari kamar itu. Muncul dari balik temaramnya lampu. Sepasang mata nakal yang tertuju padanya. Menyiratkan kehendak nafsu birahi yang ingin segera ditunaikan.

Tiba-tiba saja pipi Badriah bersemu merah. Matanya melotot. Seakan bola matanya mau meloncat keluar. Dia tersentak, sangat kaget. Jiwanya memberontak. Namun raganya seolah lemas. Tak berdaya menolak sebuah sergapan penuh nafsu. Badriah mencoba teriak dan menyadari; mulutnya kaku, lidahnya kelu!

Dulu Badriah mengira keputusannya berhenti mondok sudah tepat. Demi mewujudkan mimpi jadi model di Ibu Kota. Akhirnya Badriah bersedia menerima ajakan menggiurkan Tante Jeni. Nama aslinya Nurjanah. Seorang janda beranak satu di kampungnya dan telah lama merantau di Jakarta.

Ini adalah kali ke sekian Badriah, sosok santriwati teladan dengan segudang prestasi, kembali mengenang dan menyesali keputusannya itu.

Ketika itu Badriah telah bertekad bulat menyampaikan niatnya berhenti mondok. Acara penutupan kegiatan asrama jelang imtihandianggap momen yang tepat. Semua berkumpul. Bahkan, teman-temannya yang terbiasa malas pulang asrama. Semuanya hadir.

“Kamu pasti bercanda!”

Badriah kaget. Tapi melihat senda tawa juga senyum menyungging di wajah teman-teman satu asramanya. Disusul senyum serupa dari sahabatnya, Hamidah. Dan terakhir tawa renyah ummi asramanya, Ustazah Aisyah. Membuat Badriah menyimpulkan: mereka serius ketika mengira dirinya bercanda.

“Badriah serius!” tandasnya sambil menebak-nebak; apa lucunya jika dirinya berhenti mondok demi menjemput mimpi jadi seorang model terkenal?

Lalu suasana sekonyong-konyong berubah hening. Semua yang di ruangan itu menatap Badriah.

“Tidak ada yang lucu,” suara Ustazah Aisyah memecah keheningan. “Ummi  kira tadi kamu cuma becanda. Ummi enggak nyangka jika ternyata kamu begitu ambisius untuk mewujudkan impianmu jadi model. Sampai harus mengorbankan pendidikanmu di pesantren ini yang belum tuntas.”

Badriah tersenyum. Sedikit lega. Dia merasa ucapan Ustazah Aisyah itu pertanda baik. Berarti Ustazah Aisyah bersedia menemani dirinya sowan ke Bu Nyai, minta izin buat rekom. Urusan beres, pikirnya.

Ternyata perkiraan Badriah tidak sepenuhnya benar. Sebab setelah itu, seluruh pasang mata di ruangan  itu kembali lekat menatapnya. Seperti tatapan mata penuh selidik para petinggi Keamanan Pesantren sewaktu sidang tahkim terhadap santri pelanggar berat yang duduk di kursi pesakitan.

“Tapi Badriah tidak serius dengan keinginan untuk berhenti mondok sekarang, kan?” Hamidah mengambil inisiatif bicara. Masih seperti biasa. Dengan nada lembut penuh kasih. Pelan.

“Maksudku, keinginan Badriah untuk berhenti mondok itu sah-sah saja. Itu haknya Badriah. Tapi tidak harus sekarang, tha?”

Badriah tidak mengerti. “Kenapa?”

Karena kamu adalah teman kami yang paling baik, sering traktir makan, loyal ngasi utangan, suka berbagi, dan tak pernah pelit. Sebab kamu paling berprestasi dibanding kami. Mulai dari menjuarai kontes Sayyidatun Nisa’sampai lomba baca kitab kuning. Kamu juga jawara debat bahasa Arab dan langganan terbaik pertama lomba pidato bahasa Inggris serta juara MTQ tingkat provinsi. Suaramu bagus. Jago pula kau bela diri. Oh Badriah, sahabat kami tercinta, tanggung banget.

Tinggal setahun lagi kita akan kelulusan SMA. Kamu pasti bisa jadi model terkenal. Tapi itu nanti. Sekarang, kita selesaikan saja dulu pendidikan di pesantren ini. Bareng-bareng.

Badriah memandangi mereka satu per satu. Orang-orang yang selama ini telah dianggapnya seperti keluarga; Ustazah Aisyah dan teman-temannya satu asrama. Terutama Hamidah, sahabatnya. Badriah takjub dengan uraian panjang mereka atas satu kata ‘kenapa’ yang dia lontarkan tadi.

“Badriah cuma mau segera jadi model. Itulah obsesi Badriah sejak kecil. Mumpung lagi ada kesempatan. Lagian, kesempatan ini tidak mungkin datang dua kali,” sahutnya parau dengan air mata mengambang di kelopak.

Baca juga: Contoh Cerpen Santri Tentang Hidup Baru di Pesantren