Sebait Sholawat Sang Kyai

oleh -
Sebait Sholawat Sang Kyai

Karya: Tegar Herlambang

“Terik matahari yang menyinari dunia ini, akan menjadi semangat  selama mawar masih mekar. Gemericik hujan bagai kehidupan yang akan kita lalui, pelangi yang indah bagaikan hari yang telah terlewati dan akan menjadi panutan di kemudian hari ”

***

Dia adalah sosok anak laki-laki yang dilahirkan dari keluarga yang tak mampu, belum sampai membahagiakan orang tuanya, mereka telah meninggal dunia karena melawan sekumpulan orang kejam yang membawa sebuah misi kejahatan. Dia bagai bunga bangkai yang tak bisa berbuat apa-apa dan dia sering di hina oleh teman sebayanya, karena dia telah menjadi yatim piatu yang  tak mempunyai orang tua dan tak bisa membaca serta menghafal Al-Qur’an. Dia malu di perlakukan seperti itu, akhirnya dia berjalan keluar kampung untuk mecari sebuah pondok pesantren. Setelah lama mencari, dia pun menemui pondok pesantren untuk memperdalam ilmu agamanya.

Pondok Pesantren Roudlotun Nasyiin “RONAS” sebutan familiar dimata masyarakat luar di daerahnya. Pondok tradisional yang penuh dengan kesederhanaan didalamnya. Pondok itu peninggalan  KH.Arief Hasan, seorang pejuang Islam kala masa penjajahan ratusan tahun lalu. Alasan utamanya untuk memilih pondok itu karena dia ingin menjalankan wasiat yang diberikan orang tuanya kepadanya sebelum meninggal dunia.

Saat dia melewati gerbang masuk, ada seorang santri laki-laki yang menghampirinya.

“Assalamualaikum, anda siapa ya, kok belum pernah lihat di pesantren ini?” Sapa santri itu,

“Waalaikumsalam, saya memang bukan santri sini,saya datang untuk memperdalam ilmu agama” Jawab dia dengan mata sayup,

“Ohh, jadi begitu ya, kalau memang kamu mau mondok, mari ikuti saya untuk menghadap kepada sang  Kyai” Lanjut santri itu,

“Iya saya mau” Jawab dia sambil mengikuti santri itu,

Setelah berjalan lama menuju ruangan Kyai,mereka pun sampai di depan ruangan Kyiai. Jantungnya berdebar kencang dan keringat mengucur di tubuhnya.

“Assalamualaikum…” Ucap santri itu sambil mengetuk pintu ruangan Kyai itu,

“Waalaikumsalam..” Jawab sang Kyai dari dalam sambil membukakan pintu,

“Ada apa? Kok tumben sore-sore begini manggil mbah” ( Panggilan Akrab untuk Romo Kyai )  Kata sang Kyai.

“Ini mbah ada yang mau mondok disini” Jawab santri itu dengan sopan,

“Jadi begitu, silahkan masuk dulu” Lanjut Kyai sambil senyum.

Dia bertambah gemetaran setelah masuk ruangan itu, baunya wangi minyak kasturi  khas seorang Kyai. Selanjutnya dia dipersilahkan untuk duduk.

“Apakah kamu yang mau mondok disini?” Ucap Kyai itu dengan nada lembut,

“Iya Yai, saya mau mondok untuk mendalami ilmu agama saya” Jawab dia dengan menundukan kepala,

“Apa alasan  kamu ingin  mendalami ilmu agama?” Lanjut sang Kyai,

“Saya ingin menjadi muslim yang benar-benar mengerti tentang agama !  Yai” Jawabnya,

“Jadi begitu ya, baiklah kamu saya terima menjadi santri disini” Sahut Kyai dengan tersenyum,

“Alhamdulillah, terima kasih Yai” Jawab dia sambil mencium tangan sang Kyai,

“Sama-sama nak” Kata Kyai sambil mengusap rambut dia,

Baca juga: Cuci Muka dengan Air Liur

***