Politisi Itu Seperti Penanam Padi

oleh -173 views
Politisi Itu Seperti Orang Bercocok Tanam
Gambar: KH Zuhri Zaini

Syaeful Bahar

Dosen Ilmu Politik at UINSA
Dosen Ilmu Politik di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA)
Syaeful Bahar

SantriNow | Saya pernah nulis tentang definisi politik. Mulai dari pendapat yang melihat politik sebagai sesuatu yang positif, mulia, seperti pendapat Aristoteles yang mengatakan bahwa politik itu bertujuan baik dan mulia. Dengan politik manusia akan membentuk sebuah model masyarakat yang baik dan teratur, begitu kata Aristoteles. Gus Dur juga mengatakan hal yang senada, beliau dawuh bahwa politik itu sesuatu yang mulia, karena dengan politik nasib orang banyak akan ditentukan. Karena itu, bagi beliau, politik bukan hanya sekedar kekuasaan namun lebih dari pada itu, yaitu tentang kemanusiaan.

Tapi juga ada yang mengatakan bahwa politik itu tak baik, kotor, hanya sekadar akal-akalan untuk tujuan duniawi dan pragmatis. Misal, pendapat Samuel Johnson. Ia menyatakan bahwa politik itu tidak lebih dari sebuah cara untuk mencapai kekuasaan duniawi semata, atau yang lebih ngeri-ngeri sedap adalah pernyataan Henry Adams yang menyatakan politik hanya sebuah pengorganisasian kebencian secara sistematis. Hehehe…. mirip dengan fenomena tarung bebas antara kubu 01 dan 02 dalam Pilpres sekarang ini. Berikut juga yang sangat terkenal, konsepsi Harold Lasswell, yang mengatakan politik sebagai who gets what? when? How? Sangat pragmatis.

Saya tidak mau membahas itu lagi, tapi saya ingin mendiskusikan apa yang disampaikan oleh kiai saya, KH. Zuhri Zaini, Pengasuh PP. Nurul Jadid.

Dalam suatu kesempatan, beliau berkata, bahwa menjadi politisi, jadi pejabat, jadi bupati (karena saat itu beliau sedang membahas ponaannya yang sedang menjabat bupati), itu sama seperti orang yang sedang manjek (menanam padi ke sawah). Pasti kotor, pasti berlumuran lumpur. Tidak mungkin, becocok, tanpa lumpur, bercocok tanam pasti kotor. Karena itu, setelah selesai bercocok, bergegas lah mandi, membersihkan diri untuk kembali bersih dan suci.

Perumpamaan seorang politisi, atau seorang pemimpin di jabatan publik seperti orang menanam benih ini sangat keren, mengena, tepat dan jitu. Kenapa? kata beliau, tanpa tukang tanam, tanpa petani yang turun ke sawah, berlumuran lumpur, manusia akan terancam kelaparan. Tugas petani adalah menanam, turun ke sawah, kotor, berlumuran lumpur, tapi itu mulia, karena dengan begitu, dia sedang menyiapkan hajat orang banyak, hajat dasar orang banyak. Wah keren kan…..luar biasa bukan?!

Tugas politisi adalah membuat kebijakan untuk hajat orang banyak, meskipun dunia politik kotor, banyak godaan yang menyertai tugasnya, kalau tidak kuat dia akan terjerumus, masuk dalam lumpur hidup yang dapat menyedot dirinya, dan tak akan memberinya kesempatan untuk kembali ke daratan.

Tapi pekerjaan sebagai politisi harus ada, harus ada yang menjalankan, demi apa? Demi hajat orang banyak. Demi keteraturan, demi kedamaian, demi keselarasan dll. Semua itu tugas politisi. Dengan kewenangan untuk membuat UU, peraturan, para politisi telah membantu mengatur kehidupan menjadi lebih baik, lebih teratur.

Karena itu, beliau, KH. Zuhri Zaini, menyarankan setelah bercocok tanam, segera bersesuci, mandi dan membuang kotoran-kotoran untuk menunaikan sholat duhur. Bukankah memang begitu keseharian tukang tanam padi, setelah bercocok, mereka bergegas ke sungai dekat sawah, mandi, membersihkan diri, ganti baju dan segera menunaikan sholat duhur.

Baca juga: NU; Pilar Demokrasi Lokal