Passion: Haruskah Kita Mengikutinya?

oleh -84 views
Passion: Haruskah Kita Mengikutinya?

Afi Nihaya

Maha Siswa at Indonesia
Penulis Handal yang pernah menggemparkan jagad Indonesia
Afi Nihaya

SantriNow | Menurut para motivator, kita harus menuruti passion dalam mengambil keputusan-keputusan dalam hidup. Mulai dari jurusan kuliah, pekerjaan pertama, hingga karir kedepannya.

Lalu, passion sendiri itu apa?

“Passion itu sesuatu yang kita suka lakukan, yang bikin kita gak capek untuk melakukan itu terus-menerus,” kata Tipang di vlogcast Arief Muhammad yang berjudul “Ikutin Passion atau Kebutuhan Hidup?”

Meski passion bisa menjadi salah satu pertimbangan, namun ini juga bisa menyesatkan.

Tak ada studi atau pekerjaan yang bisa membuat kita bahagia selamanya. It’s called “work” for a reason.

Passion memberi ilusi bahwa pekerjaan yang “sempurna” itu ada. Kita menghabiskan seumur hidup untuk lompat-lompat mengejarnya. Pekerjaan yang kalau kata Arief Muhammad, tidak capek atau bosan-bosan kita lakukan.

Padahal, melakukan sesuatu terus-menerus sampai tak bisa bosan dan capek adalah hal yang mustahil.

Passionku adalah menulis. Aku telah menulis di medsos sejak 2016, sekitar 3 tahun, dari kelas 2 SMA, hingga setengah juta orang memfollow akun pribadiku. Aku suka menulis. Tiada hari tanpa merangkai kata. Tapi kadang aku begitu lelah dan tak bersemangat melakukannya.

Passionku adalah belajar Psikologi. Tapi bohong jika aku bilang aku tidak muak membaca dan mengerjakan tugas kuliahnya terus-menerus. Di malam hari ketika harus begadang sambil berusaha menelan materi dan menyelesaikan paper yang tak kupahami, aku bertanya-tanya kemana perginya passionku dulu?

Apakah aku telah mengambil keputusan yang salah? Kalau ini memang passionku, kenapa aku capek enggan, dan tak termotivasi?

Baca juga: Belajar Bangkit dari Yesus Kristus

Tapi itulah poinnya: passion itu menipu.

Passion adalah sesuatu yang para motivator jual agar tiket seminarnya laku.

Passion bukan bahan bakar abadi untuk membuat seseorang termotivasi.

Passion bisa menyesatkan. Sebab, ketika pekerjaan tak lagi menyenangkan, kita menyebutnya bukan passion. Ketika pekerjaan tak lagi memberi kita kenyamanan, kita merasa salah jalan.

Kobaran semangat dari passion bisa padam kapan saja. Passion memang membuatmu memulai, tapi apa yang bisa membuatmu bertahan?

Jeff Goins, penulis buku The Art Of Work, menyebutnya sebagai “calling” atau panggilan hidup.

“Calling” menjawab pertanyaan mendasar: apa sebenarnya tujuan hidupku? Apa yang harus kulakukan?

Menemukan “calling” memang susah. Ada yang menemukannya sejak muda, ada yang baru menemukannya beberapa waktu sebelum meninggal dunia.

Kadang tetap, kadang berubah-ubah.

Tak apa-apa.

Yang penting kita tahu, bahwa passion tidak bisa diandalkan. Passion bukan modal satu-satunya.

Passion membuat kita egois dan subjektif. Kalau tidak menguntungkan, berarti bukan passion. Kalau membosankan, berarti bukan passion. Kalau sulit, berarti bukan passion.

Sebaliknya, “calling” tidak egois. Ia memikirkan pembaca, klien, pasien, pelanggan, murid, produsen, distributor, dan siapapun yang terlibat dalam perjalanan kita. “Calling” memedulikan sesama.

Saat ini yang membuatku bertahan adalah karena aku ingin jadi seorang profesional dalam bidang ilmu Psikologi, memanfaatkannya untuk membantu diri sendiri sekaligus orang lain– melalui tulisan yang kubagikan. Ternyata, cocok dan terbukti. Ribuan orang mempercayaiku dan banyak yang merasa terbantu, walaupun cuma baru bisa lewat dunia maya.

Hal itu membuatku terus bergerak walau bosan.

Membuatku bertahan walau kadang prosesnya menyakitkan.

Penulis: Afi Nihaya Faradisa

Editor: Muweil