Orang Baik Keluarlah

oleh -
Orang Baik Keluarlah

[starbox id = “Syaiful”]

SantriNow | Menjelang Ramadhan, ngopi pagi ala Mak Yam terasa semakin nikmat. Beberapa hari lagi, ngopi pindah jam tayang, hehe, kita pindah jam 20.00 wib, ba’da taraweh. Ngopi dan diskusi di tengah tadarus al Qur’an. Begitulah kebiasaan dan tradisi kami di Kampung Haji. Kampung halaman kami.

“Untuk Ramadhan, sebaiknya kita bagaimana ji? tidak ke mana-mana, di rumah terus, ibadah atau tetap beraktivitas di luar rumah?”, tanya Cak Mamat memecah kesunyian pagi ini. “Maksud pertanyaan sampean apa Cak?”, tanya Mas David. “Maksudku, untuk meraih pahala yang berlipat di Ramadhan, apa yg harus kita lalukan, beribadah terus menerus di dalam rumah atau kita beraktivitas seperti biasa, Vid”, tegas Cak Mamad.

“Menurutku beraktivitas seperti biasa cak, kan juga dihitung pahala”, lanjut David. “Tapi di luar kan banyak maksiat, banyak godaan, bisa hilang pahala puasa kita, tersisa lapar dan dahaga saja”, debat Cak Mamat.

Ada kemajuan. Begitu kesimpulan saya tentang Cak Mamat hahaha….Cak Mamat pesat, melesat, seperti Visi Pemkab Bondowoso. Banyak kemajuan, dia sudah bisa melontarkan ide-idenya, idenya juga up to date, bahkan bisa mendebat Mas David yang sarjana itu.

Baca juga: Musibah dan Derita Bukti Tuhan Sayang Hambanya

Senang saya, harusnya memang begitu akibat dari diskusi, mencerdaskan, saling memberi, produktif, memberi solusi, karena diskusinya melibatkan hati, bukan karena emosi, bukan saling mencaci dan menghujati, seperti yang sekarang lagi tayang di tivi-tivi. hehehe

“Saya kira sama-sama benar. Ramadhan tidak ke mana-mana, baik, itu ikhtiar agar kita tetap fokus ibadah, keluar beraktivitas juga baik, selama aktivitas itu adalah hal positif. Tujuan utama Ramadhan adalah mendidik hawa nafsu kita, begitu kata Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddinnya. Di manapun kita, di rumah atau di luar rumah, selama kita bisa menjamin bahwa kita tetap berada di koridor mendidik hawa nafsu, maka itu baik. Bahkan, bagi mereka yg sudah memiliki kemampuan mengendalikan nafsu menjadi nafsul mutmainnah, nafsu yg tenang, jiwa yg senantiasa terkoneksi dengan Allah, beraktivitas di luar rumah jauh lebih baik. Dia bisa menebar kebaikan, dan mencegah kemungkaran karena sebab berada di luar rumah”, Jelasku.

“Apalagi, kita memang ditakdir sebagai makhluk sosial. Makhluk yang membutuhkan sosialisasi dengan manusia lain. Karena itu, kata Kiai Zaini Mun’im, Pendiri PP. Nurul Jadid, salah satu hal yang wajib santri perhatikan adalah kesadaran bermasyarakat. Kesadaran bermasyarakat ini menjadi salah satu dari lima kesadaran yg Kiai Zaini wajibkan ke santri2 Nurul Jadid. Panca kesadaran tersebut adalah, kesadaran beragama, kesadaran berilmu, kesadaran berorganisasi, kesadaran bermasyarakat dan kesadaran berbangsa dan bernegara. Jadi, kesadaran bermasyarakat, beraktivitas di luar rumah adalah konsekwensi dari perjuangan kita mendidik masyarakat”, tambah Zaini. Pendapat Zaini ini menjadi main point tentang kewajiban sosial ummat Islam, yaitu sebagai khalifatullah fil ard, sebagaimana salah satu tujuan penciptaan manusia.

“Tapi, kita yg memilih keluar rumah, tetap wajib waspada. Kita tetap harus muraqabah, looking out, eling lan waspada, jangan sampai terbuai oleh kenikmatan sementara dari maksiat-maksiat yg bertebaran di luar rumah. Hati kita harus nyambung, terkoneksi pada Allah, pada tujuan penghambaan kita. Jangan sampai melenceng”, imbuhku.

“Jika tidak keluar rumah, maka yang akan menguasai dunia luar adalah mereka-mereka yg bersekutu dengan setan. Mereka yang merasa bebas berbuat apa saja, karena orang-orang baik tak ada yg peduli. Orang baik hanya sibuk memutar tasbih, dan memperpanjang sujud tanpa peduli dengan apa yg terjadi di luar rumahnya. karena itu, kewajiban kita adalah melawan para sekutu setan itu, dengan cara keluar rumah. Kita tebarkan kebaikan, kita lawan kemungkaran. Kita tidak boleh diam dengan kejahatan yg merajalela. Meskipun, cara melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar itu harus sesuai dengan cara-cara Rasulullah. Bukan dengan cara setan, hehe. Syetan milineal itu cerdas, kalau setan jaman old menjauh dari Al Quran, sekarang tidak, mulut setan millennial faseh membaca al Quran, menipu dan menjerumuskan dengan dalil-dalil agama yang mempesona, padahal tujuan utamanya adalah untuk menutupi tujuan jahatnya”, imbuh Zaini.

Baca juga: Politisi Itu Seperti Penanam Padi

“Apa yang disampaikan Zaini ini persis sama dengan yang disampaikan Buya Syafii Maarif, mantan ketua Muhammadiyah. Kata beliau, dunia modern, terutama di dunia maya, medsos, kemungkaran sudah menguasai. Hoax, ujaran kebencian, saling fitnah, saling ancam, menjual ayat al Qur an untuk kepentingan kekuasaan, para ustad tampil berjubah tapi perangainya jauh dari kesantunan dan keteduhan, sungguh ironis. Maka, menghadapi keadaan yang tidak menggembirakan ini, kata Buya Syafii, tak ada pilihan lain, kecuali, orang-orang waras, orang yg mengerti agama dengan baik, harus keluar rumah, berbuat, menyelamatkan dunia”, tandasku.

Persekutuan orang-orang jahat itu harus dilawan oleh persekutuan orang-orang baik, begitu kira-kira pesan dawuh Buya Syafii yang dapat digarisbawahi.

Saya terkagum-kagum dengan sosok Buya Syafii Maarif. Meskipun beliau adalah seorang profesor, populer, banyak pengikutnya, mantan Ketua Umum PP. Muhammadiyah, luas ilmunya, namun tetap bersahaja dan santun. Kira-kira begitulah orang yang memiliki hati bersih dan berilmu, santun dan sejuk.

Kata kiai saya, KH. Zuhri Zaini, seseorang itu dapat dibaca dari prilakunya, sebab prilaku itu adalah cerminan apa yg difikirkannnya, dan apa yg difikirkannya adalah cerminan apa isi hatinya.

Jika prilakunya baik, insyaallah akal dan hatinya juga BAIK.

Penulis: Syaeful Bahar

Editor: Muweil