Tahlilan dan Bid’ah

oleh -
Tahlilan dan Bid’ah

Dengan perlahan ku datangi orang tuaku. Terlihat ayahku menunggu sambil sedekap, sedang ibuku sibuk menatap smart phone-nya. Kusalami tangan dinginnya yang habis diterpa angin. “Kenapa ke sini yah, bu?” tanyaku mengawali sambil mempersiapkan berbagai alasan agar tidak diusir karena telah mengikuti tahlilan.

“Tadi ayah mendapat laporan lagi dari teman ayah di grup WA kalau kamu sedang mengikuti tahlilan lagi.” Aku hanya diam melihat ayah yang seperti melunak. “ternyata teman ayah itu salah. Tapi, katanya kamu mau mengikuti acara ulang tahun temanmu. Sekarang kok malah khataman?”

“Khataman?” tanyaku kebingungan.

“Iya, Khataman Alquran. Itu di dalam rumah lagi baca surat Yasin kan?” aku baru paham, tahlilan yang baru sampai pembacaan surat Yasin dikira ayahku sebagai khataman Alquran. Karena ayahku terlihat melunak, aku pikir ini kesempatan untuk menjelaskan apa itu tahlilan.

“Yah, apa aku boleh cerita?” tanyaku memulai strategi.

“Ngapain? Tapi, boleh lah silahkan.”

“Dahulu, sahabat Abu bakar kalau membaca Alquran dengan lirih sekali. Sesuai dengan sifatnya yang lemah lembut. Nabi pun menanyakannya kenapa membaca dengan lirih. Abu Bakar menjawab, ya rasulallah kalau saya membaca dengan lirih saya bisa menghayati isi Alquran yang ku baca. Mendengarnya, nabi mengiyakan.”

“iya, terus…”

“Ada juga sahabat Umar bin Khattab yang membaca Alquran dengan suara lantang. Saat nabi bertanya mengenai alasannya, Umar menjawab jika membaca dengan pelan tidak bisa bersemangat. Nabi pun mengiyakannya.” Sampai di sini, pembacaan surat Yasin di dalam rumah telah selesai. Berlanjut dengan pemabacaan surat Al-Ikhlas dan seterusnya. Ayahku mulai curiga kalau di dalam tidak sedang melakukan khataman.

Perdebatan kecil-kecilan terjadi