di , ,

Tahlilan dan Bid’ah

Inilah yang membuatku terus berdoa agar kedua orang tuaku sadar. Entah kapan itu akan terjadi. Aku yakin Allah pasti akan mengabulkannya. Aku tak bisa menyalahkan mereka berdua, sebab mereka termasuk orang yang belum tahu. Persis seperti yang dikatakan baginda rasulullah SAW saat diganggu orang Quraisy.

Orang tuaku sangat melarangku ikut acara tahlilan. Padahal merekalah yang telah memondokkanku di pesantren. Mereka berharap agar aku bisa peham betul Alquran dan hadits. Sebenarnya, saat aku mulai mondok pemikiranku dan dan orang tuaku sering bersebrangan. Aku berideologi Ahlussunnah wal jama’ah an-nahdliyyah yang disetir ormas NU. Sedangkan orang tuaku lebih condong ke pemikiran wahabi karena terpengaruh grup WA yang bermotto kembali ke Qur’an dan hadis.

Tak behenti sampai mau tidak mengaggapku sebagai anak, kedua orang tuaku bahkan tega mengancam akan mengusirku dari rumah jika masih bersikeras ikut kegiatan yang menurutnya bid’ah itu. Sekalipun aku anak semata wayangnya. Ini yang membuatku takut untuk tahlilan lagi. Setiap aku diajak temanku tahlilan, aku selalu menolak dengan halus dan memberi alasan. Dan itu semua berhasil tanpa ada yang curiga. Benar memang kata orang jawa, sak ombo-ombone alas sek omboan alasan (seluas-luasnya alas, masih luasan alasan).

Hingga suatu saat, aku diajak si Amir untuk menghadiri acara ulang tahunnya. Acaranya diadakan saat malam hari. Karena Cuma acara ulang tahun aku pun mengiyakan dan orang tuaku pasti mengizinkanku untuk menghadirinya.

Sebelum meminta izin, tempat ku lihat otot tangan ayahku yang kekar bekas latihan kerasnya di militer dulu. Terbayang bagaimana sebulan lalu aku terkena hantaman dari tangannya itu. Membuat bulu kudukku berdiri. Langkah kakiku ragu-ragu. Dan saat ia melihatku, kutelan ludah tanda sedang tegang.

Baca juga: Selembar Kerudung dan Senandung Cadar dalam Mata Lelaki Cina

Dia pun mencari alasan

BAGAIMANA MENURUT KAMU?