di , ,

Tahlilan dan Bid’ah

Sebulan yang lalu, aku pulang ke tempat tinggalku dengan membawa ‘berkat’ pemberian dari temanku yang mengadakan tahlilan empat puluh hari wafatnya guruku. Saat masuk rumah, orang tuaku telah duduk menunggu kedatanganku dengan wajah tidak seperti biasanya. Langsung saja, saat aku masuk ruang tengah, mereka berdua marah besar. Karena mereka mendapat laporan dari teman grup what’s app, yang mereka sendiri tak tahu ujung hidungnya.

Dari dulu, orang tuaku tidak pernah mengizinkanku untuk sekedar ikut tahlilan (tradisi warga NU), sekalipun itu di kampung sebelah, bahkan di rumah. Pokoknya dilarang tahlilan. Tak bisa aku hitung berapa kali dilarang olehnya. Sebanyak itu pula aku terkena marah karena kepergok mengikuti tahlilan bersama di masjid atau di mana pun itu. Dan setelah aku mengikuti tahlilan empat puluh hari meninggalnya guruku itu, orang tuaku marah besar.

Ayahku yang tinggi besar itu langsung menghajar wajahku. “Dari mana kamu?” bentaknya. Bila aku tidak menjawabnya ayahku yang pensiunan tentara itu akan terus menghajarku habis-habisan sampai aku mengaku. Aku yang tahu wataknya seperti itu langsung saja menjawabnya, “Dari tahlilan di rumah anak guruku.” “Ngapain kamu ke sana ikut-ikutan tahlilan? Itu bid’ah. Nabi gak pernah melakukannya,” sanggah ayahku.

“Tapi yah…”

“Gak usah tapi-tapian. Pokoknya kalau sampai kamu tahlilan lagi aku tak akan sudi memanggilmu anak lagi.” Begitulah puncak amarah ayahku. Sedang ibuku berada di belakangnya dengan tatapan wajah tak kalah menakutkan. Ini yang selalu ku sesalkan, orang tuaku tak pernah memberiku kesempatan untuk menjelaskan bagaimana prosesi tahlilan itu. Mereka hanya tahu kalau tahlilan itu bid’ah dari teman satu grupnya , yang menamai grup tersebut dengan embel-embel “Pecinta Al qur’an dan Hadits”.

Baca juga: Dua Punggung Penunda Kebahagiaan

Hidupnya tertekan

BAGAIMANA MENURUT KAMU?