Selembar Kerudung dan Senandung Cadar dalam Mata Lelaki Cina

oleh -
Selembar Kerudung dan Senandung Cadar dalam Mata Lelaki Cina
Gambar: ilustrasi

Tuan Liang tampak terdiam di sebuah kursi singgasananya. Sebuah ketukan terdengar. “Masuk!..” . Terdengar suara pintu berderit. Ia memutar pandangannya ke arah pintu. “Para tamu undangan sudah datang tuan”

“Baiklah, saya akan segera kesana”. Tuan Liang tampak membenarkan arlojinya. Ia segera melangkahkan batang kakinya menuju acara peresmian tokonya dengan tenang. Langkahnya terhenti. Seorang tamu undangan lelaki tampak menarik cadar seorang tamu perempuan. Krashh!!... Mulai kacau. Caci maki terus bersabda di setiap mulut antah berantah. Teriakan bersahut sahutan bagaikan riuh gemuruh. Beberapa lelaki tampak menodongkan senjata kepada lawannya.

Dorr!!..Dorr!!..

Tempias darah memercik. Bau anyir menyeruak dimana mana. Tuan Liang tampak menutup sebilah kelopak penglihatannya. Krakk!!… Bunyi kain cadar telah tersobek egoisme. Bagai remah Tuan Liang membelalakkan matanya kuat-kuat. Nestapa berkemelut di hatinya. Ia segera pergi menuju kotak sesembahnya. Ia tampak mengucap permintaan demi permintaan. Prang!!…. Suara gaduh di luar kotak sesembahnya memecah kekhusyukannya. Hatinya hancur bagai remah yang tak bertuah.

“Tuhanku.. Bagaimana ini?..”. Asap masih mengepul dan mencuat di udara. Berulangkali batang-batang merah nyala itu masih saja menunduk dan menengadah demi memohon. “Tuhan bagaimana dengan ini??..”. ia terbatuk-batuk sebab asap dupanya yang semakin menyala. Membara. Tuhan marah padanya. Kelopak matanya tampak mengeluarkan bulir-bulir  bening dengan derasnya. Bahkan membanjiri seluruh batang tubuhnya.

“Tuhan bagaimanaaaaa?!!!!!!…..”. Batang merah nyala membakar kehidupan mereka dengan kejam. Tuhan marah.

Lelaki cina itu semakin cemas. Mengapa mereka yang hanya berbeda cara menutup kepala saja harus berseberangan padahal satu golongan. Apakah iman yang semakin dalam malah menebarkan pertengkaran sampai banjir darah. Lelaki cina itu semakin cemas apakah ia harus tetap menjual kain kepada siapapun? Kisah ini kukisahkan kepadamu sebentuk kegelisahanku  kepada semesta, kepada kehidupan kita atau barangkali juga kepada segala air mata.

Jember, 6 Maret 2019

Biodata Penulis

Penulis adalah siswa MA Unggulan Nuris kelas X IPA B. Kelahiran Jember, 14 Juli 2003 pencinta sastra yang gemar membaca novel karya Habiburrahman El Shirazy. Berharap bisa berdakwah melalui pena dengan puisi, cerpen, dan novel.