Selembar Kerudung dan Senandung Cadar dalam Mata Lelaki Cina

oleh -
Selembar Kerudung dan Senandung Cadar dalam Mata Lelaki Cina
Gambar: ilustrasi

Jalan kota tampak lengang seiring panas mendera kota Kediri. Pepohonan tampak berbaris tegap menghadap jalan. Sebuah mobil Alphard putih menghentikan laju rodanya di depan sebuah pasar. Terlihat hiruk pikuk. Seorang lelaki berjubah putih keluar dari mobil. Sepotong perbincangan tampak terjalin. Dengan sumringah sang pedagang jalanan menjawab untaian pertanyaan. Lelaki tinggi itu segera melanjutkan penjelajahannya di kota antah berantah.  Roda berpacu menelusuri jalan aspal yang tak terlalu berpenghuni. Pandangannya tampak mengawasi setiap papan penunjuk jalan. Melampaui setiap batas logistika yang pernah ia sabdakan kepada umatnya. Persepsi yang pernah ia koarkan tampak mendengung di telinganya. Berulang-ulang. Suara rem tampak sedikit mendecit di halaman depan sebuah toko kain. Lelaki berjenggot pirang itu tampak turun dari kendaraannya.

Klining!…. Suara lonceng berdenting tatkala lelaki itu membuka pintu toko kain yang cukup megah tersebut.

“Selamat pagi, ada yang bisa Wo bantu?”.

“Saya ingin membeli kain hitam untuk cadar ”. Tanpa pikir panjang Jianheeng tampak segera mencarikan kain yang diinginkan sang pelanggan.

Baca juga: Tuhan, Aku Bukan Teroris

Kain kerudung