Selembar Kerudung dan Senandung Cadar dalam Mata Lelaki Cina

oleh -
Selembar Kerudung dan Senandung Cadar dalam Mata Lelaki Cina
Gambar: ilustrasi

Ting tong!!!... Dentang waktu bergemuruh. Menghempaskannya di setiap daun pendengaran. Lelaki berkulit putih masih tercekat likat. Pita suaranya masih tak bersua. Seusai beberapa ketukan jarum jam, ia membuka kelopak matanya. Ia segera meletakkan batang merah nyala dengan sedemikian hati-hati. Langkahnya berpaling. Ia menutup pintu kotak sesembahnya. Batang kakinya tampak menepuk pualam perlahan. Sekilas tempias cahaya menghempas tubuh jangkungnya.

Tik-tok-tik-tok…. Jarum jam terus berpacu melewati dimensi waktu. Mengikuti alur yang teratur. Sang penenun tampak begitu khusyuk mengencani tuhannya. “Tuhanku.. anugerahkan kemudahan kepadaku untuk menekuni usahaku. Berikan kekekalan panji-panji yang terdapat dalam diri ini.”

Asap dupa masih mengepul. Bertebaran di antara angin yang tak bersinergi. Udara di sekitar sang penenun tampak tak berkutik. Cukup sembap, namun menyejukkan. Seusai menyelesaikan ritual sesembahnya, ia segera menyiapkan kain dagangannya  dan membuka pintu toko kainnya. “Aku yang akan memulai, dan keturunanku adalah penerusku yang tak akan tergerus”. Sabda hatinya. Beberapa saat setelah ia membuka tokonya, seorang lelaki datang. Kedatangannya diambut oleh senyum ramah sang penenun. Liangyi Fengyin.

Baca juga: Da’i Keliling

Kain cadar