Santri Itu Begini, Bukan Begitu

oleh -
Santri Itu Begini, Bukan Begitu
Gambar: ilustrasi

Cerpen santri berjudul Santri Itu Begini, Bukan Begitu ini mengisahkan tentang seorang siswi di suatu lembaga formal di bawah naungan yayasan pesantren.

Kring…!!!

Suara bel menandakan akan dimulainya acara apel pagi dan doa bersama. Di lapangan Madrasah Aliyah Al-Ikhlas kini mulai ramai oleh siswa dan siswi yang berdatangan. Seluruh asatidz sudah berkumpul di lapangan dan segera memulai rutinitas tersebut. Selepas apel, para siswa dan siswi bergantian untuk bersalaman dengan asatidz lalu menuju kelas masing-masing. Keadaan pun kembali normal seperti biasanya.

*****

Terlihat gadis yang sedang mencari ruang kepala sekolah guna mengkonfirmasi kelas barunya. Gadis itu bernama Kayla. Ia adalah anak baru, pindahan dari SMA Islam Terpadu. Kayla sempat menjadi sorotan saat berjalan di koridor sekolah. Memang, gaya berpakaiannya sedikit berbeda dengan para siswi MA Al-Ikhlas. Kerudung yang sangat lebar berpadu dengan baju yang sedikit panjang 3 cm di bawah lutut. Sebenarnya dia risih jika diamati seperti itu, namun Kayla mencoba mengabaikannya.

Entah berapa lama gadis itu mengitari madrasah. Belum juga ia temukan ruang kepala sekolah. Tiba-tiba, dia melihat seorang gadis tergopoh-gopoh masuk ke kamar mandi. Akhirnya, Kayla memutuskan untuk menunggunya keluar dari toilet sambil memainkan smartphone. Selang beberapa menit, gadis itu muncul dengan ekspresi kaget. Kayla segera mematikan smartphonenya dan segera menyapa si gadis.

“Hai, Assalamu’alaikum.” sapa Kayla dengan tersenyum.

“A…Hai. Wa’alaikumussalam. Siapa ya?”

“Oh ya, kenalin nama saya Kayla, anak baru di sini. Boleh saya minta tolong?” pinta Kayla seraya mengulurkan tangan kanannya yang segera disambut oleh gadis tersebut.

“Anak baru ya. Pantesan nggak pernah lihat. Mm.. Namaku Zahra. Mau minta tolong apa?” tanya gadis yang bernama Zahra itu dengan penasaran.

“Saya dari tadi keliling madrasah, tapi belum juga menemukan ruang kepala sekolah. Boleh kamu antarkan saya ke sana?” tanya Kayla dengan hati-hati karena rasa sungkan pada Zahra yang baru saja dikenalnya.

“Ruang kepala sekolah, ya. Ok aku antarkan. Ruangannya ada di lantai dua, Kay.”

“Terimakasih.” “Hey! Kamu tidak perlu terlalu formal gitu sama aku. Kita kan seumuran.”

Tampilan Kayla mulai dirasani