Musibah dan Derita Bukti Tuhan Sayang Hambanya

oleh -139 views
Musibah dan Derita Bukti Tuhan Sayang Hambanya
Gambar: Syaeful Bahar dan Mentri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi

Tulisan dengan judul Musibah dan Derita Bukti Tuhan Sayang Hambanya, ini merupakan kisah seorang hamba yang sakit dan hikmah di balik pederitaannya menurut Kitab Hikam karya Ibnu Athoillah Al-Iskandary.

***

Syaeful Bahar

Dosen Ilmu Politik at UINSA
Dosen Ilmu Politik di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA)
Syaeful Bahar

Kopi arabika dan pisang goreng Mak Yam belum tersaji di langgar, tapi para jamaah diskusi sudah duduk melingkar, seperti biasa. Formasi lebih lengkap dari kemaren pagi, hanya Zaini yang tak nampak batang hidungnya.

“Tumben kopi dan pisang goreng telat datangnya, apa Mak Yam sakit?!”, tanyaku. “Kayaknya enggak ji, semalam masih lewat depan rumah”, sahut Pak Reza. “Oh syukurlah, semoga Mak Yam senantiasa sehat dan panjang umur”, tambah Pak Salam.

“Amiiin. Oh ya, kemaren saya kedatangan tamu. Namanya Mas Wahid Mawardy, dia mantan sekretaris PCNU Bondowoso. Kerjaan beliau hanya melayani Al Qur’an. Ngantar para huffadz, keliling Bondowoso dan Situbondo untuk meramaikan majlis khatmil Qur’an. Beliau sangat ikhlas, hidupnya hanya untuk melayani al Qur’an. Orangnya tampak selalu optimis, bahagia dan selalu tersenyum. Anak sulungnya baru meninggal, masih perjaka. Anak yg selalu setia mengantarkan Mas Wahid ke mana-mana. Beliau cerita tentang kematian anaknya tanpa menyiratkan kesedihan. Menuturkan kronologi wafat sang putra dengan selalu bersyukur pada Allah, beliau yakin putranya husnul khotimah. Dari cara bercerita saja, nampak sekali klo Mas Wahid ini adalah sosok yg tangguh, selalu optimis dan percara betul, ‘ainul yaqin, bahwa Allah telah mengatur dengan baik semua laku kehidupan dia dan keluarganya”, tuturku.

“Ada cerita Mas Wahid yg melekat dalam hati dan pikiran saya. Tentang KH Ahmad Siddiq Jember. Mantan Rois ‘Am PBNU. Kata mas Wahid, kiai Ahmad Siddiq akan menangis sedih, jika dalam sebulan saja, beliau tidak sakit. Kiai akan menangis dan bertanya2, dosa apa gerangan yg diperbuatnya sehingga Allah enggan menyapa dengan rasa sakit, Allah tak berkenan memberi nikmat sakit. Sakit adalah nikmat? Sakit adalah cara Allah menyapa? tanya saya dalam hati. Wah, manusia cap ini?”, ceritaku pada jamaah diskusi subuh. Nampak semua jamaah tertarik dengan ceritaku, tentang mas Wahid dan tentang KH Ahmad Siddiq.

“Terus terang saya kepikiran, tertarik, penasaran, bertanya tanya tentang cerita mas Wahid. sayapun akhirnya mencari tahu. Saya yakin, pasti ada rahasia di balik doa dan kekhawatiran KH Ahmad Siddiq tentang sakit dan rahmat Allah. Ternyata benar, dalam kitab Hikam, karya Ibnu ‘Athaillah, hal ini disinggung. Bahwa sakit dan musibah adalah cara Allah menunjukkan kasih sayangnya, cara Allah menyapa dan membuka pintu rahmat bagi hambanya, cara Allah mendekat pada kita hamba2nya. Berikut kata Ibnu ‘Athaillah

اذا فتح لك وجهة من التعرف فلا تبال معها ام قل عملك فانه ما فتحها لك الا و هو يريد ان يتعرف اليك….

Allah akan membuka diri, ngajak kenalan, mendekat dan berdekatan dengan kita, ketika kita sedang diuji olehNya. Sakit, kalah, difitnah, didhalimi, bisnis merugi, gagal panen dan tertimpa musibah, itu semua sebenarnya adalah cara Allah mendekat ke kita. Begitulah kata Ibnu ‘Athailah dalam kitabnya Hikam. Jadi, sakit dan musibah, bagi para wali Allah adalah kenikmatan, kenikmatan berdekatan dengan Allah, subhanallah….luar biasa mereka, para wali Allah. Hidupnya selalu bahagia, selalu senang, selalu tersenyum, selalu optimis dan selalu positive thinking pada Allah”, jelasku panjang lebar.

“Memang hidup tanpa belok an, tanpa tanjakan, tanpa jalan yg berkelok, tak akan asyik. Kita butuh tantangan, kita butuh uji nyali dalam tiap tahap kehidupan. Seperti orang yg berkendaraan. Melaju di jalan tol memang enak, lurus dan bebas hambatan. Tapi, itu bisa melenakan kita. Tiba2 tubruan, beruntun lagi. Hal yg berbeda klo kita lewat jalan berliku, turun naik lagi, kayak di arak arak, pasti semua driver mengendara dengan hati hati, pelan, menghitung jarak pandang, waspada pada kendaraan lain, hehe kecuali orang yang sedang mabuk hahaha”, tambah Mas Sigit.

“Benar sekali yg disampaikan Mas Sigit. Dengan musibah dan penderitaan, manusia itu akan ditempa semakin dewasa, semakin bijaksana. Sebenarnya, dengan musibah dan kegagalan, Allah sedang mengulurkan tangan ke kita, maka sambutlah uluran tangan Allah dengan penuh suka cita, dengan tangan terbuka dan bahagia. Kenapa, karena saat Allah memberi ujian, maka itu artinya akan segera datang nikmat menyertainya. Ketika Allah memberi ujian, sejatinya Allah sedang menunjukkan dua sifatnya sekaligus, yaitu yang maha jalal, maha agung dan yang maha jamal, maha indah. Dengan musibah itu, Allah menunjukkan kekuasaannya, keagungannya dan pada saat yang sama, Dia menunjukkan maha Indahnya. Begitulah cara Allah mendidik kita hamba2nya. Jadi, belajar dari mas Wahid dan KH Ahmad Siddiq, tak ada alasan untuk tidak optimis menjalani hidup selama kita tetap berpegang teguh pada tali Allah, ajaran Allah”. Sambungku.

“Mungkin karena pandai menyikapi penderitaan, musibah dan sakit, banyak para wali Allah yg diberi usia sangat panjang. Misal, KH As’ad Syamsul Arifin, KH Sofyan Miftahul Arifin, KH Maimun Zubair dan banyak kiai yang lain. Mereka tidak pernah sedih, selalu bahagia, selalu optimis. Sikap optimis, positive thinking dan selalu semangat menjalani hidup adalah sistem imun terbaik bagi manusia, bukankah begitu kata dokter2, dengan sistem imun yang baik itu, kesehatan para wali allah selalu prima, kebalikannya, ketika stres, depresi, negative thinking dan selalu grusa grusu akan berakibat merusak sistem imun kita,” tutupku.

Tak lama kemudian, Istriku datang, memberi kabar klo Mak Yam sakit, minta antar ke Dokter.

Waduh…., pagi ini bahas tentang penderitaan, eh malang semua jamaah menjadi menderita, karena tak dapat menikmati kopi arabika dan pisang goreng Mak Yam hahaha. Sabar sabar.

By: Syaiful Bahar

Editor: Muweil