Kerinduan Fulan

oleh -
Kerinduan Fulan

‘’Ya  Fulan kamu yang sabar, bapakmu sudah meninggal saksinya, bapakmu menjadi salah satu korban bom bunuh diri yang mengatas namakan jihad, padahal di dalam islam itu tidak mengajarkan jihad dengan kekerasan apalagi menyebabkan pertumpahan darah, islam adalah agama yang damai.’’ penjelasan pak kyai. ‘’Sedangkan yang dimaksud dengan jihad adalah berjuang di jalan Allah dengan melakukan hal-hal yang baik, tidak dengan perbuatan yang merusak atau bahkan menghilangkan nyawa seseorang.’’ Lanjut Pak Yai.

‘’Apakah mereka bisa masuk surga pak?.’’ tanya Fulan sembari mengusap air matanya.

‘’Ya, mungkin tidak, mereka kan jihadnya dengan cara kekerasan mereka menggunakan bom selain menghilangkan nyawa orang lain mereka juga bunuh diri,matinya mereka dengan cara bunuh diri,sedangkan matinya orang bunuh diri tidak diterima oleh Allah SWT.’’ Jawab Pak Yai menerangkan.                                                                                                                

‘’Apakah kita bisa ke surga, kalau kita ingin ke sana apa yang kita lakukan,pak?.’’ tanya Fulan yang ingin ke surga..

Mendengar hal itu pak yai tersenyum sembari memandang wajah Fulan

‘’Tentu bisa, tapi kita asalkan kita rajin sholat, puasa dan banyak melakukan hal yang baik. Apakah kamu ingin ke surga.?’’ tanya pak yai sembari menjelaskan. Fulan tersenyum mendengar yang diucapkan pak yai.

‘’Ya pak, saya ingin ke surga, saya ingin bertemu bapak saya di sana.’’ jawab Fulan dengan hati berharap ingin bertemu bapaknya. Sudah lama ia merindukan sosok seorang bapak. ‘’Kalau kamu ingin ke surga, kamu harus rajin sholat, rajin puasa, berbakti pada orang tua terutama pada ibumu, meskipun bapakmu sudah tiada, kamu harus mendoakannya, karena hanya dengan doa kita bisa berbakti pada orang tua kita yang sudah tiada.’’ Nasihat Pak Yai pada Fulan yang di anggap sebagai anak sendiri.

Baca juga: Cuci Muka dengan Air Liur

Akhir cerita Fulan