di , ,

Dua Punggung Penunda Kebahagiaan

Dua Punggung Penunda Kebahagiaan

Cerpen sasntri berjudul Dua Punggung Penunda Kebahagiaan, ini menceritakan tentang anak muda yang menyesali masa lalunya.

SantriNow | Seusai wiridan sholat jamaah Maghrib, aku keluar dari mushola Darul Muta’allimin -tempatku sholat tadi. Mataku memandang jauh ke langit malam.

Malam yang cerah, tak seperti malam-malam biasanya, gugusan bintang tampak lebih percaya diri dengan sinarnya. Desisan hewan malam terdengar jelas, layaknya sedang berdzikir, memuja sang pencipta dan pengatur alam.

Memang sudah cukup lama dalam diriku terjadi perubahan, tapi tidak untuk yang satu ini. Maklumlah, dulu aku adalah anak jalanan, hidupku tak pernah jauh dari aspal. Dan sampai sekarang, keliling kota menjadi hal wajib di malam hari, baik itu sendiri ataupun bersama sang istri.

Kukeluarkan si Rambo dari tempat peristirahatannya. Rambo adalah sepeda motor kesayanganku, hasil jerih payahku selama ini sebagai petani cabai. Rambo, meski sudah tua tapi tak kalah walau dengan motor Ninja. Warnanya hitam, gagah dengan velg berwarna kuning keemasan, Aku bangga memilikinya.

Dengan memakai kaos oblong bertuliskan “aku wong NU” Kunaiki Rambo sendirian. Jalanan kota yang ramai dan padat menemani perjalananku. Lampu penerangan jalan tetap kuat, meski sudah seharian berdiri di sana. Di kanan jalan tampak pohon beringin, tegar dalam kesunyian, kadang juga sedikit bergoyang untuk menghormati angin. Dimushola hijau dekat pertigaan, suara anak-anak mengaji terdengar nyaring. Perempuan-perempuan berkerudung banyak terlihat di toko dan di warung-warung. Perjalanan terus berlanjut.

Sekarang aku mulai memasuki kawasan alun-alun kota “Selamat datang di alun-alun Kota Kencong”, rangkaian huruf yang menempel pada bangunan dari semen, yang telah berdiri 10 tahun yang lalu. Setiap malam tulisan itu tak pernah bosan menyapaku. Orang-orang silih berganti ke alun-alun itu, ada yang datang, ada pula yang pergi. Di alun-alun memang banyak pedagang nangka, mie ayam, warung pecel, waung kopi, lalapan, semuanya ada. Bahkan, penjual es cendol pun juga ada. Sehingga di sana tak pernah sepi orang, kecuali tengah malam.

Baca juga: Selembar Kerudung dan Senandung Cadar dalam Mata Lelaki Cina

Kejadian itu mengingatkan masa kelamnya di masa lalu

BAGAIMANA MENURUT KAMU?