Cuci Muka dengan Air Liur

oleh -
Cuci Muka dengan Air Liur

Cerpen santri berjudul Cuci Muka dengan Air Liur, ini merupakan cerita seorang alim yang ditantang debat oleh pemuda yang sok alim

”Allahuakbar…Allahuakbar…”

Suara adzan ashar berkumandang. Mbah Dul yang sejak tadi duduk di emperan rumah sambil membaca kitabnya pun beranjak; menyegerakan diri ke musholla yang tepat berada di seberang jalan depan rumahnya untuk megimami sholat.

Anak-anak kecil dan para remaja di desa Mbah Dul tak pernah alpa sholat berjamaah. Kebanyakan dari mereka adalah santri Mbah Dul yang ngaji padanya setiap selesai ashar hingga menjelang maghrib. Mereka sering disebut santri kalong –santri yang tidak menetap di pondok ; setelah ngaji mereka pulang ke rumah masing-masing. Mbah Dul sendiri memang tidak membangun pesantren. Hanya musholla sederhana yang multifungsi ; sebagai tempat sholat fardhu,ngaji kitab para santri,dan tempat kumpulan para kader NU di desanya, yang Mbah Dul sendirilah sebagai Ketua Ranting NU-nya.

Mbah Dul adalah panggilan akrab Kyai Abdul Manaf. Beliau hanya tinggal bersama istrinya di rumah sederhana yang terletak di desa Jodipan, Malang. Semua anak-anak Mbah Dul sudah melalang-buana ke Timur Tengah; Yaman dan Turki. Anak pertamanya, Ahmad sudah berkeluarga dan menetap di Turki. Umar, anak keduanya sudah lulus dan mengabdi di Ma’had Darul Musthofa,Yaman. Sementara anak bungsunya, Ruqoyya masih menyelesaikan skripsi di Universitas Al-Ahgaff Yaman. Semua pendidikan anak-anaknya berkat beasiswa. Meskipun begitu, ketiga anak Mbah Dul tak pernah lupa menengok kedua orang tuanya di tanah air.

Oleh masyarakat Malang, khususnya di Desa Jodipan, Mbah Dul sangat disegani dan diakui keilmuannya. Sebab beliau pernah menjadi santri teladan di Lirboyo pada zamannya. Bukan hanya itu, beliau juga menjadi santri kepercayaan keluarga ndalem Kyai Abdul Karim –pendiri dan pengasuh Lirboyo. Menurut keluarga ndalem, khususnya Kyai Abdul Karim sendiri, Mbah Dul remaja adalah santri yang sangat tawadhu’ dan multitalent; disuruh apa saja selalu bisa. Meskipun begitu, Mbah Dul tetap rendah hati dan sopan kepada setiap orang, baik kawan maupun lawannya.

Baca juga: Santri Santun untuk Negeri

Tamu pemuda bercelana cingkrang