Berani Berkata Benar Itu Istimewa

oleh -
Berani Berkata Benar Itu Istimewa

SantriNow | Tidak semua orang berani berkata benar. Dan ini menjadi salah satu pemicu hancurnya karakter anak bangsa Indonesia hari ini. Kondisi semacam ini sudah merambah di berbagai lapisan masyarakat, mulai kalangan elit sampai masyarakat jelata dan santri.

Padahal hadist Nabi sudah menyatakan, “katakan yang benar walaupun terasa pahit”. Artinya Rasulullah sudah memerintahkan kepada umatnya agar berani berkata benar.

Mengapa hal itu harus kita lakukan, sebab bila kebenaran yang diyakini sebagai nilai kebenaran tidak dipertahankan maka secara otomatis kesalahan yang akan menguasai. Dan orang yang tidak paham, kebatilan itulah yang akan dianggap sebagai kebenaran.

Bahkan konon Sayyidina Ali pernah berkata, “kebenaran yang tak terorganisir akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir.” Ini yang pertama. Yang kedua, kezhaliman akan terus ada bukan karena banyaknya orang-orang jahat tetapi karena diamnya orang-orang baik.”

KH. Sahal Mahfurzh Pati mantan Ketua Rais Aam PBNU pernah berkata, “menjadi baik itu mudah, dengan hanya diam maka yang tampak adalah kebaikan. Yang sulit adalah menjadi bermanfaat karena itu butuh perjuangan.”

Ada lagi ungkapan lain yaitu Gus Dur Rahimahullah seringkali ketika ngisi pengajian bersyair yang artinya begini:

Aku bukan orang yang sembunyi di balik gentong karena ketakutan. Gentong itu tempatnya di depan rumah apa belakang? Nah, biasanya di dapur. Lha, orang yang bersembunyi di balik gentong di dapur sudah habis-habisan takutnya. Ini katanya Tharafa, lho. Tetapi kalau kaumku meminta pertolongan, akan kutolong. Lha ini, karena saya tidak berada di gentong, ya, kalau kaum saya minta tolong ya, saya tolong. Kalau perlu bertaruh nyawa. Ini Tharafa Ibna Abd sudah begitu. Ya itu pegangan saya dari dulu sampai sekarang.” pungkas Gus Dur.

Artinya manusia hidup memang harus berjuang, menjunjung tinggi nilai kebenaran. Karenanya yang benar katakan benar yang salah katakan salah. Dan mintalah pertolongan kepada Allah supaya kita mudah dalam menjalani hidup dan khusnul khotimah.

Kalau sudah kebathilan yang mendominasi karena tidak adanya orang yang berani memperjuangkan kebenaran maka tunggulah kehancurannya. Dalam hadist lain Rasulullah juga pernah bersabda bahwa apabila kita melihat kebathilan maka perbaikilah sesuai kemampuan, minimal hati kita tidak suka dengan kerusakan tersebut.

Baca juga: Adakah Hoax yang Mendidik? Ada!