Belajar Bangkit dari Yesus Kristus

oleh -145 views
Belajar Bangkit dari Yesus Kristus
Afi Nihaya Faradisa dan Suster Kristin

Beliau bernama Suster Kristin, seorang biarawati Katolik yang kutemui saat menjadi peserta dalam sebuah kegiatan beberapa waktu lalu.

Aku antusias untuk bertanya-tanya soal agama Katolik padanya, jarang-jarang aku bertemu dengan orang yang memang berkapasitas menjawab.

“Sus, biarawati itu gak boleh menikah seumur hidup ya?”

“Iya, Dek”

“Terus ngapain aja dong?”

“Kami melakukan pelayanan dan membaktikan hidup kami untuk Tuhan”

“Kalau misalnya di tengah jalan berubah pikiran dan gak ingin jadi biarawati lagi, boleh gak?”

“Ada kok teman saya yang seperti itu, Dek. Sebab, memang pendidikan yang harus kami lalui sebelum bisa menjadi suster itu berat dan panjang. Biasanya calon suster mundur saat masa pendidikan itu”

“Oh, tapi gapapa ya Sus?”

“Gapapa, Dek. Gak ada paksaan sama sekali. Semuanya tergantung panggilan Tuhan dalam dirinya”

“Wah… Salut untuk suster yang imannya kuat! Terima kasih ya sudah kasih kesempatan Afi untuk tanya-tanya”

Baca juga: Menuju Indonesia Emas 2045

Sebenarnya banyak hal lain yang sempat aku diskusikan dengan Suster Kristin, seperti relasi gereja dengan agama lain, bagaimana konsep Tritunggal Mahakudus atau 3 pribadi Tuhan, mengapa Yesus dan Maria perlu divisualisasikan dengan patung dan foto, bagaimana Katolik memandang umat yang berpindah iman, memandang dogma surga neraka, dan sebagainya.

Aku sangat bersyukur karena setidaknya aku membuka diri untuk mengenali seluk beluk agama lain selagi masih hidup. Aku yakin Tuhan pengertian.

Kita semua tahu bahwa Indonesia adalah negara yang sangat beragam, seperti sebuah supermarket besar yang isinya macam-macam. Tapi, pernahkah kita berkunjung langsung pada setiap lorong-lorongnya? Ataukah cukup melihat dari kejauhan saja?

Untuk sahabat-sahabatku umat Kristiani, selamat merayakan Paskah. Semoga kasih dan kebangkitan Yesus Kristus menjadi pengingat bagi kita semua untuk tetap bangkit, tidak kehilangan harapan dalam masa-masa yang sulit sekalipun.

Kita belajar. Kita masih belajar.

Penulis: Afi Nihaya Faradisa

Editor: Muweil