Santri Memilih Kata Non Muslim atau Kata Kafir?

oleh -
Santri Memilih kata non muslim atau kafir

SantriNow | Ketika santri memilih menggunakan kata atau diksi tertentu sebagai bentuk bahasa komunikasi dengan orang lain tentu tak lepas dari hasil pertimbangan di alam pikir bawah sadarnya. Bila lawan bicaranya adalah teman sebayanya, bahasa komunikasi yang dibangun tentu disesuaikan dengan gaya mereka bicara sebagaimana layaknya teman. Namun bila yang diajak bicara adalah orang di atasnya semisal guru atau orang tua, tentu pilihan kata yang digunakan sebagai bahasa komunikasi akan berbeda.

Pilihan kata ini penting dilakukan guna tercipta rasa nyaman atau terhormat dengan bahasa komunikasi lawan bicaranya. Contoh, ungkapan kata “aku” dan “saya” secara makna adalah sama. “Saya” menurut kamus bahasa indonesia memiliki makna orang yang berbicara, begitu juga dengan kata “Aku” dalam kamus yang sama artinya juga orang yang berbicara. Namun ketika dua kata di atas dijadikan sebuah ungkapan dalam bentuk komunikasi maka hasilnya akan berbeda. Conoth,  “saya mengakui kalau istilah non muslim itu layak dijadikan bahasa komunikasi”. Cobak sekarang kata “saya mengakui” dibalik menjadi “aku mengsayai”, kan hancur jadinya. Itu yang pertama.

Yang kedua, dalam berkomunikasi antar dua orang atau lebih pada dasarnya tidak hanya mengungkapkan apa yang terdengar oleh telinga, melainkan juga apa yang yang membekas di hati lawan bicaranya yaitu rasa.