Santri Kutuk Perilaku Korupsi

oleh -
Petuah Gus Dur Perihal Bencana Korupsi di Indonesia

SantriNow | Penyakit menular bukan hanya demam berdarah, tetapi korupsi juga menular dan sangat berbahaya bila dibiarkan. Karenanya, prilaku korupsi sangat ditentang dan wajib diberantas.

Saat ini penyakit korupsi di Indonesia sudah tergolong panyakit akut yang tidak mudah lagi untuk diobati. Tidak jarang, para elit hingga hari ini tidak malu-malu untuk mencuri uang rakyat. Harusnya para elit memberikan contoh yang baik dan beradap kepada generasi penerusnya.

Alih-alih memberikan contoh pemberantasan korupsi kepada kaum santri, baru kemarin salah satu tokoh pimpinan Partai Politik Islam berinisial “R” terkena Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Bandara Juanda Surabaya Jawa Timur, atas dugaan jual beli jabatan.

Santri Jangan Lupa Petuah Gus Dur Perihal Bencana Korupsi di Indonesia

Peristiwa tersebut mencerminkan bahwa perilaku korupsi tidak hanya menyerang orang-orang non partai Islam saja, bahkan partai yang berlambang Ka’bah itu pun sama saja. Sehingga membentuk persepsi buruk terhadap Islam yang notabene sangat melarang perilaku korupsi. Walaupun tidak semuanya tokoh Islam berprilaku demikian.

Sebagai pemuda dan seorang santri tentunya sangat mengutuk keras atas perilaku yang tidak bermoral itu. Kita harus kembali belajar pada sejarah kerajaan besar seperti Majapahit, Sriwijaya, Mataram dan lain sebagainya.

Pertanyaan kenapa kerajaan besar tersebut hancur? Salah satu penyebabnya adalah perang saudara. Adanya kekuasaan yang mulai terkikis serta terlihat lemah dan kacau. Akhirnya yang terjadi adalah saling berperang antar sesama saudara.

Kata mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, kerajaan besar tersebut tidak kalah ketika berperang dengan kerajaan lain, tetapi mereka kalah berperang dengan dirinya sendiri. Oleh sebab itu sebagai umat muslim yang taat, ciptakan nuansa yang tenang. Caranya adalah tidak berperilaku aneh seperti korupsi.

Marilah santri-santri berpegangan tangan, saling mengingatkan satu sama lain. Dan jangan bertindak sesuatu yang dapat mencoreng nama baik santri apalagi gurunya yaitu kiai. (*)

Penulis: Gazan