Story of Friendship (cerita tiga orang mahasiswi)

oleh -
Story of Friendship (cerita tiga orang mahasiswi)

Derap sepatu dan wajah-wajah baru mengawali langkah dan niatnya di halaman UINSA, iya salah satu kampus favorit di Surabaya tempat semua kalangan berkumpul menjadi satu keluarga kemudian menjadi satu nafas yaitu Mahasiswa dan Mahasiswi. Tetapi ada yang beda dari Nia, dia adalah salah satu mahasiwi yang beruntung mendapat beasiswa dan semua itu tak lain adalah jawaban Tuhan dari doa ibunya.Menjadi mahasiswi membuatnya semakin semangat dan bangkit dari segala luka yang tertanam di rumahnya. Banyak hal yang dikaji dari beragam cerita kehidupan teman-temannya.

Awan putih dan jernih embun senantiasa menjadi kawan perjalanan setiap pagi. Cerita matahari dan kabut yang seringkali bertengkar pagi-pagi. Dan diantara dahan, burung gereja dan pipit beradu siul menggoda betinanya berharap segala cinta dilimpahkan pada hatinya. Semangat yang membara tertanam di hatinnya.

“Hei namamu siapa?”, tanya temen kelasnya.

“Aku Nia, kamu?”, jawabnya.

“Aku Aisyah”, jawab temannya lagi.

“Oh iya salam kenal ya”, seraya senyum manisnya terpancar.

Perlahan dunia yang dulunya sering Nia tangisi hilang tergantikan keindahan pertemanan dan persahabatan yang setiap hari menjadi tempat mengadukan segala kesah meski terkadang duka masih saja timbul menjadi bomerang dan cobaan dalam perjalanan kuliahnya. Disisi lain dia masih mengkaji hidup, belajar dari segala kekurangan dan tumpukan kesedihan hingga akhirnya tahu bahwa dia bukan satu-satunya orang yang sedang berjuang di tengah kesedihan yang telah akrab sejak balita.

Aisyah namanya, teman sekelas dan satu jurusan membuat Nia selalu bersyukur, hidup bukan soal sendirian tetapi bagaimana membangun sebuah hubungan yang erat, saling memahami dan mengerti satu sama lain dan ternyata apa yang dirasakan Nia sama persis dengan cerita hidup seorang Aisyah yang juga tak sama dengan anak-anak lainnya, hanya saja Nia bersama Ibunya sedang Aisyah bersama Ayahnya. Ya meski anak yang satu ini dengan beribu keegoisan yang menegangkan ketika sudah kumat, tapi begitulah manusia yang akan selalu berbeda.

Setahun dalam perjalanan kuliahnya, Nia mempunyai kebiasaan pulang pada hari sabtu dan minggu kemudian kerja di sekitar rumahnya untuk menopang biaya hidup keluarganya. Jalan terjal dan berliku dalam kehidupannya sudah menjadi pelajaran berharga yang tak ternilai dan hal ini kadang membuatnya sedikit tidak percaya diri ketika bergaul dengan teman lain yang tergolong kaya. Di tahun kedua dia terpisah kelas dengan satu gank teman-temannya yang sudah akrab ditahun sebelumnya tapi tidak dengan Aisyah. Dia tetap satu kelas dan satu kost dengannya.

Aisyah adalah satu teman yang egoisnya minta ampun, moodnya seringkali tidak teratur. Anehnya, yang menjadi tempat pelampiasan kegundahannya adalah Nia. Nia dengan kelembutan hatinya selalu mengalah dan berusaha mengerti sikap sahabatnya itu. Aisyah juga salah satu sahabat Nia yang kuliah sambil kerja demi pendidikan yang sedang dijalaninya. Oh iya, dia adalah gadis asal Bojonegoro dan mereka selalu menguatkan satu sama lain apalagi tentang sesuatu yang berhubungan dengan keluarga. Harapan yang selalu terucap bahwa Tuhan tidak akan selamanya membuat kita menangis dan mencucurkan air mata.

Baca juga: Cerpen Santri Jaman Now dan Kiai Kehidupan

@@@