Status Santri Tak Harus Milik Anak Pesantren

oleh -734 views
Gelar Santri Tak Harus Milik Anak Pesantren

SantriNow | Stratifikasi sosial masyarakat santri hari ini menurut pengamatan para pakar ilmu sosial sudah bergeser ke titik tengah bahkan lebih dari itu. Jadi yang semula santri tergolong ada pada posisi bawah dan menengah, namun sejak 10 tahun terakhir mengalami perubahan yang signifikan.

Animo yang tinggi dari masyarakat menengah dan atas terhadap status santri yang lagi naik daun, membuatnya banyak anak keluarga artis, anak konglomerat dan anak petinggi partai belajar di pesantren dan statusnya santri milenial.

Namun yang perlu dibahas disini bukan masalah status sosial santri yang bergeser itu melainkan, bisakah status santri disandang seseorang tanpa pernah mengenyam pendidikan di pesantren?

Baca juga: 9 Kebiasaan Buruk Santri Ketika Tidak Betah di Pesantren

Simak tiga (3) pendapat tokoh:

Pertama, menurut Mentri Agama Luqman Hakim, “saya ingin menggarisbawahi adanya kesalahpahaman dalam memaknai santri.  Seakan-akan santri hanya yang belajar di pondok pesantren, memang awalnya seperti itu. Tapi kemudian, Hari Santri adalah tidak semata penghargaan bagi kaum santri yang sekarang maknanya sudah diperluas, tidak hanya mereka yang pernah belajar di pondok pesantren, tetapi mereka-mereka yang memiliki pemahaman dan cara pengamalan keagamaan sebagaimana layaknya santri, yang moderat (wasathiah), toleran (tasamuh), yang cinta Tanah Air  karena dasar agama,” ungkap Menag usai menggoreskan kalimat Iqra (baca) dalam rangka peringatan Hari Santri Nasional ke-2 Tahun 2017 di Lapangan Pancasila Simpang Lima, Semarang, Sabtu (21/10/2017).

Kalau mengacu kepada apa yang dikemukakan Kemenag Luqman Hakim, jelas bahwa status santri hari ini bukan hanya anak yang pernah ngenyam pendidikan di pesantren. Kemudian Kemenag, melanjutkan pembicaraannya.

“Jadi amalnya (perbuatannya) akhlakulkarimah yang dipertunjukkan kalangan santri, maka mereka hakikatnya santri juga. Jadi penetapan Hari Santri wujud penghargaan dan pengakuan negara atas santri yang sumbangsihnya sangat besar kepada bangsa dan negara tetapi juga sekaligus yang tidak kalah penting adalah peneguhan bagi para santri untuk bertanggungjawab terhadap nasib bangsa dan negara ini,” ujarnya.

Kedua, pendapat serupa juga datang dari Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan KH Zaenuri Zainal Mustofa. Beliau mengatakan bahwa santri itu tidak hanya mereka yang nyantri.

“Selama ini masih sering terjadi salah kaprah dengan istilah santri yang selalu diidentikkan dengan pondok pesantren, ini tidak salah. Namun yang tidak pernah mondokpun dan mendalami ilmu agama dan mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari mereka juga bagian dari santri.

Hal tersebut disampaikan KH Zaenuri di hadapan ribuan pengunjung pada Peringatan Hari Santri Nasional tingkat Kota Pekalongan di Lapangan Mataram, Jum’at (27/8) malam.

Ketiga, menutu Dr Arif Maftuhin, Dosen UIN Sunan Kalijaga juga sama, sebagaimana yang kami kutip dari website sebelah, katanya:

Saya menangkap kesan dari banyak orang yang merayakan hari santri di Facebook yang menunjukkan kesantriannya dengan mengatakan bahwa ia pernah mondok di pesantren ini, pesantren itu, ‘nyantri’ ke kyai ini dan kyai itu. ‘Nyantri’, ringkas kata menjadi identik dengan ‘mondok’.

Tidak ada yang salah dengan itu tetapi perlu juga diklarifikasi bahwa istilah nyantri itu tidak selalu berarti ‘tinggal di pesantren.’ Di kampung-kampung seperti tempat saya berasal, ada banyak orang yang sangat layak disebut Santri meski tidak tinggal di pesantren. Dari mana kualifikasinya?

Di tempat saya dulu, dan di waktu saya masih kecil, hampir semua ‘anak orang santri’ sekolah dobel. Pagi sekolah di SD atau MI (dan seterusnya ke atas), sore ke ‘Madrasah Diniyah’. Mengapa saya menyebut ‘anak orang Santri’? Karena ada banyak anak ‘abangan’ yang tidak mau atau bahkan anti sekolah diniyah. Sekolah Diniyah atau sering kami sebut ‘Sekolah Sore’, juga sah untuk menjadikan seseorang sebagai Santri.

Nah, yang agak susah adalah menjelaskan kesantrian orang semisal Habib Sandiaga Uno. Santrinya dari mana? Saya cuma tanya saja. Kalau ada yang mau nyebut dia Santri juga boleh. Sebab, di Arsenal dulu pernah ada pemain bola yang tidak bisa ngaji juga disebut santri. Iya, serius ada. Namanya Santri Cazorla.

Baca juga: 9 Kebiasaan Buruk Santri Ketika Tidak Betah di Pesantren

Kesimpulan

Dari tiga pendapat tokoh di atas dapat disimpulkan bahwa:

  1. Santri tidak harus berasal dari lembaga pendidikan pesantren
  2. Siapa pun bisa jadi santri asal memenuhi syarat yaitu, prialakunya baik, dan mengamalkan ilmu agama yang dimiliki.
  3. Hormat kepada ulama

Salam persahabatan dari santri pekok (*)