Pidato Santri Tentang Kemuliaan Ilmu, Guru dan Ulama

oleh -2.702 views
Pidato Santri tentang kemuliaan ilmu, guru dan ulama
Penampilan pidato salah satu Santri Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo, dalam menyambut acara Muktamar Sastra 2018

Dalam hadits yang lain Rasulullah pernah bersabada, “muliakanlah ulama, karena ulama adalah pewaris para Nabi. Barangsiapa memuliakan ulama, maka sungguh ia memuliakan Allah dan Rasul-Nya”, (HR Imam At-Thobroni). Lihat Nashoihul Ibad hal. 61.

Bahkan dalam Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya Hadratus Syeikh KH Hasyim Asy’ari dikatakan “Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:

‘Sesungguhnya di antara hak ulama adalah engkau jangan banyak bertanya kepadanya, janganlah engkau membantahnya dalam jawaban, janganlah engkau terus menerus bertanya apabila ia malas, janganlah engkau memegang pakaiannya apabila ia bangkit, janganlah engkau membuka rahasianya, jangan menggunjing seseorang di sisinya, jika ia keliru engkau harus menerima/memaafkan kekeliruannya. Engkau harus menghormati dan mengagungkannya karena Allah Subhanahu wa ta’ala selama dia menjaga perintah Allah Subhanahu wa ta’ala, dan jika ia membutuhkan sesuatu hendaklah engkau cepat-cepat mendahului yang lain.”

Nah, bagaiamana, masih mau berbantah-bantahan dengan ulama? Masih mau menggunjing tentang kejelekan ulama?. Semoga kita sebagai santrinya ulama dijauhkan dari akhlak tercela itu.

Salah satu Santri Pesantren Darul Muttaqien saat ikut lomba pidato

Dalam sebuah ayat dalam Alquran dikatakan: ” انما يخش الله من عباده العلماء”  semestinya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya adalah ulama”.

Allahumma Sholli ala Sayyidina Muhammad!

Para santri yang dirahmati Allah,

Sebagai seorang pelajar, sebagai seorang santri wajib memuliakan ilmu. Bagaimana bisa seseorang mendapatkan ilmu yang manfaat kalau tidak mampu memuliakan ilmu. Bagaiaman ia bisa mendapatkan seorang kekasih idaman hati kalau ia tidak mampu memahami kesukaannya.

Ibarat Anda, ingin medapatkan cinta dari seorang wanita pujaannya, maka terlebih dahulu anda memahami apa yang menjadi kesukannya. “Betuh apa tidak?” 3x.

Begitu juga dalam hal mencari ilmu, seseorang harus paham apa yang disukai ilmu. Dalam “Kitab Taklim” dijelaskan. Abaila seseorang hendak hendak mengambil kitab sebaiknya harus dalam keadaan suci.

Mengapa demikian? Karena ilmu diciptakan oleh Allah dari cahaya, dan wudhu juga merupakan nur (cahaya). Jadi barang siapa yang belajar dalam keadaan punya wudhu’, insya Allah ilmunya akan bertambah dan manfaatnya juga.

Bahkan dalam Kitab Ihya’ Ulumiddin dikatakan: مَنِ ازْدَادَ عِلْمًا وَلَمْ يَزْدَدْ هُدَى لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللَّهِ إِلا بُعْدًا “barang siapa yang bertambah ilmunya sementara hidayahnya tidak, maka ia tidak akan bertambah dekak kepada Allah melainkan semakin jauh”.

Kesimpulannya

Kalau seorang santri atau pelajar ingin mendapatkan ilmu yang manfaat, ilmu yang berkah maka ia harus sanggup memuliakan ilmunya, memuliakan gurunya, dan memuliakan ulama. Ketiganya ini wajib hukumnya bagi para santri, tidak boleh tidak.

Semoga apa yang kami sampaikan ini bersamaan dengan hidayah Allah sehingga ilmu kita berkah fiddini waddunya wal akhiroh. Amin!

Apa bila ada tutur kata yang salah kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Wal afwu minkum ila sabilirrosyad Tsummassalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh!