Pak Nur Khalim Potret Sosok Guru Teladan era Milenial

oleh -277 views
Pak Nur Khalim Potret Sosok Guru Teladan era Milenial

SantriNow | Santri Milenial mestinya sudah menyaksikan video tentang seorang guru yang dipermalukan salah satu muridnya saat ngajar di kelas. Dia ditantang gulat oleh sang murid, namun sang guru memilih mengalah.

Itulah potret sikap guru yang santri era milenial. Sang guru menunjukkan sikap yang tenang tanpa emosi kepada muridnya yang bersikap tidak sopan. Ia sadar bahwa memberi contoh sikap yang baik adalah pendidikan yang utama.

Dalam pendidikan pesantren, santri diajarkan cara bersikap yang sopan kepada kyainya, hingga didoktrin supaya santri memiliki sikap tawadu’. Begitu juga sebaliknya, kyai-kyai di pesantren memberi contoh sikap yang sabar mengahadapi santri yang kurangajar.

Guru seperti itu paham bahwa tipe satu-persatu murid itu tidak sama, ada yang berwatak arogan, lemah lembut, sopan, dan kurangajar. Karenaya sudah selayaknya seorang guru dimana pun ia mengajar memberi teladan dengan sikap yang tenang dan sabar.

Itulah sikap pendidik yang dicontohkan oleh Rasulullah shollallahu alaihi wasalllam yaitu sifat sabar dan memaafkan. Rasulullah tidak marah manakala ada dari salah seorang sahabatnya bertindak tidak sopan saat kepada beliau. Seprti contoh, pernah suatu ketika Rasulullah dipanggil oleh seorang dari Suku Baduwi dengan panggilan yang tidak pantas. Katanya, “Maaat…….! Muhammad…..!”, dengan suara keras dari luar masjid. Para sahabat yang ada di dalam masjid terhentak menyaksikan kejadian itu, sampai-sampai Umar bin Khattob pamit kepda Rasulullah untuk memenggal leher orang dari Suku Baduwi itu. Namun Rasulullah tidak mengizinkan, malah beliau mempersilahkan tamu itu masuk ke dalam masjid. Sesampai di dalam, orang tersebut bilang kepada Rasulullah kalau dirinya ingin kencing, dan ternyata dia kencing di dalam masjid. Dalam kondisi seperti itu, sikap Rasulullah tetap tenang dan menggap hal itu wajar karena pelakunya dianggap tidak paham.

Dengan cara Rasulullah mendidik sahabatnya dengan penuh kasih sayang dan sikap yang tenang, beliau berhasil meluluhkan hati yang keras bagaikan batu. Itulah sebenarnya tugas guru yang sesungguhnya, yiatu memberi contoh akhlak yang mulia kepada murid-muridnya.   

Kembali kepada kasus guru yang ditantang muridnya. Guru agung itu diketahui bernama Nur Khalim, tinggal di Dusun Pasinan RT 19 RW 04 Desa Lemah Putih, Kecamatan Wringinanom, Gresik Jawa Timur.  

Video kejadian tatkala Pak Nur Khalim ditantang muridnya adu jotos di dalam kelas viral di media sosial. Banyak dari netizen yang kagum kepada sikap guru tersebut. Para netizen pun menyayangkan sikap murid yang kurangajar itu.

Baca juga: Pendidikan di Luar Sekolah Sangat Menentukan

Potret Pak Nur Khalim dan Muridnya yang Nakal

Kejadian itu pun berujung damai saat dimintai keterangan oleh pihak yang berwajib. Sang guru memafkan atas kejadian yang menimpa dirinya. Sang murid dengan memakai songkok sudak di kepalanya secara tertulis dan dibacakan di depan kamera meminta maaf dan berjanji tak akan mengulanginya kembali.

Berikut sikap keseharian Pak Nur Khalim di luar sekolah

Beliau selain ngajar juga rajin solat jamaah di musholla bahkan ia menjadi muazinnya. Hal itu terungkap saat didatangi oleh salah soerang wartawan media online. Berikut hasil wawancaranya detikcom dengan Pak Nur Khalim. Pada saat rumahnya didatangi waratawan dia kebetulan lagi mau berangkat ke musala.

Katanya, “maaf mas ada apa, saya mau berangkat ke musala, saya mau azan,” kata Nur Khalim, Minggu (10/2/2019).

Namun lelaki 30 tahun itu enggan saat ditanya tentang video yang viral itu. Katanya, kasusnya sudah selesai dan tidak akan diperpanjang lagi.

“Sudah ya mas, saya mohon maaf. Kasus sudah tuntas. Jangan tanya lagi, saya tidak apa-apa, kasihan anaknya,” tutur Nur Khalim.

Nur Khalim saat berada di rumahnya, selain iya disibukkan dengan menjadi takmir musala. Lelaki yang telah lima tahun mengajar di SMP PGRI Wringinanom itu juga ngajar di bimbingan belajar.

“Saya sesudah Salat Magrib biasanya langsung ngajar di bimbel, nanti selesai pukul pukul 20.30 WIB. Setelah itu istirahat karena besok mengajar lagi,” ungkap Nur Kalim.

Saat ditanya mengapa kok masih mengajar di sekolah tersebut, meski sudah diperlakukan siswanya seperti itu.

“Ndak apa-apa mas, itu sudah komitmen saya menjadi guru. Jadi apapun harus saya terima,” ujar Nur Kalim sembari bergegas ke musala.

Baca juga: Sikap Tawadhu’ Mbah Moen Sarang

Kesimpulan

Marilah jadikan kejadian yang menimpa Pak Nur Kalim sebagai ibrah kepada para guru dan murid. Marilah bersikap sabar dan tahan uji dalam menghadapi murid yang tidak menyenangkan hati. santri wajib bersikap sopan kepada gurunya bila ingin ilmunya manfaat. (*)