Jodohku di Tangan Kyai

oleh -
Jodohku di tangan kyai

Langit mulai petang serta kumandang Adzan telah bergema dengan lantang, lalu lalang santri memadati masjid bersiap diri untuk menghadap ilahi, aku pun sudah suci menunggu kyai untuk segera mendirikan sholat kemudian ngaji. Sungguh hari demi hari yang indah aku lalui di sini, menjadi santri mengokohkan hati di penjara suci.

Gemuruh santri berdiskusi, mengkaji dan mengaji, sedang aku masih saja teringat sore tadi, gadis kerudung ungu dengan senyum separuh serta suara kyai yang menegurku. Lamunanku menjadi-jadi, ilusi dan imaji kubuat seperti mimpi serta doa yang suci. Semoga Tuhan mengerti apa yang sedang aku alami.

“Salman, kenapa kau senyum-senyum sendiri?”, tegur temanku.

“Ah kau mau tahu saja”, ketusku.

“Ya iyalah, siapa tahu kau setengah dua belas?”, tanyanya dengan cekikikan

“Ngawur kau ya, kau kira aku gila?”, jawabku dengan raut sedikit serius

“Lalu?”, dia mulai kepo

Ah, tingkah kawan yang satu ini membuatku kesal sekaligus tak sabar untuk menceritakan perihal yang ku alami tadi, siapa tahu dia punya usulan buat kegaduhan hatiku saat ini.

“Begini loh”, kataku dengan senyum malu-malu.

“Gimana-gimana?”, dengan riangnya.

“Sore tadi aku bertemu seorang gadis”, jawabku.

“Lalu?, kau kenal?, siapa namanya?, cantik?”, tanyanya dengan nyerocos.

“Sekali lagi kau tanya, ku gampar mulutmu”, batinku, nih anak agen lambe turah mungkin ya?

“Kalo mau nanya satu-satu”, sahutku kembali

“Oke-oke, sekarang kau aja deh yang cerita”, sahutnya dengan cengingisan.

“Besok saja lah, aku masih mau ke dhalem, mau ngasik makan peliharaan” jawabku.

Kemudian tanpa menajwab pertayaan kawanku, aku bergegas ke dhalem kyai untuk memeriksa peliharaan yang ada. Maklum, aku nyantri dipercaya untuk mengurusi hewan peliharaan kyai. Sesampainya di dhalem kembali aku melihat gadis itu sedang menghadap ibu nyai, betapa bahagianya hatiku melihat gadis yang ada didalam lamunanku sejak tadi sore, kembali kutemui senyumnya merekah. Kemudian kembali hatiku dibuat terkejut oleh kyai

“Salman,,, kau mau lihat ternak apa yang lain?”, suara beliau dengan lantangnya, hingga gadis itu menoleh dan lagi-lagi tersenyum menertawakanku dalam raut wajahnya.

“Nggeh kyai”, jawabku tersipu malu.

“Nggeh yang mana?”, tanya beliau kembali

“Yang lain pak kyai”, sahutku keceplosan.

“Eh ternak maksudnya”, seraya aku menuju tempat ternak dengan rasa malu.

Sepanjang aku di sini, baru kali ini aku lupa untuk sekedar istirahat memikirkan seorang gadis. Layaknya pujangga yang terlalu asyik dengan sajaknya, aku masih saja tertegun. Ternak yang semestinya kuurus hanya aku diami saja tanpa kata.

Baca juga: Cerpen Santri Jaman Now dan Kiai Kehidupan

@@@