di ,

Isi Pidato Ketua Umum PBNU dalam Pembukaan Munas Alim Ulama dan Kombes NU 2019

Isi Pidato Ketua Umum PBNU dalam Pembukaan Munas Alim Ulama dan Kombes NU 2019

BANJAR, SantriNow | Dalam pidato sambutannya, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdalatul Ulama KH Said Aqiel Siraj menyampaikan bahwa acara Munas Alim Ulama dan Kombes NU 2019 mengambil tema “Memperkuat Ukhuwah Wathaniyah untuk Kedaulatan Rakyat”. Pemilihan tema ini dilandasi oleh situasi menjelang pelaksanaan pesta demokrasi rakyat yaitu pemilu serentak untuk memilih presiden dan wakilnya serta para wakil rakyat tahun 2019. Nahdlatul Ulama perlu mengingatkan bahwa sebagai manifestasi kedaulatan rakyat, hasil pemilu harus mampu menjunjung, menegakkan dan mewujudkan kedaulatan rakyat dalam seluruh sendi kebijakan penyelenggaraan negara dan pemerintahan.

Mandat sejati dari kekuasaan adalah kemaslahatan rakyat, kesejahteraan sebesar-besarnya bagi rakyat Indonesia:

تصرف الامام على الرعية منوط بالمصلحة

Karena itu, Pilpres, Pileg dan Pilkada tidak boleh berhenti sebagai ajang suksesi kekuasaan, tetapi momentum penyelenggaraan kembali komitmen penegakan kedaulatan rakyat di tengah situasi zaman yang berubah dan bergerak cepat.

Salah satu perubahan itu ditandai dengan gelombang Revolusi Industri 4.0 yang bertumpu pada penggunaan massif teknologi informasih berbasis internet (internet of things), kecerdasan buatan (artificial intilligent) dan analisis big data. Revolusi Industri 4.0 berdampak luas, terutama pada sector lapangan kerja. Menurut Mckinsey Global Institute, Revolusi Industri 4.0 akan menghilangkan 800 juta lapangan kerja di seluruh dunia hingga tahun 2030 karena diambil alih oleh robot dan mesin. Khusus di Indonesia, akan ada sekitar 3,7 juta lapangan kerja baru yang terbentuk, tetapi ada sekitar 52,6 juta lapangan kerja yang berpotensi hilang akibat revolusi digital.

Bagian dari peluang positif Revolusi Industri 4.0 telah kita rasakan di Indonesia dengan kemudahan-kemudahan transaksi online untuk memenuhi sejumlah hajat hidup masyarakat. Namun, bagian dari ancaman Revolusi Industri 4.0 adalah tergusurnya sejumlah lapangan kerja di tengah masalah pengangguran dan postur tenaga kerja yang belum bersaing. Sekitar 60% angkatan kerja kita adalah lulusan SMP ke bawah. Bagaimana nasib mereka? Dalam revolusi digital, mereka terancam terus-menerus menjadi korban pembangunan. Sector pentanian adalah penyumbang terbesar kedua PDB Indonesia. Namun di sector tempat bergantung hidup 82% rakyat miskin ini, 30% adalah petani cangkul yang masih terseok di gelombang Revolusi Industri 1.0.

NU perlu mengingatkan bahwa manusia dan kemanusiaan harus tetap merupakan dimensi utama dalam pembangunan. Tugas pemerintah adalah mengelola peluang positif revolusi digital sekaligus mereduksi, mengantisipasi, dan merekayasa ‘mudharat-mudharat’ teknologi agar tidak mendehumanisasi pembangunan. Jepang telah berbicara Revolusi Industri 5.0 yang mendedikasikan capaian teknologi untuk melayani kemanusiaan (human centered society). Indonesia, dengan segala kearifannya, harus mampu menyambut peluang-peluang baru tanpa menimbulkan jurang ketimpangan social yang lebih dalam.

Baca juga: LTN-NU Jatim 2019 Adakan Rakorwil & MoU Kerjasama Asosiasi Radio Jawa Timur

BAGAIMANA MENURUT KAMU?