Contoh Cerpen Santri Tentang Hidup Baru di Pesantren

oleh -
Contoh Cerpen Santri Tentang Hidup Baru di Pesantren

Cerpen santri ini mengisahkan tentang pengalaman hidup seorang santri pada saat awal hidup di pesantren.

Hari-hari Pertama hidup di pesantren

SantriNow | Waktu itu aku masih baru lulus Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Diniyah (MD). Orang tuaku menginginkanku untuk mengkuti jejaknya yakni mondok di pesantren dimana dulu bapak mondok. Namun sebelum dipasrahkan ke pesantren, bapak mendaftarkan aku Sekolah Madrasah Tsanawiyah (MTs) yang berada di bawah naungan keluarga pesantren.

Aku masih ingat betul, waktu ikut Masa Orientasi Siswa (MOS) di awal masuk MTs. Para siswa putra diwajibkan memakai songkok yang terbuat dari daun nangka dan berkalung tali rafia dengan mainan aneka bumbu masakan dapur seperti bawang putih. Waktu itu, aku masih pulang pergi ke sekolah karena belum mondok. Ada lagi yang masih terekam dalam pikiran sewaktu ikut MOS, yaitu waktu foto berdua dengan anak tetangga yang juga sekolah di MTs yang sama.

Pas hari Rabu tiba, tetangga rumah sedang ada acara majlis taklim, orang rumah memberi nama kompolan ketab. Yang ngisi acara tersebut tak lain adalah pengasuh pesantren yang bakal menjadi tempatku nyantri. Bapakku meski tidak ikut pengajian rutin itu juga ikut kumpul karena dindang. Nah dari situlah bapak berkesempatan sowan sekaligus cerata-cerita kecil. Saya yang waktu itu dapat tugas dari tuan rumah untuk menghidangkan kopi ke para jamaah yang hadir hanya melihat dari kejauhan.

Baca juga: Aku Bukan Mantan Santri

Tidak tahunya setelah acara kompolan ketab itu selesai, sang kyai tidak langsung pulang, ia masih cerita dengan bapak. Saya yang waktu itu ngambil cangkir yang sudah selesai dipakai itu gak tahunya dipanggil oleh sang kyai auranya penuh cahaya itu.

Saya dengan agak kaget campur canggung menghampiri beliau. “Cong (sebutan untuk anak-anak) kamu sekarang ikut saya ke pondok ya”, soalnya kata bapakmu ini, kamu akan dimondokkan, dari pada begitu, mending kamu ikut saya saja sekarang”. Saya tak bisa menjawab apa-apa, hanya bisa tertunduk.

Namun apa yang menjadi harapan sang kyai itu tidak terjadi, karena setelah saya pulang ke rumah, ibu tidak mengizinkan. “Jangan dulu nak, biar nanti bapakmu yang memasrahkan kamu ke sana”, tutur ibu. Akhirnya saya memilih berdiam di rumah tidak lagi ke luar apa lagi ke tempat bapak dan kyai ngobrol.

Tak lama kemudian kyai pun pamitan pulang. Setelah kyai sudah pulang, bapak pun tak lama menemui aku yang sedang ngobrol dengan ibu di rumah. Bapak pun bercerita banyak tentang ketertarikan kyai agar saya segera dipondokkan.

Sebenarnya saya pribadi dalam hati memang ingin mondok, jadi saya tidak mengsangsikan apa-apa terhadap cerita bapak kala itu.

Dan ternyata betul, tidak lama dari kejadian itu, tepatnya sepulang sekolah MTs, saya langsung dibawa ke pesantren oleh bapak yang kala itu ditemani oleh tetangga rumah yang tak lain adalah alumni pesantren tersebut. Saya pun dipasrahkan kepada sang pengasuh pesantren. Dari situlah status saya adalah seorang santri, santri zaman now kala itu.

Baca juga: Cerpen Santri Jaman Now dan Kiai Kehidupan