Santri Nih, Bukan Kaleng-Kaleng

oleh -294 views
Santri Bukan Kaleng-Kaleng
Santri Millennial harus percaya diri. Santri Zaman Now bukan kaleng-kaleng. Gambar: Rozi, Santri al-Amiroh Surabaya (doc santrinow.com)

SantriNow | “Menjadi santri menjadi abdi negeri”, begitulah kira kira bahasa yang tepat untuk memposisikan seorang santri  di era ini. Hal ini sebenarnya sudah terjadi sejak beberapa puluh tahun yang lalu, tepatnya sebelum Indonesia mengukuhkan kemerdekaan di atas semua penjajahan yang terjadi, karena ketika kita flashback kepada saat itu, santri mempunyai peran penting dalam kokohnya NKRI.

Era modernisasi saat ini secara hakiki adalah era dimana santri harus lebih menunjukkan diri, mengekspos segala bentuk perubahan negeri, bukan malah mengurung diri sekaligus menutup segala kemungkinan yang akan terjadi, yang perlu di lakukan saat ini adalah confidence terhadap eksistensi diri sendiri sebagai seorang santri.

Pesantren sebagaimana kita ketahui bersama adalah wadah dan lembaga pendidikan tertua yang pernah ada di Indonesia, dari hal ini sudah bisa kita temukan sebuah fakta yang menarik bahwa kehadiran lembaga pendidikan yang berbasis islami ini adalah bentuk militansi terhadap bumi pertiwi, jadi sebagai santri apa yang harus kita takutkan di era milleanialis saat ini?

Pada era yang sangat kelam santri mampu melumpuhkan beberapa bentuk penjajahan baik dari sejak kolonial belanda hingga pada lahirnya paham komunis pada saat itu. Era dimana merpati masih sebagai media pos surat untuk mengatur segala bentuk politik.

Baca juga: Santri Boleh Sarungan Tapi Otak Millennial

Maka pada era saat ini, digitalisasi yang sudah mumpuni, santri diharuskan mengikuti alur dari semua bentuk perubahan, karena radikalisme sudah bukan rahasia elit politik saja, melainkan sudah menjadi konsumsi publik.

Maka sebagai benteng dari NKRI harusnya sudah memantapkan diri menjadi tameng yang paling depan untuk menebas segala kemungkinan radikalisme yang sudah menyebar, bukan malah menutup diri karena rasa takut dan tidak percaya diri.

“Kita ini santri bukan kaleng-kaleng” saya kira kata kedua yang pas untuk menggambarkan potensi santri. Jika Mael Lee menyatakan dirinya preman terkuat di bumi, maka santri merupakan benteng terkuat untuk NKRI. Dan fakta yang menarik lagi bahwa pada era gonjang ganjing beberapa tahun yang lalu, seorang santri dengan gagahnya memimpin negeri ini,  santri yang selalu dicemooh oleh beberapa pihak hingga akhirnya dilengserkan karena dianggap melanggar konstitusi negeri sendiri.

Akan tetapi lagi lagi fakta yang menjawabnya, ratusan juta rakyat Indonesia saat ini rindu dengan sosoknya, rindu dengan gaya kepemimpinannya, rindu dengan kocaknya, rindu pula dengan sikap toleransinya. Dan perlu ditegaskan lagi, bapak bangsa yang satu ini adalah seorang santri, “Allahummagfirlahu KH. Abdurrahman Wahid” maka kita di era yang serba ada ini, juga akses yang sangat mudah kenapa kita tidak membuka diri?

Peluang yang sangat tinggi di era millenialis ini sejatinya sudah dimiliki oleh beberapa pesantren, sebut saja Gontor dengan gaya pesantren modern mampu mencetak tokoh-tokoh generasi yang saat ini bukan hanya berkecipung di kancah nasional saja dan itu bukti nyata bahwa santri bukan hanya berdiam dalam stigma murahan dari masyarakat yang menganggap bahwa santri hanya lah sekumpulan manusia sarungan yang kolot dan segala macam.

Yang tidak banyak diketahui oleh kebanyakan orang bahwa santri ditempa dan di didik untuk menjadi kreatif inovatif serta inspiratif, santri bukan kumpulan anak anak manja, bukan pula kumpulan plagiator apalagi hoaks, bukan cuma itu, santri juga dibekali dengan nilai moralitas dan spiritualitas serta santri dibiasakan bersikap terbuka dan kritis. Dan hal ini yang dibutuhkan oleh era millennial, jadi kaum millenialis sejati adalah kaum santri yang benar benar percaya diri.

Baca juga: Menjadi Pahlawan Santri Milenial Jaman Now

Modernisasi bukan melemahkan pengajaran islami akan tetapi berlaku sebalikya, dua puluh tahun yang lalu bahtsul masa’il mengharuskan santri dan para kyai membawa banyak kitab untuk dijadikan referensi, tapi saat ini cukup dengan satu gadget dan koneksi wifi, bukankah itu hal yang mudah?  Tapi mengapa kita harus berdiam diri dibawah tekanan percaya diri? 

“menjadi santri bukan alasan untuk tidak bersikap kritis dan mengurung  diri dari kemajuan tekhnologi”

Fahrur Rozi (Santri PP. Al Amiroh sekaigus Alumni Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-guluk Sumenep Madura)