Rasanya Hidup di Pesantren Memang Sakit-Sakit Sedap

oleh -269 views
RASANYA HIDUP DI PESANTREN

SantriNow | Hidup di pesantren memang wajib sabar menerima segala peraturan, waspada, dan selalu belajar. Jadi kalau ada pertanyaan, bagaimana rasanya hidup di pesantren? Maka jawaban yang jujur adalah tidak enak, tidak bebas.

Jadi kalau ada santri yang mengatakan, hidup di pesantren itu enak, itu namanya santri gila. Karena tidak ada anak yang hidup di pesantren enak. Karena pembaca sudah tahu sendiri bagaimana susahnya beradaptasi dengan kegiatan pesantren yang penuh selama 24 jam itu.

Sehingga manakala santri tidak bisa bersabar hidup di pesantren, ia pasti akan pulang dan tak mau kembali lagi. Bayangkan, anak seusia SMP dan SMA bahkan ada yang setingkat Sekolah Dasar harus melakukan aktfitas yang begitu padat. Apa tidak pusing?

1# Jam 3 malam sudah harus bangun untuk melaksanakan Sholat Malam, kemudian setelah itu Azan Subuh berkumandang, mereka pun Sholat Subuh bersama. Setelah itu wiridan, yasinan.

2# Jam 5 pagi santri harus ngaji Alquran dan setoran hapalan ke ustad atau ustadah. Habis itu bersih-bersih lingkungan pesantren kemudian Sholat Dhuha.

3# Jam 6.30 mereka sarapan, habis itu persipan ngaji Kitab Kuning di Langgar atau Masjid sampai jam 09 bahkan lebih. Setelah itu masih ada kegiatan lagi yaitu belajar bahasa asing (Arab dan Inggris), sampai jam 11.00 kadang kurang sedikit. Baru setelah itu para santri bisa istirahat.

4# Tidak lama mereka istirahat, sudah tiba waktunya Sholat berjamaah, sehingga mereka pun bergegas Sholat Dzuhur berjamaah hingga sampai jam 12.

Baca juga: Apa Kelebihan Belajar di Pondok Pesantren?

Separuh perjalanan aktivitas santri

5# Jam 12.30 para santri siap masuk sekolah formal seperti MTs dan MA, ada juga yang masuk kuliyah sampai jam 5.00.

6# Setelah itu, mereka pun makan, berlanjut bersih-bersih diri kemudian masuk Langgar atau Masjid untuk melaksanakan Sholat Magrib berjamaah, wiridan, ngaji Alquran dan Sholat Isya’ berjamaah.

7# Jam 7.30 santri pun siap-siap untuk mengikuti Sekolah Diniyah sampai jam 9.30. Sesudah itu masih ada ada kegiatan.

8# Mereka masih belajar lagi, yaitu belajar bahasa asing (Arab dan Inggris) malam hingga jam 10.00.

9# Setelah itu mereka masih kumpul lagi, karena ada pengumuman penting dan evaluasi. Kegiatan rutin semacam ini berlaku setiap hari, kecuali hari-hari libur seperti Ahad dan Jumat.

Dari sembilan macam pembagian waktu dalam 24 jam itu mereka dituntut mengikuti. Bila tidak mengindahkan peraturan maka takzir (hukuman) akan menanti. Maka tidak heran bila sering menyaksikan santri dihukum atau diberi peringatan.

Dengan itu bisa pembaca bayangkan perasaan gelisah santri baru yang masih belum terbiasa menjalankan kegiatan padat merayap itu. Sehingga bila mereka tidak bisa bersabar maka tidak akan lama mereka akan pulang.

Baca juga: Santri Baru Seperti Orang yang Baru Hidup di Perantauan

Namun bagi santri yang sudah terbiasa melakukan aktivitas pesantren semacam ini akan santai-santai saja. Mereka tidak ambil pusing ketika kondisi jiwanya tidak setabil, mereka akan tidur dimana pun berada, lebih-lebih pada saat ngaji.

Tidak heran, banyak lulusan pesantren ketika pulang jadi orang unggulan di kampungnya. Karena mereka sudah terbiasa makan asam, garam di pesantren (nyaris sempurna ujiannya). Dengan ini penulis katakan, jadi santri itu memang sakit-sakit sedap. (Anton S)