Naskah Drama, Kisah Seorang Juraij dan Ibunya yang Kecewa

oleh -626 views
Naskah Drama Santri Zaman Now

SantriNow | Naskah Drama ini mengisahkan tentang kejadian beberapa tahun yang silam. Ada sebuah kehidupan yang melibatkan seorang laki-laki bernama Juraij dan ibunya. Mereka hidup diantara para pengembala-pengembala. Ia dikenal sebagai seorang yang ahli ibadah, mempunyai banyak santri dan taat pada Tuhannya. Dan ini adalah sebuah hikayat masa silam dikalangan Bani Israel yang menyebut-nyebut ketekunan ibadah Juraij dengan sebuah fitnah yang kejam dan semua itu lahir atas sumpah seorang ibu yang kecewa.

Babak Tunggal

Seorang Juraij masuk panggung bersama para santrinya, meng-improv panggung dengan menyampaikan beberapa nasehat terhadap para santrinya

Juraij: wahai para santriku, anak anakku, kita harus selalu taat terhadap perintah Tuhan dan menjauhi larangannya. Dan kepada ibu bapak kita juga harus taat. Dalam ayat Alquran dijelaskan, “dan kami wajibkan manusia berbuat baik kepada kedua ibu bapanya, ibunya telah mengandungnya dengan menanggung kelemahan demi kelemahan (dari awal mengandung hingga akhir menyusunya)”.

Para santri: enggge pak kyai

Setelah itu ibunya pamit (bersuara dari belakang panggung) berpamitan kepada Juraij untuk pergi ke pasar

Ibu : Juraij, ibu pergi ke pasar dulu, belanja, teruskan pengajianmu

Juraij: iya bu, hati hati atau perlu saya antarkan ibu?

Ibu : tidak usah Juraij ibu jalan sendiri saja, teruskan saja pengajianmu bersama anak anak itu, Assalamualaikum

Juraij dan para santri : Waalaikum salam

Kemudian ibu Juraij pergi meninggalkan rumah, sementara Juraij dan para santrinya menyudahi ajian pada hari itu, dan mereka keluar panggung. Lalu kemudian sambil menungggu ibunya pulang dari pasar, Juraij masih saja menunggunya di tempat ibadahnya. Di saat kesibukan ibadahnya, tanpa ia sadari ibunya datang dan memanggil-manggil Juraij berkali kali, tetapi Juraij lebih memilih meneruskan shalatnya meskipun keadaan hatinya dibuat gamang oleh panggilan itu, kemudian ia berdoa

Juraij : dalam hati ini  ya Allah dihantui rasa bingung serta takut akan dosa dosaku bila mana ibuku merasa kecewa denganku, berikan aku petunjukmu ya Allah

Berselang hari berselang waktu, hari itu adalah hari yang ketiga kalinya  dimana Juraij tidak merespon panggilan ibunya, di saat ia sholat

Ibu : Juraij Juraij Juraij

Tetapi Juraij tetap tidak menjawab lagi karena dia sedang sibuk dengan ibadahnya. Kemudian dengan rasa yang amat kecewa ibunya berdoa kepada Allah, di kesibukan shalat juraij

Ibu : ya Allah jangan engkau matikan dia sehingga pada suatu hari ia akan bertemu dengan pelacur yang akan menyebut nyebut ibadahnya dengan fitnah yang kejam.

Beberapa waktu berlalu hari bergganti minggu bulan dan tahun, dan pada saat yang tidak diduga, datang sekelompok masyarakat beserta dengan seorang perempuan yang sedang menggendong anak bayi dan para santrinya pula mengobrak abrik tempat ibadah Juraij dan meruntuhkan bangunan bangunannya, serta merta mengolok-olok Juraij dengan bahasa yang kejam.

Ibumu adalah goa pertapaanmu

Santri 1: kita hancurkan tempat ibadah ini tidak ada gunanya lagi jika Juraij berzina

Santri 2: aku tidak ingin berguru pada orang yang suka berzina dan melakukan dosa besar

Santri 3: iya, ayo kita ratakan semua ini

Santri 1,2: ayo

 Kemuudian pada saat yang bersamaan, Juraij datang dan menanyakan hal yang telah mereka lakukan.

Juraij : hey, ada apa ini, mengapa kalian menghancurkan rumah dan tempat ibadahku?

Masy 1 : jangan berpura-pura tidak tahu kau Juraij, dasar orang munafik

Masy 2 : apakah kau belum sadar juga, kau telah melakukan dosa besar yang amat dibenci oleh Allah, dan sekarang kau lihat wanita ini

Masy 3: ini adalah anakmu yang lahir dari perzinahanmu dengan wanita ini, sungguh kau sudah mengotori kampung ini Juraij

Juraij : Astagfirullah, saya tidak pernah melakukan perbuatan itu, ini semua hanya fitnah. Dan jika benar saya yang melakukannya, apakah ada bukti yang bisa kalian tunjukkan pada saya?

Masy 2: kau masih butuh bukti yang bagaimana?

Masy 1: ini dia wanita yang telah kau dzalimi hingga mengandung dan melahirkan anak ini

Masy 3: anak dan wanita ini buktinya Juraij, masih butuh bukti apalagi?

Juraij : baiklah, jika bayi ini yang kalian jadikan bukti, saya akan bertanggung jawab, tetapi sebelum itu, berikan saya waktu sebenta untuk sekedar memohon pada Tuhan. Setelah itu saya akan berusaha bertanggung jawab atas semua tuduhan ini

Masy 1: baiklah jika itu keputusanmu, tapi asal kau tahu, Tuhan akan selalu berpihak pada yang benar

Kemudian Juraij shalat dua rakaat lalu meminta pada Tuhan agar kebenaran senantiasa Allah tunjukkan

Juraij : baiklah, sebelum semuanya riuh dan sebelum saya bertanggung jawab akan hal ini, terlebih dahulu izinkan saya bertanya kepada bayi ini, siapa sebenarnya yang salah pada hal ini

Juraij : wahai bayi yang tak berdosa, berbicaralah dengan izin tuhanmu, siapakah bapakmu yang sebenarnya, apakah memang aku bapakmu atau siapa?

Bayi : bapakku adalah seorang pengembala disebelah rumahmu, tuan

para masyarakat tercengang dan seakan akan mempertanyakan tentang hal itu kepada dirinya sendiri. Kemudian mereka menyadari akan tuduhan yang dituduhkan kepada Juarij, bahwasanya tuduhan itu tidaklah benar. Oleh sebab itu mereka semua meminta maaf kepada Juraij dan menciumi tangannya serta berjanji akan membanngun kembali tempat ibadah Juraij seperti semula atau bahkan jika Juraij meminta, akan mereka bangun dari emas

Baca juga: Kisah Kasih Ibu

Kisah Kasih Ibu

Masy 1 : saya minta maaf kyai

Masy 2 : kami berjanji akan bangun kembali tempat ibadah ini

Masy 3 : bahkan jikalau engkau meminta kami untuk kami bangun dari emas tempat ibadah ini, kami sanggup kyai, maafkan kami

Juraij : sebelumnya terimakasih tetapi tidak usah kalian bangun dari emas tempatku ini, cukup kalian bangun seperti semula saja jika kalian ingin membangunnya

Masy 123 : kami sanggup kyai

Kemudian Juraij menghadap kiblat dan  sujud syukur, lalu bersimpuh memohon maaf kepada Allah atas semua kesalahannya.

Sungguh kuasa Tuhan dengan beribu rahmat dan hidayahnya, kekhusyu’an Juraij membawanya kepada derajat yang lebih tinggi dan semua itu tidak lepas dari ketaatannya kepada Allah dan orang tuanya.

End

By: Fahrur Rozi