di , , , , , ,

Kaum Santri Wajib Kaya dan Produktif, Ini Contoh Ijtihad Ekonomi Santri Batik Ciwaringin Melawan Kemiskinan

Ijtihad Ekonomi Santri Batik Ciwaringin

CIWARINGIN, SantriNow |Ijtihad Ekonomi Santri Ciwaringin di masa penjajahan Belanda dan Jepanng hingga hari ini begitu dirasakan oleh masyarakat sekitar. Kaum santri ini berjuang mencari cara agar memiliki pendapatan yang banyak guna untuk memberi makan masyarakat sekitar yang kala itu terjerumus dalam jurang kemiskinan.

Akhirnya mereka menemukan pola untuk memiliki penghasilkan memuaskan yaitu membatik. Sehingga kemudian kita mengenal dengan istilah Batik Ciwaringin. Batik Ciwaringin ini sudah begitu popular di Nusanatara di masa penjajahan Belanda hingga hari ini.

Kaum santri tidak hanya membantu warga lewat bantuan secara langsung berupa makanan atau kebutuhan pokok lainnya, melainkan mereka juga melatih melatih warga bertahan hidup dengan membuat dan menjual batik.

Dikutip dari kompascom, Juat (11/01/19),”Sore menjelang malam setelah para santri selesai belajar agama, mereka datang ke desa-desa di lingkungan Kecamatan Ciwaringin untuk melatih warga membatik,” tutur Hasanudin Abdul Kohar yang akrab disapa Hasan di Rumah Batik “Risma”, Senin (7/1/2019).

Baca juga: Bermodal Blog, Kerajianan Tas Buatan Santri Klaten Tembus Asia dan Eropa

Ilustrasi Santri Membuat Batik
Perkembangan Kampung Batik Ciwaringin

Batik buatan para santri di Pesantren Ciwaringin ini bukan sembarang batik melainkan batik-batik berkelas internasional. Maka tidak heran jika Anda berkunjung kesana akan disuguhi motif-motif batik yang berkelas yang biasa dipakai orang-orang kaya, seperti motif Batik Mega Mendung, Paksi Naga Liman, Parran Keris, Singa Payung, Singa Barong dan lainnya.

Ada dua desa di Kecamatan Ciwaringin yang mencul sebagai pusat perhatian para pengunjung yakni Desa Babakan dan Desa Ciwaringin. Desa Babakan tumbuh sebagai “gundang pesantren”. Tercatat saat ini, pesantren yang ada di Desa Babakan berjumlah 33. Sementara Desa Ciwaringin, khususnya di lingkungan RT 5, 6, 7 RW 5, tepatnya di Blok Kebon Gedang, menjamur menjadi kawasan industri rumahan batik. 

Menurut pasangan suami istri Hasanudin Abdul Kohar (47), dan Nur Halifah Abdul Ajiz (46), motif Batik Ciwaringin yang didominasi gambaran perjuangan kaum santri di Desa Babakan menyelamatkan warga Kecamatan Ciwaringin dari kemiskinan dan kelaparan.

Namun seiring berjalannya waktu, hanya Desa Ciwaringin yang terus tumbuh sebagai kampung batik. Jejak kelaparan warga Ciwaringin ditoreh dalam motif Tebu Sekeret. Kata Hasan, motif ini menggambarkan, untuk bertahan hidup, warga Ciwaringin yang lapar, menyesap potongan batang tebu.

Ilustrasi Batik Ciwaringin Warna Madura
Pengaruh Motif Batik Ciwaringin

Batik yang digagas kaum santri ini sebenarnya tidak berdiri sendiri, bahkan Batik Ciwaringin ini dipengaruhi oleh Batik Lasem dan Madura. Seperti pada motif Bang Biron Dlorong (garis-garis diagonal merah dan biru dengan motif bunga), serta dipengaruhi Batik Indramayu seperti pada motif Kapal Kandas yang distilir menjadi susunan segitiga.

BAGAIMANA MENURUT KAMU?