Darurat Buzzer Account

oleh -367 views
Darurat Buzzer Account

Buzzer Account telah merajalela di media sosial. Account tak bertuan ini sengaja dibuat oleh pihak yang tak bertanggung jawab demi memecah belah bangsa Indonesia.

SantriNow | Berita menjadi salah satu spot yang seringkali mengundang banyak orang untuk membaca dan mengikuti alur kemana berita itu akan berakhir. Apalagi berita yang selalu menjadi trending topic seputar drama persaingan antar dua kubu menjelang pilpres 2019.

Bodohnya lagi, banyak netizen salah dalam mengkonsumsi berita. Filterisasi berita tidak menjadi fokus utama untuk kelayakan konsumsi sehat, malah senang search berita yang mengandung hoax dan ujaran kebencian. Masalah lainnya juga yang terjadi ialah para creator berita yang kurang cerdas dalam menyuguhkan berita kepada publik. Akibat filter yang nihil dan suguhan berita konyol, menciptakan mindsit anak bangsa rendah dan murahan.

Contoh, baru-baru ini ada sebuah berita yang mendadak viral yakni tentang santriwati petugas kebersihan di acara Harlah Muslimat NU ke-73 di Gelora Bung Karno Jakarta. Ada beberapa cuitan di media social yang menjadikan event ini sebagai senjata untuk menyerang organisasi NU secara khusus. Dari sini kemudian bermunculan fake account yang dengan leluasa membagikan cuitan tersebut di media sosialnya masing-masing. Which is hal ini dapat dengan mudah mempengaruhi masyarakat sekitar dan menimbulkan reaksi dan image buruk terhadap penyelenggara acara tersebut. Padahal cuitan itu belum tentu benar.

Santriwati memungut sampah membawa tong sampah di acara Harlah Muslimat NU ke-73 di GBK

Tidak hanya berhenti di situ dampak negatifnya. Akibat animo warganet yang masih tinggi dengan informasi sesat itu, muncullah buzzer tak bertuan yang sengaja dibuat untuk menabrakkan organisasi tertentu dengan organisasi lain.

Dan berita miring semacam itu terus akan digoreng segosong mungkin hingga menjadi fitnah besar seperti kasus pembakaran bendera almarhum HTI di acara Hari Santri Nasional 2018 itu. Bullying terhadap organisasi yang terkait mau tidak mau menjadi bomerang tersendiri bagi bangsa ini. Itu semua terjadi karena filterisasi berita yang nihil dan creator konten yang murahan sehingga menyuguhkan informasi tak penting di media social.

Dari itu, kita dituntut untuk lebih cerdas memahami berita sehingga tidak sembarangan berbagi cuitan orang di media sosial. Jangan mudah terpancing deng issue miring yang tahu-tahu muncul di layar handphoen kita. Baca dulu berita yang muncul hingga paham. Karena sekali kita membagikan berita bohong di media sosial dampak negatifnya akan berlipat-lipat.

Baca juga: Menyebar Informasi Hoak adalah Dosa Besar

Penutup

Sebagai penutup, penulis punya cerita tentang santri yang suka nyebar berita bohong.

Santri ini kelakuannya saban hari nyebar fitnah, dan yang difitnah adalah gurunya sendiri. Setelah beberapa lama, si santri ini sadar dan merasa bersalah besar kepada sang guru, hingga berujung permintaan maaf.

Sang santri mendatangi gurunya di pesantren, sembari memohon maaf.  Di depan sang kiai, santri tersebut pun mengutarakan permintaan maafnya.

Katanya: “guru, saya minta maaf karena sudah menyebar informasi bohong tentang guru.”

Gurunya menjawab: “oh ia, kamu sudah saya maafkan tapi jangan diulangi lagi!

Sekarang kamu pulang, bawa Kemoceng (pembersih kaca) ini, di jalan, kamu cabuti satu persatu bulunya ini hingga habis. Dan kembali lagi ke sini, carilah bulu yang kau buang tadi di jalan itu, berapa pun yang kamu kumpulkan, berikan ke saya”. “Ia guru”, sahut si santri.

Pulanglah si santri sambil mencabut Kemoceng di jalan-jalan hingga habis. Setelah itu, ia balik lagi ke pesantren sambil mencari bulu yang tadi ditaburnya. Alhasil, bulu Kemoceng yang sudah ditabur itu hanya ketemu dua helai saja, sisanya tidak tahu kemana. Karenanya si santri hanya menghaturkan dua helai Bulu Kemoceng kepada sang guru.

Kiai: “mana hasil Bulu Kemocengnya yang kau kumpulan?” Santri itu menjawab, “hanya ketemu dua helai saja, guru”.

Kiai: “ya begitu juga dengan fitnah cung. Biarpun kamu sudah minta maaf kepada saya, dan saya sudah memaafkanmu, namun berita bohong yang kamu sebarkan itu sudah nyebar di Facebook, Twitter, Instagram, Youtube dan media lainnya. Sehingga kamu tidak mungkin mengumpulkan itu kembali”, tutur sang guru. (*)

By: Fahrur Rozi

Editor: Muweil