Cerpen Santri Jaman Now dan Kiai Kehidupan

oleh -
Cerpen Santri Jaman Now dan Kiai Kehidupan
“Meskipun dengan kerja keras tak menjadi kaya?”

“Siapa bilang orang yang kerja keras mesti kayanya le?, ia kata para motivator itu kek. Mereka biasanya memoles kata-kata, menjual mimpi-mimpi kemewahan hidup, hidup serba tertarget. Targetnya pun sudah jelas, sepeda motor terbaru, rumah, mobil, dan liburan ke luar negeri setahun sekali. Untuk apa semua itu?” “Untuk kebahagiaan mungkin kek”

Kemudian sang kakek sambil menunjukkan telunjuk tangannya ke dadanya dan berkata: “Kebahagiaan itu di dalam sini le, di keringat yang netes di pasar itu, bukan di barang mewah, semakin kau mengejar materi, kamu akan semakin lelah, dan lama-lama kamu akan terasing dari hakikat kehidupan ini.

Dan pada akhirnya kamu hanya tinggal menunggu datangnya suatu waktu dan pada saat itu kamu akan tersentak dan sadar, apa arit semua ini? Tanpa ketenangan hati”. Namun saat kau sadar itu, hidupmu di dunia sudah berakhir. Santri Jaman Now itu mulai sadar tentang hakikat kehiduapan.

Santri Jaman Now Menerima Kurikulum Terakhir dari Kiai Kehidupan

Setelah si santri mulai sadar akan arti hakikat hidup, ia semakin rajin bekerja, saat fisiknya lelah, ia kerja dengan pikiran, hingga ia merasa dua-duanya lelah dan tidur pulas.

Saat semua sudah mulai berjalan lancar. Ternyata sang guru melarangnya pergi ke pasar sitiap pagi untuk jualan Tahu dan Tempe itu. Kata sang guru, “le kamu gak usah ke pasar lagi untuk jualan Tahu Tempe, biar saya dan Bunyainya saja yang ke pasar”.

“Kamu orang kaya le, dan dirimu belum memilih jadi tukang jualan Tahu Tempe atau tidak, karenanya saat kamu sudah mulai menikmati proses ini, kamu wajib berhenti dulu, supaya berjarak”

“Terus saya haru ngapain kek?” Tanya si santri.

“Ia terserah kamu le, tidak semua harus nunggu perintah saya. Menjalani hidup itu bukan seperti barisan anggota TNI atau Polri yang semuanya harus nunggu intruksi sang komandan”.

“Jadi sekarang, mulai hari ini kamu yang menentukan ingin berbuat apa disini, kamu susun kebutuhanmu apa, saya dan Bunyaimu hanya ngawal dari belakang. Nanti pada waktunya, kamu akan berjalan di jalanmu sendiri”.

“Apakah semua manusia terkutuk menjalani prosesnya sendiri kek?”

“Ia, mereka hidup dalam rahim ibunya sendiri, ia lahir juga sendiri, di kuburan nanti juga akan sendiri, dan menempuh shirathal mustaqiem pada hari kiamat pun sendiri. Jika pun ingin mencari teman, jadikan Allah dan Kanjeng Nabi Muhammad sang Rasul cahaya Agung saja sebagai kawanmu, sebagai penerangmu, sebagai penunjuk jalanmu, sudah itu saja le”. Selamat le, semoga perjalananmu berhasil dunia dan akhirat. Amin.

Penulis: Santri Mungil (Sebagian tulisan bersumber dari buku Santri dan Kiai Petani)

No More Posts Available.

No more pages to load.