Antara Profesi dan Status Sosial Santri Millennial

oleh -432 views
Santri Sebagai Prefesi dan Prestasi
Gambar: Editing (doc santrinow.com)

SantriNow | Materi memang selalu menciptakan aura kasih (aura lebih) terhadap status sosial Santri Millennial. Karena penilaian publik secara umum, memandang status sosial seseorang dari pekerjaannya. Semakin elit profesi seorang santri semakin cetar (bagus) pula ekspektasinya di mata publik.

Santri Millennial tidak memungkiri, bahwa hari ini banyak pekerjaan yang memang menjanjikan secara materi serta kesannya mewah sebut saja jadi seorang youtuber, dan pekerjaan serupa yang berafiliasi dengan google. Karenanya animo generasi millennial untuk bergelut di bidang ini cukup tinggi dan tentu saja persaingannya semakin ketat.

Akibat persaingan yang ketat akhirnya menjadi tidak sehat. Faktanya, banyak data tidak valid sengaja diunggah jadi tuntunan publik, bahkan parahnya lagi, hoak (berita bohong) pun jadi sarapan pagi para santri. Maka tidak heran bila di medsos popular, seperti Youtube, Facebook, Twitter, dan Instagram banyak video, status dan gambar yang mengarah kepada adu domba, caci maki dan adegan vulgar.

Di medsos tak jarang ditemui, video editing yang sengaja dibentur-benturkan antara tokoh satu dengan tokoh lain supaya penikmatnya terpengaruh. Anak seusia SMA dengan body begitu (mau disebut takut dosa) mempertontonkan adegan panas. Ada juga gambar editing seorang ulama yang sengaja diedit untuk mendiskreditkan.

Seperti kasus gambar anak kecil yang diinjak orang dewasa di bagian lehernya. Gambar itu sempat viral. Kemudian di bawah gambar itu ada keterangan begini, “rezim China zalim, tega-teganya menginjak anak kecil umat Muslim Uighur”. Padahal usut-usut punya usut, gambar anak kecil yang diinjak itu merupakan terapi pijat ala India untuk menghilangkan penyakit batuk.

Sampai di sini digitalisasi video, data dan gambar menjadi tidak mendidik dan malah menimbulkan keresahan publik. Dan di titik ini pula digitalisasi data mengajak publik untuk goblok berjamaah. Bagaimana tidak, video, konten dan gambar terus dishare ke group-group medsos, sampai akhirnya sajian itu viral seviral-viralnya. Apa tidak hancur moral santri sekarang bila saban hari disuguhi informasi yang hoak.

Maka bisa dikata, era sekarang ini adalah era manusia gagal berjamaah memanfaatkan media sosial sebagai media dakwah akibat banyaknya berita haok, prostitusi dan poker online.

Padahal para generasi masa lalu, dimana Facebook, Youtube, Twitter, Instagram, kala itu belum lahir, bahkan televisi pun masih jarang, berharap lahir suatu masa dimana segala urusan jadi mudah. Tapi setelah masa itu benar-benar lahir dan generasi millennial sebagai pemainnya hari ini, malah bertambah masalah.

Publik mudah diadu domba, publik mudah peralat oknom yang berkepentingan. He he he jadi benar-benar mudah sekarang.

Karena rasa gelisah dan tak tahu harus berbuat apa, akibat begitu mudahnya persoalan demi persoalan baru muncul akibat digitalisasi, terbersit dalam pikir ingin nostalgia ke masa-masa dimana teknologi dan digitalisasi bukan barang pokok yang harus dikonsumsi.

Baca juga: Santri Nih, Bukan Kaleng-Kaleng

Ada solusi konyol-konyol sedap yang ingin penulis kemukakan di sini sebelum tulisan ini berakhir

Sebelum promo aplikasi baru update di gadget, sebelum fitur Facebook update status, sebelum fitur Whatsap update chat, sebelum aplikasi Twitter dan Instagram update gambar, secepatnya update dulu kedewasaan dan kebijakan diri dalam bermedia sosial. Caranya mudah dan lugas:

1. Mari tanamkan dalam hati untuk update status positif bukan negatif.

2. Tancapkan dalam hati untuk melawan status negatif dengan konten positif.

3. Hindari komentar sampah yang tak berguna.

4. Share video, konten dan gambar positif serta beri emoji jempol bagi teman yang menyebarkan statsu positif.

5. Bertemanlah di media sosial dengan orang baik yang sedikit kece, caranya lihat status. Dengan status yang optimis dan sedikit menggelitik sobat akan tahu bahwa dia orang baik dan asyik.

6. Jangan gampang percaya dengan berita aneh entah itu berupa video, konten, apalagi gambar yang tak masuk akal.

7. Jangan kecanduan media sosial sebelum dompet donasi penuh. Biar tidak bingung saat paket data habis.

Sejatinya tekhnologi digital sangat bisa membentuk generasi santri berkarakter. Caranya tinggal kontrol saja diri sendiri, sebagaimana sudah penulis tuangkan 5 poin di atas. Jangan sampai medsos yang megontrol diri tapi sebaliknya.

Dan ini tugas pokok santri pemain media sosial untuk terus menebar kebaikan bukan kebencian, nyebar perkara hak bukan hoak.

Surabaya, 11 Januari 2019.

Fahrur Rozi (santri PP Al Amiroh  sekaligus alumni Pondok Pesantren Annuqayah)