Santri Jangan Lupa Petuah Gus Dur Perihal Bencana Korupsi di Indonesia

oleh
Petuah Gus Dur Perihal Bencana Korupsi di Indonesia

SantriNow | Bicara soal bencana korupsi di Indonesia, hingga hari ini masih terus mengguncang para elit bangsa. Walaupun banyak dari mereka sudah masuk buih, tapi masih lebih banyak yang berkeliaran bebas menikmati uang haram hasil merampok uang rakyat Indonesia.

Bermula dari Suharto sebagai presiden terlama Indonesia yakni 31 tahun (1967-1998). Suharto yang konon dapat julukan Bapak Pembangunan ini ternyata seorang koruptor. Karenaya, awal bencana korupsi di Indonesia bermula darinya.

Selama Suharto menjadi presiden, ia memberikan kursi kementrian kepada keluarganya sendiri dan memberikan sejumlah perusahaan besar untuk ditangani oleh anaknya.

Hasil korupsi yang dilakukan oleh Suharto juga tidak main-main, bahkan jika ditotal hasil korupsi yang dilakukan Seko dan Markospun (termasuk dua sosok pemimpin korup dunia) tidak sanggup mengalahkan Suharto.

Suharto berhasil melakukan korupsi sebesar 15-35 miliar Dolar Amerika, atau sekitar Rp 465 triliun.

Maka tidak salah bila Muhammad Suharto merupakan Presiden nomor satu terkorup di Dunia.

Itulah cikal-bakal suburnya bencana korupsi di Indonesia yang sudah mengguncang dunia.

Baca juga: Tangisan Gus Dur Bukan Soal Lenyapnya Harta dan Jabatan

Saat Gus Dur menjadi Presiden

Maka, ketika Gus Dur menjadi presiden, ia gencar sekali memerangi tindak korupsi. Bahkan Yusuf Kalla, Wiranto, dan beberapa mentri era Gus Dur dicopot gara-gara diduga kasus korupsi dan pelanggaran HAM.

Bukan hanya itu, dua departemen pun dibubarkan oleh presiden keempat ini karena dianggap sarangnya koruptor.

Mungkin saudara masih ingat tentang keputusan Gus Dur membubarkan Departemen Sosial dan Penerangan. Menurut Gus Dur, dua departemen itu dibubarkan karena korupsi.

“Dua depar itu yang semestinya melindungi rakyat malah korupsinya gede-gedean (besar-besaran), tuturnya saat hadir di acara bintang tamu acara Kick Andy tahun 2001 silam.

Gus Dur kala itu benar-benar ingin menegakkan kedaulatan hukum setegak-tegaknya dan seadil-adilnya. Namun sayang, kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid hanya bertahan satu tahun lebih sedikit.

Gus Dur dilengserkan oleh para musuh-musuh politiknya. Mereka mengadakan sidang istimewa di gedung senayan tanpa menghadirkan seorang presiden. Akhirnya Gus Dur pun jatuh dari kursi kepresidenan karena dilengserkan.

Akan tetapi, walaupun Gus Dur jadi presiden hanya seumur jagung, namun ia mampu mempertahankan Indonesia tidak jatuh kedalam jurang perpecahan akibat kerusuhan yang terjadi di beberapa daerah.

Dan secara personal, ketokohan cucu Hadratus Syeikh KH Hasyim Asy’ari ini mempu menjadi contoh sebagai pemimpin bersih dan demokratis.

Di luar itu, Gus Dur dikenal tokoh pluralitas, cendekiawan, politikus ulung, ulama, guru bangsa, dan sederet gelar kehormatan lainnya.

Baca juga: Tangisan Gus Dur Bukan Soal Lenyapnya Harta dan Jabatan

Ada beberapa kata petuah Gus Dur soal bencana korupsi di Indonesia, di antaranya:

1# Kata Gus Dur

“kita ini adalah bangsa besar yang sangat sanggup menilai jasa-jasa para pahlawan. Bukan bangsa kelas teri yang mau menghargai koruptor”.

Karenaya santri bila jadi seorang pemimpin atau apa pun jabatannya jangan sekali-kali korupsi. Karena tindakan korupsi sangat merugikan masyarakat luas dan keluarga Anda sendiri. Lihat keluarga Suharto sekarang.

2# Gus Dur berkata

“Negeri ini tidak akan hancur karena bencana atau berbeda. Tapi karena moral bejat dan perilaku korupsi”.

Bila korupsi meraja lela maka tidak menutup kemungkinan Indonesia hancur. Karenanya, santri harus menjadi penerus Gus Dur yang mati-matian membela kedaulatan hukum demi kelestarian NKRI.

3# Ungkapan Gus Dur

(Now)