Khutbah Jumat Gaya Santri Zaman Now

oleh -
Khutbah Jumat Gaya Santri Zaman Now

Jamaah shalat Jumat hafidhakumullâh,

Syekh Muhammad Mahmud al-Hijazi dalam Tafsir al-Wadlih menjelaskan ayat di atas sebagai berikut:

وتشير الآية إلى أن تعلم العلم أمر واجب على الأمة جميعا وجوبا لا يقل عن وجوب الجهاد والدفاع عن الوطن واجب مقدس, فإن الوطن يحتاج إلى من يناضل عنه بالسيف وإلى من يناضل عنه بالحجة والبرهان, بل إن تقوية الروح المعنوية, وغرس الوطنية وحب التضحية, وخلق جِيْلٍ يَرَى أَنَّ حُبَّ الوَطَنِ مِنَ الإِيمَانِ ، وَأَنَّ الدِّفَاعَ عَنْهُ وَاجِبٌ مُقَدَّا هَذَا أَسَاسُ بِنَاءِ الأُمَّةِ ، ودَعَامَةُ اسْتِقْلَالِهَا.

Artinya: “Ayat ini mewajibkan belajar ilmu yang diperlukan bagi umat, yang tidak mengurangi kewajiban jihad, dan mempertahankan tanah udara juga merupakan kewajiban yang suci. Karena tanah air butuh orang yang berjuang dengan pedang, dan juga orang yang berjuang dengan argumentasi dan dalil. Bahwasannya memperkokoh moralitas jiwa, menanamkan nasionalisme dan gemar berkorban, mencetak generasi yang berwawasan ‘cinta tanah air sebagian dari iman’, serta mempertahankannya (tanah air) adalah membawa yang suci. Inilah pondasi bangunan umat dan pilar kebebasan mereka. ”(Muhammad Mahmud al-Hijazi, Tafsir al-Wadlih , Beirut, Dar Al-Jil Al-Jadid, 1413 H, Juz 2, hal. 30)

Ayat-ayat di atas diuraikan oleh para mufassir di dalam kitab tafsirnya masing-masing merupakan dalil cinta tanah air di dalam Al-Qur’an Al-Karim.

Jamaah shalat Jumat hafidhakumullâh,

Kaitannya dengan tema ini, ada sebuah hadits Nabi Muhammad SWA

عن أنس أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا قدم من سفر فنظر إلى جدرات المدينة أوضع ناقته وإن كان على دابة حركها من حبها ……. وفي الحديث دلالة على فضل المدينة وعلى مشروعية حب الوطن والحنين إليه.

Artinya: “Diriwayatkan dari sahabat Anas; itu Nabi SAW kompilasi kembali dari bepergian, dan melihat dinding-dinding madinah beliau mempercepat perjalanan. Jika dia menunggangi maka dia menggerakkanya (untuk mempercepat) karena keinginannya pada Madinah. (HR. Bukhari, Ibnu Hibban, dan Tirmidzi).

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalany (wafat 852 H) dalam kitabnya Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari (Beirut, Dar Al-Ma’rifah, 1379 H, Juz 3, hal. 621), topik yang digunakan di hadits, seperti dalil (petunjuk ): pertama, dalil atas keutamaan kota Madinah; kedua, dalil disyariatkannya cinta tanah air dan rindu ditangkap.

Sependapat dengan Al-Hafidz Ibnu Hajar, Badr Al-Din Al-Aini (wafat 855 H) dalam kitabnya ‘Umdatul Qari Syarh Shahih Bukihari menyatakan:

Ulasan: دَلَالَة عَلَى فَضْلِ الْمَدِينَةِ وَعَلَى مَشْرُوعِيَّةِ حُبِّ الوَطَنِ وَاْلحِنَّةِ إِلَيْهِ

Sungguh; “Diucapkan (hadits) terdapat dalil (petunjuk) atas keutamaan Madinah, dan (petunjuk) atas disyari’atkannya cinta tanah air dan rindu terikat.” (Badr Al-Din Al-Aini, Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari , Beirut, Dar Ihya ‘i Al-Turats Al-Arabi, Juz 10, hal. 135)

Abdurrahim bin Husain Al-Irak (wafat 806 H) di dalam kitabnya Tatsrib fi Syarh Taqribil Asanid wa Tartibil Masanid , pada hadits yang sama, juga mengutip pendapatnya Al-Suhaily:

فَقَالَ السُّهَيْلِيُّ فِي هَذَا دَلِيلٌ عَلَى حُبِّ الْوَطَنِ وَشِدَّةِ مُفَارَقَتِهِ عَلَى النَّفْسِ.

Arti: “Al-Suhaily mengatakan: di sinilah seharusnya dalil atas cinta tanah dan beratnya dilepaskan dari hati.” (Abdurrahim Al-Irak, Tatsrib fi Syarh Taqribil Asanid wa Tartibil Masanid , Beirut, Dar Ihya’i Al-Turats Al-Arabi , Ju 4, hal. 196)

Pemaparan Ayat Quran dan Hadis Nabi di atas menunjukkan bahwa spirit cinta tanah air juga dibahas dalam al-Quuran dan as-Sunnah. Karenaya tidak benar vonis cinta tanah air tidak berdalil.

باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ وذِكْرِ الحَكِيْمِ. إنّهُ تَعاَلَى جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ