Khutbah Jumat Gaya Santri Zaman Now

oleh -
Khutbah Jumat Gaya Santri Zaman Now

Jamaah shalat Jumat hafidhakumullâh,

Syekh Ismail Haqqi Al-Hanafi Al-Khalwathi (wafat 1127 H) dalam tafsirnya Ruhul Bayan mengatakan:

وفي تفسير الآية إشارة إلى أن حب الوطن من الإيمان, وكان رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يقول كثيرا: الوطن الوطن, فحقق الله سبحانه سؤله ……. قال عمر رضى الله عنه لولا حب الوطن لخرب بلد السوء فبحب الأوطان عُمِّرَتْ البُلْدَانُ.

Artinya: “Di dalam tafsirnya ayat (QS. Al-Qashash: 85) merupakan suatu petunjuk atau isyarat” cinta tanah air dari iman “. Rasulullah SAW (dalam perjalanan hijrahnya menuju Madinah) banyak sekali menyebut kata; “Tanah air, tanah air”, kemudian Allah SWT memulai kembali (dengan kembali ke Mekah)… .. Sahabat Umar RA berkata; “Jika bukan karena cinta tanah air, niscaya akan merusak negeri yang jelek (gersang), maka sebab cinta tanah air lah, dibangunlah negeri-negeri”. (Ismail Haqqi al-Hanafi, Ruhul Bayan , Beirut, Dar Al-Fikr, Juz 6, hal. 441-442)

Selanjutnya, ayat yang menjadi dalil cinta tanah air menurut ulama yaitu Al-Qur’an surat An-Nisa ‘ayat 66.

وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِم أَنِ اقْتُلُوْا أَنْفُسَكم أَوِ أخرُجُوا مِن دِيَارِكْمْنام

Artinya: “Dan sungguh jika seandainya Kami meminta kepada mereka (orang-orang munafik): ‘Bunuhlah diri kamu atau keluarlah dari kampung halaman kamu!’ niscaya mereka tidak akan dilakukan, kecuali sebagian kecil dari mereka … “(QS. An-Nisa ‘: 66).

Syekh Wahbah Al-Zuhaily dalam tafsirnya al-Munir fil Aqidah wal Syari’ah wal Manhaj menyebutkan:

وفي قوله: (أو اخرجوا من دياركم) إيماء إلى حب الوطن وتعلق الناس به, وجعله قرين قتل النفس, وصعوبة الهجرة من الأوطان.

Menentang: “Di dalam firman-Nya ( وِ اخْرُجُوْا مِنْ دِيَارِكُمْ ) terkait isyarat akan cinta tanah air dan orangutan, dan Allah menjadikannya jauh dari halaman halaman dengan menggunakan pengaman, dan juga hijrah dari tanah air.” ,  al-Munir fil Aqidah wal Syari’ah wal Manhaj , Damaskus, Dar Al-Fikr Al-Mu’ashir, 1418 H, Juz 5, hal. 144)

Jamaah shalat Jumat hafidhakumullâh,

Pada kitabnya yang lain, Tafsir al-Wasith , Syekh Wahbah Al-Zuhaily mengatakan:

وفي قوله تعالى: (أو اخرجوا من دياركم) إشارة صريحة إلى تعلق النفوس البشرية ببلادها, وإلى أن حب الوطن متمكن في النفوس ومتعلقة به, لأن الله سبحانه جعل الخروج من الديار والأوطان معادلا ومقارنا قتل النفس, فكلا الأمرين عزيز, ولا يفرط أغلب الناس بذرة مِنْ تُرابِ الوَطَنِ مَهْمَا تَعَرَّضُوْا لِلْمَشَاقِّ والمَتَاعِبِ والمُضَايَقاتِ.

Yang dimaksud: Di dalam firman Allah “keluarlah dari kampung halaman kamu” yang dimaksud adalah yang jelas akan bergantung pada manusia dengan negaranya, dan (isyarat) tentang cinta tanah air adalah hal yang melekat di hati dan terhubung dengan yang terkait. Karena Allah SWT membuat keluar dari kampung halaman dan tanah air, layak dan sebanding dengan membawa diri. Kedua hal tersebut sama beratnya. Orangutan tidak akan melepaskan sedikitpun tanah dari negaranya manakala mereka dihadapkan pada penderitaan, kesulitan, dan kesulitan. ”(Wahbah Al-Zuhaily, Tafsir al-Wasith , Damaskus, Dar Al-Fikr, 1422 H, Juz 1, hal. 342)

Ayat Al-Qur’an selanjutnya yang menjadi dalil cinta tanah air, menurut ahli tafsir kontemporer, Syekh Muhammad Mahmud Al-Hijazi yaitu pada QS. At-Taubah ayat 122.

وما كان المؤمنون لينفروا كافة فلولا نفر من كل فرقة منهم طائفة ليتفقهوا في الدين ولينذروا قومهم إذا رجعوا إليهم لعلهم يحذرون

Artinya: Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk meminta izin kepada kaumnya, mereka harus kembali, agar mereka dapat mengizinkan sendiri. (QS. At-Taubah: 122)