Khutbah Jumat Gaya Santri Zaman Now

oleh -
Khutbah Jumat Gaya Santri Zaman Now

SantriNow | Contoh khutbah jumat untuk para santri zaman now dengan tema “Pentingnya Cinta Tanah Air”.

الحَمْدُ للهِ، اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى الِه وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أَمَّا بَعْدُ: فَيَاأيُّهَا الإِخْوَان، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمْ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وقال تعالى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

صَدَقَ اللهُ العَظِيمْ

Jamaah shalat Jumat hafidhakumullâh,

Mari jaga negeri ini dari segala propaganda yang akan memecah belah NKRI.

Hadratus Syeikh Kyai Hasyim Asy’ari pendiri jam’iyah Nahdlatul Ulama membuat jargon “mencintai tanah air bagian dari iman” (حب الوطن من الايمان).

Tujuan beliau menciptakan jargon tersebut tiada lain agar kita sebagai santrinya bisa berjuang serta menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang di dalamnya ada kurang lebih 1.340 suku, 150 karya budaya, 6 agama, dan 652 bahasa.

Hingga kemudian KH Wahab Hasbullah, membuat nyanyian hubbul wathon minal iman (حب الوطن من الايمان) tujuan sama supaya generasi penerusnya sadar akan pentingnya menjaga keutuhan negara.

Jamaah shalat Jumat hafidhakumullâh,

Sungguh, mencintai tanah air merupakan sesuatu yang sifatnya alami pada diri manusia. Karena sifatnya yang alamiah melekat pada diri manusia, maka hal ini tidak dilarang oleh agama Islam, sepanjang tidak bertentangan dengan agama / nilai-nilai Islam.

Meskipun cinta tanah air bersifat alamiah, bukan berarti Islam tidak sah. Islam sebagai agama yang sempurna bagi manusia, sesuai dengan kebutuhan manusia dalam air tanahnya, agar menjadi manusia yang dapat memaksimalkan dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara, serta memiliki keseimbangan hidup di dunia dan akhirat.

Berkenaan dengan vonis bahwa cinta tanah tidak ada dalilnya, maka guna menjawab vonis ini, perlu kiranya kita mencermati pembaruan ini.

Salah satu ayat Al-Qur’an yang menjadi cinta tanah air menurut penuturan para ahli tafsir adalah Qur’an surat Al-Qashash ayat 85:

إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ

“Sesungguhnya (Allah) yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur’an benar-benar akan memulihkan kamu ke tempat kembali.” (QS. Al Qashash: 85)

Para mufassir dalam menanyakan kata “معاد” terbagi menjadi beberapa pendapat. Ada yang menangkan kata “معاد” dengan Makkah, akhirat, kematian, dan hari kiamat. Namun menurut Imam Fakhr Al-Din Al-Razi dalam tafsirnya Mafatih Al-Ghaib, mengatakan bahwa pendapat yang lebih penting adalah pendapat yang ditafsirkan dengan Makkah.