di ,

Ini Dia Ulama Su’ Versi Santri Zaman Now

Ini Dia Ulama Su’ Versi Santri Zaman Now

SantriNow | Ulama Su’ (jahat) menurut santri zaman now adalah jenis ulama yang menyalah gunakan ilmunya untuk kepentingan hawa nafsunya. Mereka memperalat umat atau pengikutnya demi kepentingan duniawinya.

Biasanya ulama jenis ini mengemas kepentingan syahwatnya dengan kemasan agama, seolah-olah memang sedang berjuang demi agama, padahal hakikatnya tidak.

Kaitannya dengan masalah ulama su’ ini, Ibnu Rusyd pernah berkata “jika engkau ingin menguasai orang bodoh, kemaslah segala kejahatanmu dengan bungkus agama”.

Apa yang disampaikan Ibnu Rusyd ini juga sejalan dengan apa yang pernah dilontarkan al-marhum Gus Dur, beliau mengatakan “jargon memperjuangkan Islam sebenarnya adalah memperjuangkan suatu agenda politik tertentu dengan menjadikan Islam sebagai kemasan dan senjata. Langkah ini sangat ampuh, karena siapa pun yang melawan akan dituduh melawan agama”

Dengan begitu jelas, orang yang merasa dirinya ustadz, kyai, lebih-lebih ulama yang notabennya diakui ilmu agamanya, bila menjadikan ilmunya untuk kepentingan hawa nafsu dan syahwatnya, ulama jenis ini bisa masuk golongan ulama jahat (su’).

Baca juga: Pengertian Santri Versi Ulama dan Santri Zaman Now

Stereotipe ulama su’

Maaf bukan maksud menggurui. Selama ini banyak orang yang salah paham tentang siapa ulama su’ itu. Mereka rata-rata berpedapat bahwa ulama su’ adalah mereka para pemuka agama Islam yang dekat dengan penguasa.

Kalau ulama su’ dimaknai setiap ulama yang dekat dengan penguasa, maka Imam Syafi’i yang pada masanya pernah menjabat sebagai mufti (juru fatwa) juga akan tergolong kepada ulama su’. Dan ini tidak bisa dibenarkan.

Pasca kemerdekaan juga, KH Wahid Hasyim menjabat sebagai Mentri Agama pertama negeri ini. Atau pada zaman sekarang, banyak kyai atau ulama yang memiliki posisi penting di daerah maupun di pusat pemerintahan.

Karenaya, tidak benar apabila setiap ulama yang dekat dengan penguasa atau memiliki jabatan penting di pemerintahan dicap sebagai ulama su’. Maka sekali lagi ulama su’ adalah mereka yang menggunakan ilmu agamanya untuk kepentingan syahwatnya, baik ia dekat dengan penguasa atau pun tidak.

Bahasanya Cak Nun, tidak setiap manis itu gula dan tidak setiap panas itu api. Artinya tidak setiap ulama yang dekat dengan penguasa kemudian digolongkan kepada ulama su’ (jahat).

Bahkan dulu di era Suharto dimana presiden ini dicap sebagai penguasa terkorup di dunia tapi meskipun begitu masih ada ulama yang dekat dengannya. Sebagai contoh R KH As’ad Syamsul Arifin Situbondo.

Apakah kemudian R KH As’ad Syamsul Arifin akan dicap sebagai ulama su’ karena dekat dengan punguasa zalim? Jawabannya tidak, karena meskipun beliau seolah-olah mendukung sepak terjang Suharto waktu itu nyatanya beliau hanya ingin melindungi NU dari cengkraman penguasa zalim.

Makna duniawi dalam kontek agama bukan berarti banyaknya harta benda dan tingginya jabatan, melainkan setiap sesuatu yang tidak bernilai ibadah. Bisa jadi ulama memiliki harta yang begitu banyak, tapi setiap ada orang yang kesusahan ia bantu, pendidikan geratis bagi para santri-santri-nya dan seterusnya.

Artinya boleh seja ulama bergelimang harta namun tidak terpedaya oleh kekayaannya. Boleh saja ulama memiliki kedudukan strategis di pemerintahan tapi ia tidak terpedaya dengan jabatannya.

Terakhir penulis akan mengutip hadits Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam. Rasulullah saw. bersabda: « ﺃَﻻَ ﺇِﻥَّ ﺷَﺮَّ ﺍﻟﺸَّﺮِّ ﺷِﺮَﺍﺭُ ﺍﻟْﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﻭَﺇِﻥَّ ﺧَﻴْﺮَ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ …

Ingatlah, sejelek-jelek keburukan adalah keburukan ulama dan sebaik-baik kebaikan adalah kebaikan ulama.

Kesimpulan

Ulama su’ adalah ulama yang menyalahgunakan ilmunya

BAGAIMANA MENURUT KAMU?