Belajar Pluralisme dari Khutbah Haji Wada’ Rasulullah SAW

oleh -
Belajar Pluralisme dari Khutbah Haji Wada’ Rasulullah SAW

Pesan Nabi Berikutnya

Aku telah meninggalkan di tengah mereka sesuatu yang sekali-kali kalian tidak akan tersesat sesudahnya selagi kalian tetap berpegang teguh kepadanya, yaitu kitab Allah.

Aku telah meninggalkan di tengah mereka sesuatu yang sekali-kali kalian tidak akan tersesat sesudahnya selagi kalian tetap berpegang teguh kepadanya, yaitu kitab Allah.

Wahai manusia, sesungguhnya tidak ada nabi sesudah aku. Sembahlah Allah, dirikanlah shalat lima waktu, laksanakan puasa Ramadhan, bayarlah zakat dengan sukarela, tunaikanlah haji dan taatilah ulil amri kalian, niscaya kalian masuk sorga.

Tentu kalian bertanya-tanya tentang diriku. Lalu apa yang kalian pertanyakan?

Mereka menjawab,”Kami bersaksi bahwa engkau telah bertabligh melaksanakan kewajiban dan nasehat.”

Lalu bersabda sambil mengacungkan telunjuknya ke langit dan mengarahkannya kepada hadirin,”Ya Allah, persaksikanlah!” (Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, 2/265).Orang yang menirukan sabda beliau Rabi’ah bin Umayyah bin Khalaaf.

Setelah Rasulullah SAW menyampaikan pidato, turunlah QS Al Maidah ayat 3, yang menyatakan bahwa pada hari itu telah sempurnalah nubuwwah (misi kenabian) Muhammad SAW yang merupakan satu rahmat kenikmatan yang tiada tara bagi kaum muslimin berupa agama Islam, yang nyata-nyata telah mendapat Ridha dari Allah SWT Yang Maha Pengasih.

Pidato khutbah selesai. Bilal kemudian mengumandangkan adzan, disusul dengan iqomah dan shalat Dzuhur qashar dan jama’ secara berjama’ah diimami Rasulullah SAW dan diikuti oleh para jama’ah. Begitu selesai shalat Dzuhur, Bilal iqamah lagi untuk melaksanakan jama’ah shalat Ashar. Selesai shalat, dengan menunggang Al Qashwa, beliau menuju tempat wukuf. Di situ beliau menghabiskan wukuf sampai matahari terbenam.

Keremangan senja lambat laun menghilang. Dengan mengendong Usamah, beliau melanjutkan perjalanan menuju Mina. Di sana shalat Maghrib dan Isya dengan satu adzan dan dua iqamah tanpa ada shalat apa pun di antara keduanya, kemudian beliau berbaring sampai fajar menyingsing.

Setelah adzan dan iqamah , beliau lalu menunaikan shalat Subuh dan kemudian beliau naik Al Qashwa menuju Masy’aril Haram. Dengan menghadap qiblat beliau berdoa, bertahlil dan bertakbir meng-Esa kan Allah SWT.