Aroma Haul Gus Dur Kembali Datang dari Ciganjur

oleh -250 views
Aroma Haul Gus Dur kembali datang dari ciganjur

JAKARTA, SantriNow | Haul Gus Dur yang ke-9 sudah digelar di pesantren Ciganjur, Jumat malam(21/12/18). Acara Peringatan Wafatnya KH Abdurraman Wahid ini mengambil tema,

“Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan”.

Menurut putri sulung Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid, Alissa Wahid, terkait pengambilan tema, ia menjeaskan bahwa tema diambil dari kata-kata almarhum Gus Dur.

“Tema ini Kami ambil dari kata dia (Gus Dur), yaitu ‘yang lebih penting dari politik adalah kesejahteraan’,” kata Alissa dalam perhelatan Haul ke-9 Gus Dur, Jakarta Selatan, Jumat (21/12) malam.

Kata Alissa, kalimat yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan, karenanya, itu juga yang kemudian dijadikan tema haul ke-9 Gus Dur kali ini. Menurutnya, kalimat itu sangat relevan dengan kehidupan Indonesia di tengah tahun politik sekarang ini.

“Di tahun politik ini, jejak-jejak Gus Dur bisa kita kaji. Saat ini kelompok sibuk dengan perebutan tahta politik hanya bisa muncul dalam bentuk merebut kursi-kursi kekuasaan, saat kekuasaan dijadikan jalan mengeruk kekayaan negara,” terang Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian ini.

“Di saat seperti ini kita perlu menghadapi politik yang berbeda, politik untuk kesejahteraan dan di sana lagi jejak Gus Dur kita temukan,” imbuhnya.

Baca juga: Santri Jangan Lupa Petuah Gus Dur Perihal Bencana Korupsi di Indonesia

Cerita Alissa Tentang Kesuksesan Gus Dur

Alissa menceritakan kisah sukses tentang perjalanan Gus Dur semasa disetujui presiden. Menurutnya, banyak kebijakan dan sikap Gus Dur yang lebih mementingkan rakyatnya dari kekuasaan, mulai mendatangi Timor Leste setelah dipisahkan dari Indonesia hingga penggantian nama Irian Jaya kembali ke Papua.

Alissa juga menceritakan kisah kompilasi Gus Dur lengser dari jabatan presiden pada tahun 2001. Ia menceritakan, awalnya Gus Dur ingin bertahan karena menerima tak percaya secara konstitusional.

“Kenapa Bapak masih bertahan, kan musuh Bapak banyak. Lalu dia bilang, ‘Nak, kita berjuang demi kebenaran, keadilan tidak bisa divoting. Bapak tidak akan membantah karena tidak sesuai konstitusi,’” tutur Alissa menirukan perkataan Gus Dur.

Namun, tetiba Gus Dur berubah pikiran dan diterima meninggalkan Istana Negara. Menurutnya, Gus Dur rela dan ikhlas mencopot jabatan presiden karena mendengar kabar ada gerakan massa yang menuju istana negara untuk membelanya.

“Dia dilapori, ada ribuan orang yang pindah ke Jakarta, siap jihad mempertahankan pemimpin mereka. Kabar yang membuat Gus Dur keluar dari Istana. Karena tidak ada satu pun yang melibatkan pemilihan yang mengandung tumpah darah rakyat, demikian pula halnya dengan tergantung pada politik,” tandasnya.

Menampilkan tokoh juga turut hadir selain Mahfud Md adalah Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Imam Besar Masjid Istiqlal, KH Nasaruddin Umar, Jimly Asshiddiqie, Agum Gumelar, Luhut Binsar Panjaitan, seniman Sujiwo Tejo, serta penyair KH Zawawi Imron.

Pengasuh Pengajian di Kota Depok Habib Abu Bakar Al-Attas, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, seniman Ebiet G Ade, penulis dan tokoh perempuan Tuti Herati Nurhadi, tokoh jurnalis Aritides Katoppo, dan tokoh-tokoh lainnya. (Now/nu)