Pesantren Wujudkan Generasi Santri Pejuang

oleh
Pesantren Wujudkan Generasi Santri Pejuang

HIKAYAT, SantriNow | Program santri lulusan Kulliyyatul Mu’allimin (Guru Kuliyah) ditanya oleh KH Imam Zarkasyi, salah satu pendiri Pesantren Gontor, “Apa kamu sudah mengajar?” Santri itu menjawab, “Belum Pak Kyai!” Maka, Kyai Imam Zarkasyi pun bertutur, “ Mati kamu! ”

Jawaban Kyai Imam Zarkasyi itu menyiratkan, bahwa seorang santri yang tidak mengajarkan ilmu yang didapat di pesantren, dianggap sama dengan tidak hidup. Ia pun mengatakan ‘orang besar’ bukan orang yang memiliki pangkat atau jabatan tinggi, harta berlimpah, atau banyak ilmu. Tapi, ‘orang besar’ adalah orang yang ikhlas mengajar mengaji, meskipun di daerah terpencil.

“Ruh perjuangan” yang ber-tahunus berat hidup di dunia pesantren. Sebuah kitab legendaris yang dikaji di dunia pesantren, yaitu Kitab Ta’limul Muta’allmin , karya Zyekh al-Zarnuji menyebutkan, bahwa ilmu Yang bermanfaat Adalah Yang diamalkan Dan diajarkan ATAU disebarkan Ke ‘masyarakat.

Kegigihan para santri dalam menjaga aqidah dan akhlak masyarakat muslim Indonesia selama ratusan tahun telah menjadi benteng yang tangguh dalam agama Islam Indonesia dari pemurtadan oleh kaum penjajah. Bahkan, sejarah kemudian juga mencatat, betapa hebatnya peran kyai dan santri dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Dan memang, ilmu yang bermanfaat, melihat tujuan utama. Yakni, meraih ilmu yang bermanfaat. Nabi ﷺ ﷺ memerintahkan, “ Mintalah kamu kepada Allah ilmu yang bermanfaat, dan berlindunglah kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat.” ( HR. Ibn Majah).

Dunia pendidikan kita memang ‘unik’! Nabi Muhammad ﷺ per padatanyaknya: “Mencari ilmu itu Wajib bagi setiap muslim!” Yang terkunci adalah ilmu yang berharga. Tapi, tepatnya telaah kurikulum pendidikan formal kita, dari TK sampai tingkat S-3, perlu ketelitian tentang ilmu yang wajib dicari atau ilmu yang bermanfaat? Akumulasi, anak-anak muslim tidak mendapatkan haknya untuk beribadah dijalankan agamanya dengan baik.

Baca juga: Benteng Terakhir Umat Islam Indonesia adalah Pesantren

Sejarah Pesantren di Indonesia

Sejarah pendidikan Islam di Indonesia yang dipelopori oleh para ulama mencontohkan tradisi ilmu yang baik. Di masa pemerintahan kolonial Belanda, anak-anak di Jakarta dan sekitarnya, misalnya, biasa mengaji kitab Adabul Insan dan Risalah Dua Ilmu , karya Habib Sayyid Utsman, mufti Betawi. Kitab ini mengajarkan tentang bagaimana ilmu dan cara yang (adab) mencari ilmu yang benar.

Tidak heran, jika dari madrasah para ulama di Betawi, dulu, lahir ulama-ulama dan guru-guru yang hebat yang gigih menguasai ilmu dan mendidik masyarakat. Keikhlasan dan kegigihan para ulama itu memiliki peran besar dalam mengawal aqidah dan akhlak masyarakat, dan mereka dari pemurtadan.

Di kampung-kampung, di tahun 1970-an, biasanya anak-anak tingkat SMP mengaji kitab Bidayatul Hidayah , karya Imam al-Ghazali. Di kitab ini ada uraian tentang ciri-ciri ilmu yang bermanfaat: ilmu yang menambah rasa takut kepada Allah, semakin menyadarkan manusia akan kekurangan dalam ibadah, semakin mengurangi cinta dunia; dan juga semakin meningkatkan kecintaan terhadap akhirat. Inilah daftar ilmu yang wajib dicari!

Hanya dengan niat ikhlas, ilmu yang bisa diraih. Di mukaddimah Bidayatul Hidayah, Imam al-Ghazali mengingatkan, bahwa jika seseorang mencari pengetahuan dapat diakui, dapat dipercaya dapat menghimpun harta benda dunia, dan niat-niat yang sejenisnya, maka secara sempurna ia sedang menghancurkan agamanya sendiri, merusak diri dan gurunya, dan jual akhirat dengan dunianya!

Ilmu yang manfaat adalah syarat-syarat untuk melahirkan manusia yang baik, manusia mulia; ada manusia yang bermanfaat bagi sesama; manusia yang menempatkan dirinya sebagai pejuang penegak kebenaran dan penentang kemungkaran (QS 3: 110). Ilmu semacam ini hanya lahir dari guru dan murid yang beradab. Tidak heran, jika ribuan kitab tentang adab ilmu ini ditulis oleh para ulama.