Pesantren Wujudkan Generasi Santri Pejuang

oleh
Pesantren Wujudkan Generasi Santri Pejuang
Sosok Hadratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari

Jika guru harus beradab, ekstrim santri atau pelajar! Kyai Hasyim Asy’ari menjelaskan di antara adab yang harus dimiliki oleh santri adalah: senantiasa berusaha membersihkan hati dari berbagai hati, seperti kedengkian, akidah dan akhlah yang rusak, ikhlas dalam mencari ilmu untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan tidak keuntungan duniawi. Pelajar juga harus sabar atas kehidupan yang sederhana, mampu membagi waktu dengan baik, mengurangi makan dan minum, banyak tidur, pandai memilih teman yang baik, dan sebagainya.

Santri juga dinasehatkan oleh Kyai Hasyim Asy’ari untuk berhati-hati dalam memilih guru. Dalam hal ini perlu memohon petunjuk kepada allah, kepada siapa ia harus menimba ilmu dan mencari pembimbing akhlaknya. Pelajar pun diminta mentaati gurunya, laksana pasien mentaati nasehat dokternya. Pelajar tidak melupakan jasa dan keutamaan guru, sehingga ia perlu terus mendoakan gurunya, baik mencampur hidup atau memposting wafatnya.

Generasi Emas Santri!

Sejarah membuktikan, bahwa konsep Pendidikan berbasis adabritis yang diterapkan selama ratusan tahun di pondok-pondok pesantren, madrasah, dan berbagai lembaga pendidikan Islam di seluruh pelosok Nusantara. Dan memang, inilah sejatinya konsep pendidikan yang diterapkan pada masa Nabi Muhammad ﷺ, yang kemudian melahirkan generasi Sahabat Nabi, generasi Shalahuddin al-Ayyubi, mazhab Muhamamd al-Fatih, dan juga “Generasi Emas Santri” tahun 1945.

Dari pendidikan yang berporos pada proses “membersihkan jiwa” ( tazkiyyatun nafs ) inilah, lahir para pejuang yang gigih mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Sebutlah, misalnya, Syeikh Yusuf al-Maqassari (1627-1629M), yang tidak hanya mengajar dan menulis, tetapi juga memimpin perang di wilayah Jawa Barat. Syeikh Abd al-Shamad al-Falimbani (1704-1789), seorang ulama sufi dari Palembang, menulis kitab tentang keutamaan jihad fi-sabilillah: Nashihah al-Muslim wa-Tadzkirah al-mu’minin fi-Fadhail al-Jihad fi-Sabilillah wa-Karamah al-Mujahidin fi-Sabilillah.

Bahkan, diraih, para ulama tetap mengawal kemerdekaan Indonesia. Itu ditampilkan oleh kepahlawanan KH Hasyim Asy’ari dengan fatwa jihadnya, 22 Oktober 1945, yang menegaskan, bahwa mempertahankan Kemerdekaan Indonesia adalah Wajib bagi kaum muslimin Indonesia. Puluhan ribu kyai dan santri turun langsung dalam jihad fi sabilillah! Mereka tidak gentar menghadap ke tempur, tank, meriam dan bedil-bedil canggih tentara Eropa.

Fatwa jihad ini sangat dahsyat pengaruhnya. Seluruh kaum Muslimin menyokong. Koran Kedaulatan Rakjat, menurunkan judul berjudul: “ 60 Miljoen Kaoem Moeslimin Indonesia Siap Berjihad Fi Sabilillah!”

Ujungnya, meski didukung Perang Dunia Kedua, Belanda gagal menjajah kembali Indonesia. Salah satu jenderal Sekutu mati di Surabaya.

Jadi, terbukti, pesantren dunia di Indonesia pernah melahirkan satu “Generasi Emas Santri” yang memiliki tradisi ilmu dan perjuangan yang tinggi. Generasi santri seperti ini insyaAllah akan lahir kembali jika dunia Pesantren tetap teguh menjaga tradisi yang benar dan mampu secara global. Wallahu A’lam bish-shawab . *

Penulis pengasuh Pesantren di-Taqwa Depok-Jawa Barat. Dengan, tulisan ini pernah dimuat di Jurnal Republika, dan Hidayatullah dengan judul “Mewujudkan Generasi Santri Pejuang” Kamis, 18 Oktober 2018

COPYRIGHT © HIDAYATULLAH 2018